by

Membentuk Karakter Siswa Beradab

-Opini-63 Views

 

 

Oleh: Angki Hardanika, S.Pd, Guru SMAN 1 Karang Bintang, Tanah Bumbu

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sebentar lagi siswa-siswi di seluruh Indonesia akan menjalani evaluasi akhir semester ganjil yang dilanjutkan dengan pembagian hasil belajar/rapor. Ini adalah sebuah momen yang ditunggu oleh para siswa serta orang tua. Karena dari rapor itulah hasil evaluasi diri dalam prespektif akademis siswa ketika menuntut ilmu di sekolah dapat diketahui.

Siswa yang mendapatkan peringkat akan menjadi kebanggaan orang tuanya. Bahkan mampu mengubah status sosial di masyarakat karena memilki kemampuan lebih dibanding teman-teman sebayanya.

Berbeda dengan siswa yang mendapatkan ranking di atas 10 besar, siswa dalam ruang lingkup ini cenderung diangap memiliki kemampuan yang kurang baik. Sehingga beberapa orang, bahkan tidak sedikit guru memandangnya sebelah mata.

Padahal rapor hanyalah laporan hasil belajar akademis, bukan refleksi nilai luhur seorang anak di masyarakat. Siswa yang mememiliki prestasi akademis cemerlang bukan jaminan memiliki adab yang baik. Begitu pun sebaliknya, siswa yang memiliki prestasi akademis kurang bagus tidak berarti memiliki adab yang tidak baik.

Maka sudah selayaknya orang tua siswa, tidak berkecil hati apabila memiliki anak yang prestasi akademisnya di bawah rata-rata. Karena itu bukan satu-satunya tolok ukur untuk menilai seorang anak.

Sejatinya setiap anak baik dan istimewa. Namun kadang belum tampak karena belum digali secara mendalam. Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Anak yang tidak menonjol dalam bidang akademik bisa jadi menonjol di bidang nonakademis. Tugas guru dan orang tua untuk menggali dan memupuk potensinya agar bisa berkembang secara maksimal. Sehingga mereka tumbuh menjadi generasi unggul sesuai potensi masing-masing.

Orang bijak mengatakan ‘adab lebih tinggi dari pada ilmu’. Kata-kata ini sering menjadi inspirasi dan motivasi dalam upaya mendidik anak-anak- agar para pendidik tidak hanya fokus mengajarkan materi akademis namun juga mengajarkan akhlak yang baik. Ilmu saja tanpa dibarengi adab atau akhlak sangat berbahaya.

Hal ini tentu memerlukan kerja sama yang baik dengan orang tua sebagai pendidik pertama dan utama di rumah.

Anak merupakan mahluk sosial yang tidak luput dari komunikasi dan interaksi dengan masyarakat lain. Maka penanaman akhlak pada anak akan membantu bersosialisasi dengan lingkungan, baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Memiliki siswa yang beradab bisa diwujudkan dengan beberapa cara. Pertama, perlu kerjasama dengan lingkungan anak didik. Karena lingkungan inilah yang berperan penting dalam upaya membentuk karakteristik anak. Lingkungan paling utama yang membentuk karakter anak didik adalah keluarga. Karena mayoritas waktu dalam fase kehidupan anak dihabiskan dalam lingkungan keluarga. Sebagai role model bagi anak-anak, peran orang tua dalam lingkungan ini sangat besar,

Kedua, lingkungan sekolah. Anak anakĀ  menghabiskan waktunya di sekolah dalam proses belajar mengajar. Guru memiliki peran sentral pada proses belajar mengajar. Guru membantu siswa untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahui dan untuk memahami apa yang belum dipahami.

Jika siswa belum bisa memahami sikap yang dapat membangun akhlak mereka, maka guru lah yang mendampingi mereka dalam proses penanaman akhlak yang baik. Mulai dari segi kepribadian (perilaku) maupun dari segi keilmuan yang dimilikinya.

Ketiga, lingkungan masyarakat.
Lingkungan ini juga sangat mempengaruhi karakter anak. Lingkungan yang baik dapat membentuk karakter anak menjadi baik begitu pula sebaliknya, lingkungan yang kurang baik dapat membentuk karakter kurang baik pada anak. Sehingga orang tua sejatinya memilih lingkungan yang baik agar perkembangan karakter anak menjadi baik. Selain itu dibutuhkan pengawasan orang tua dan guru di sekolah. Ini sangat penting, karena bisa meminimalisir dampak negatif yang berasal dari lingkungan.

Salah satu tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantoro memiliki semboyan yang bagus terkait proses penanaman karakter, “Tut Wuri Handayani, Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso”.

Bila semboyan ini diadopsi dengan benar dan tepat maka akan mencetak dan melahirkan generasi emas.

Ing ngarso sung tulodho memiliki arti seorang guru yang harus mampu memberikan contoh baik kepada siswanya. Menurut ilmu psikologi, siswa adalah manusia yang setiap tahap perkembangannya melakukan imitasi dan duplikasi terhadap seseorang yang dikagumi atau dianggap baik di lingkungan sekitarnya. Seorang guru yang memiliki adab baik akan menjadi contoh bagi para siswa dan secara tidak langsung membentuk karakter siswa yang beradab sesuai perilaku guru tersebut.

Ing Madyo Mangun Karso, seorang guru di tengah kesibukannya juga harus mampu membangkitkan atau menggugah semangat. Memperhatikan setiap siswa di sekolah tanpa membedakan latar belakang atau unsur lainnya. Sehingga setiap siswa merasa dirangkul dan diperhatikan. Hal ini akan mempermudah pembentukan adab yang baik terhadap siswa tersebut.

Tut Wuri Handayani, seorang guru harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dengan demikian siswa akan merasa dihargai dan mendapatkan motivasi, sehingga terjalin relasi yang baik antara guru dan siswa. Seorang guru tidak boleh memandang rendah atau memandang sebelah mata siswa yang bermasalah. Sebaiknya mampu memberikan motivasi dan dukungan. Sehingga anak didik bisa tumbuh sehat baik fisik maupun psikisnya.

Menanamkan karakter yang baik memang tidak semudah membalik telapak tangan. Semua perlu proses berkesinambungan dan kerjasama yang baik dengan berbagai pihak. NamunĀ  harus diyakini bahwa kita bisa mencetak generasi unggul yang berakhlak mulia asal kita bersabar dalam prosesnya.[]

Comment