Gaza Tercabik dan Diamnya Para Pemimpin Dunia Islam 

Opini994 Views

Penulis: Kurnia Dwi Indah Lestari Kadir
| Komunitas Muslimah Rindu Jannah

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sejak 7 Oktober 2023, tentara pendudukan Israel (IDF) dengan dukungan penuh Amerika Serikat dan sebagian negara Eropa, melancarkan agresi brutal di Gaza. Rumah sakit, sekolah, rumah warga, hingga infrastruktur vital dijadikan sasaran serangan. Sementara itu, akses makanan, air bersih, bahan bakar, dan logistik dengan sengaja diblokade.

Menurut laporan lembaga Palestina dan internasional, hampir 60.000 jiwa telah gugur dan lebih dari 145.000 orang terluka akibat genosida yang terus berlangsung.

“Sistem distribusi ‘bantuan’ di Gaza saat ini merupakan jebakan kematian,” ungkap Dirjen Kementerian Kesehatan Gaza. Bantuan makanan yang diangkut ratusan truk justru ditahan di perbatasan hingga membusuk di kontainer. Kondisi ini membuat bayi-bayi di Gaza mengalami malnutrisi parah. Laporan Al Jazeera (29/7/2025) menggambarkan tubuh mungil mereka hanya tinggal kulit membungkus tulang.

Tak hanya warga sipil, para jurnalis juga menjadi target kebiadaban. Sejak agresi dimulai, lebih dari 274 jurnalis telah syahid, menjadikan tragedi ini sebagai genosida paling mematikan bagi insan pers dalam sejarah.

Peristiwa tragis terjadi pada 1 September 2025, ketika jurnalis Palestina Hani Abu Riziq bersama rekan-rekannya tengah mewawancarai seorang pengungsi. Tiba-tiba, tembakan zionis menghujani mereka. Padahal, konstitusi PBB secara tegas melarang penyerangan terhadap jurnalis.

Ironisnya, sebagian besar pemimpin negeri-negeri Muslim hanya sebatas melontarkan kecaman. “Kami mengutuk,” “Kami mengecam,” atau “Boikot produk Israel”—semua hanya berhenti pada retorika. Bagi zionis, kata-kata itu justru menjadi bahan ejekan.

Seperti pernah disampaikan Donald Trump, “Kami akan ratakan Palestina dan menjadikannya tanah bagi rakyat Israel.” Maka pertanyaan yang menggema: masihkah para pemimpin Muslim cukup dengan sekadar mengecam?

Sistem kapitalisme-sekularisme telah menjerat banyak pemimpin Muslim dalam penyakit wahn: cinta dunia dan takut mati. Mereka lebih memilih bertahan pada kekuasaan dan kemewahan, meski rakyat Palestina terus menjadi korban.

Sejarah mencatat, Khalifah Umar bin Khattab pernah mendapati rakyatnya kelaparan. Dengan pundaknya sendiri, Umar mengangkat gandum untuk diberikan kepada keluarga miskin. Tangisannya pecah di malam hari, merasa lalai pada rakyat yang hanya satu rumah saja menderita.

Bayangkan jika para pemimpin hari ini memiliki ketakutan yang sama akan azab Allah saat melihat rakyat tertindas. Sayangnya, pesta pora bersama musuh-musuh Allah justru lebih sering mereka pilih.

Tragedi Gaza adalah ujian sekaligus peringatan keras. Tidak ada cara lain untuk menghentikan kebrutalan zionis selain dengan jihad yang dipimpin oleh seorang khalifah. Hanya kepemimpinan Islam global di bawah satu komando yang mampu menyatukan umat, mengusir penjajah, dan menegakkan keadilan di bumi Palestina.

Hasbunallahu wa ni‘mal wakil, ni‘mal maula wa ni‘man nashir. Semoga umat Islam di seluruh dunia bersatu di bawah satu kepemimpinan global, sehingga syariat Allah tegak sebagai rahmat bagi seluruh alam.[]

Comment