by

Gempa Cianjur, Duka Kita Semua

-Opini-94 Views

 

 

Oleh : Mutiara Aini, Pegiat Literasi

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Anugerah dan bencana adalah kehendak-Nya. Kita mesti tabah menjalani. Hanya cambuk kecil agar kita sadar. Adalah Dia di atas segalanya, oh-oh. Adalah Dia di atas segalanya.

Sepenggal lagu “Untuk Kita Renungkan” mengingatkan kita bahwa musibah dan bencana yang terjadi di dunia ini, tidak lain hanya untuk membuat kita sadar akan dosa yang telah kita perbuat. Allah menginginkan kita agar sadar dan kembali bertaubat, dan memulai untuk berbuat baik, menjalankan semua perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Kini, Allah kembali menegur kita dengan musibah gempa yang berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang Jawa Barat, Senin (21/11) pukul 13.21 WIB, tepatnya di 10 km dari Barat Daya Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Setelah gempa pertama, dikabarkan gempa susulan terjadi dengan kekuatan 3,9 magnitudo pada hari ketiga pascagempa di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat,

BMKG seperti ditulis republika.co.id, (23/11/22) menyatakan gempa itu dirasakan di sejumlah wilayah Kabupaten Cianjur seperti Kecamatan Warungkondang, Cugenang, Ciherang, hingga Pacet. Hingga Rabu pagi, BMKG mencatat sudah ada 161 gempa susulan. Dengan adanya gempa susulan terbaru, maka kini ada lebih dari 161 gempa susulan di Kabupaten Cianjur.

Terus Berulang

Gempa yang terjadi bahkan berulang bukanlah sekadar fenomena alam. Namum di balik itu ada skenario Allah SWT sebagai Sang Khaliq. Wabah Covid-19, bencana banjir bandang, longsor atau musibah lain tentunya menjadi peristiwa yang tidak diinginkan oleh manusia.

Dari deretan peristiwa ini menimbulkan banyak pertanyaan. Apakah bencana terjadi karena dosa-dosa yang dilakukan manusia?

Ketahuilah bahwa setiap musibah yang datang menghampiri negeri ini, bisa jadi disebabkan karena dosa dan maksiat yang kita perbuat.

Betapa banyak kesyirikan dan tradisi yang membudaya yang berbau agama yang tidak ada tuntunan sama sekali dari Rosulullah.

Begitu juga perzinaan, perselingkuhan, kenakalan remaja, L613T kian marak di akhir-akhir ini. Ditambah lagi dengan sistem pemerintahan yang diterapkan saat ini. Di mana sistem ini mengusung kebebasan yang sebebas bebasnya tanpa memperdulikan halal haram. Dari itulah berbagai dosa dan maksiat seringkali diterjang. Sehingga Allah murka. Berbagai nikmat lenyap dan musibah tidak kunjung hilang.

Dampaknya yang luas hingga memakan korban jiwa membuat manusia was was. Bencana alam bertubi-tubi ini menandakan kekuasaan Allah yang begitu besar yang tidak mampu diubah, bahkan oleh seorang nabi sekalipun. Manusia tidak bisa memilih kapan dan di mana kejadian tersebut. Manusia hanya diminta untuk menerima keputusan Allah yang ditetapkan atasnya.

Kisah-kisah umat terdahulu yang dipaparkan Allah SWT dalam Al-Qur’an, seperti kaum Nabi Nuh As, ditenggelamkan melalui hujan tiada henti hingga menimbulkan banjir dan menewaskan semua makhluk di muka bumi, disebabkan karena mereka mendustakan ajaran Rasulnya.

Ulah dan kesombongan kaum Tsamud yang membusungkan dada dan  menentang datangnya azab, Allah berikan gempa dahsyat yang menewaskan mereka. Naudzubillahi min dzlik.

Siapakah yang harus disalahkan?

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Saatnya Merubah Diri

Dengan melihat peristiwa ini, sudah sepatutnya setiap hamba merenungkan dan bermuhasabah diri.  Sesungguhnya bencana merupakan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan kuasaNya.

Agar berbagai nikmat tidak sirna dan terlepas dari berbagai bencana atau musibah hendaklah setiap hamba bertaubat dengan sebenar-benar taubat, yakni taubatan nasuha, beramar ma’ruf nahi munkar. Implementasi  hukum-hukum Islam di semua lini kehidupan, berbagai nikmat pun akan datang menghampiri sebagaimana firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ro’du: 11). Wallahu àlam bishowwab.[]

Comment