Gempa Magnitudo 7,8 Guncang Filipina Selatan, Sedikitnya 32 Orang Tewas

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sedikitnya 32 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 130 orang mengalami luka-luka setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 mengguncang wilayah selatan Filipina pada Senin (8/6)2026).

Gempa yang berpusat di lepas pantai Provinsi Sarangani, Pulau Mindanao, itu juga memicu peringatan tsunami di sejumlah negara kawasan Pasifik, termasuk Indonesia, sebelum akhirnya dicabut beberapa jam kemudian.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Indonesia News dari berbagai sumber resmi dan media internasional, gempa terjadi pada kedalaman relatif dangkal sehingga menimbulkan guncangan kuat di sejumlah wilayah Mindanao. Kota General Santos, Sarangani, Davao Occidental, dan beberapa daerah di sekitarnya dilaporkan mengalami dampak paling signifikan.

Otoritas Filipina melalui Dewan Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana (NDRRMC) menyatakan jumlah korban masih bersifat sementara. Tim penyelamat hingga kini terus melakukan pencarian di sejumlah lokasi yang terdampak runtuhan bangunan dan longsor.

Sejumlah media internasional, termasuk Reuters, melaporkan sedikitnya 32 orang meninggal dunia dan 134 lainnya mengalami luka-luka akibat bencana tersebut.

Selain korban jiwa, gempa menyebabkan kerusakan pada rumah warga, sekolah, pusat perbelanjaan, jalan, serta fasilitas publik lainnya. Pasokan listrik dan jaringan komunikasi sempat terganggu di beberapa wilayah yang berada dekat pusat gempa.
Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan kepanikan warga saat guncangan terjadi.

Dalam sejumlah video, terlihat masyarakat berlarian menuju area terbuka untuk menghindari bangunan yang berpotensi roboh. Beberapa bangunan bertingkat juga tampak mengalami kerusakan pada bagian dinding dan struktur bangunan.

Peristiwa ini terjadi bertepatan dengan hari pertama masuk sekolah di sejumlah wilayah Filipina. Kondisi tersebut membuat ribuan siswa dan guru harus dievakuasi secara darurat ketika gempa mengguncang ruang kelas.

Pemerintah setempat kemudian menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar di daerah terdampak guna memastikan keamanan bangunan sekolah.

Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., menginstruksikan seluruh instansi terkait untuk mempercepat proses evakuasi, penanganan korban, serta distribusi bantuan kemanusiaan. Pemerintah juga membuka sejumlah pusat pengungsian untuk menampung warga yang rumahnya rusak atau berada di kawasan rawan gempa susulan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa gempa tersebut dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng di kawasan selatan Filipina. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyebut gempa memiliki mekanisme sesar naik (thrust fault) yang umum terjadi di zona pertemuan lempeng tektonik.

BMKG juga mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah Indonesia bagian timur setelah gempa terjadi. Beberapa titik pengamatan mencatat kenaikan muka air laut, namun tidak mencapai level yang membahayakan.

Setelah dilakukan pemantauan lanjutan, BMKG akhirnya mengakhiri peringatan dini tsunami dan menyatakan kondisi perairan kembali normal.

Getaran gempa dilaporkan turut dirasakan masyarakat di Sulawesi Utara, terutama wilayah Manado, Kepulauan Sangihe, dan Talaud. Sejumlah gempa susulan juga tercatat terjadi di sekitar kawasan Mindanao pascagempa utama.

Secara geologis, Filipina berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, yakni jalur yang mengelilingi Samudra Pasifik dan dikenal sebagai salah satu wilayah dengan aktivitas gempa bumi dan vulkanik tertinggi di dunia.

Kondisi tersebut menyebabkan negara kepulauan itu kerap mengalami gempa berkekuatan besar yang berpotensi menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur.

Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian dan evakuasi korban masih berlangsung. Otoritas Filipina memperkirakan jumlah korban dan tingkat kerusakan masih dapat bertambah seiring masuknya laporan dari daerah-daerah yang sebelumnya sulit dijangkau tim penyelamat.[]

Comment