Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi, Titik Balik Generasi Menuju Perubahan Hakiki

Opini33 Views

Penulis: Puput Hariyani, S.Si | Bussines Woman

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Generasi Z kerap disebut sebagai generasi paling adaptif terhadap perkembangan teknologi. Namun di balik kemampuan mereka menguasai dunia digital, tersimpan kenyataan yang tidak bisa diabaikan: mereka juga menjadi generasi yang paling rentan mengalami kecemasan dan gangguan kesehatan mental.

Berbagai survei menunjukkan bahwa mayoritas Gen Z di Indonesia mengaku cemas terhadap masa depan. Tekanan ekonomi, ketidakpastian karier, persaingan yang semakin ketat, derasnya arus media sosial, hingga tuntutan untuk selalu terlihat sukses menjadi faktor yang memperberat kondisi psikologis mereka.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi persoalan global ketika jutaan anak muda menghadapi sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak dan kepastian masa depan.

Kondisi ini bukan sekadar persoalan mental individu. Kecemasan yang dialami Gen Z merupakan gejala dari krisis multidimensi yang sedang melanda dunia. Krisis ekonomi, ketidakstabilan sosial, perubahan budaya yang sangat cepat, hingga pola hidup yang semakin individualistik telah membentuk lingkungan yang tidak ramah bagi perkembangan generasi muda.

Di sisi lain, perkembangan peradaban yang berorientasi pada sekularisme dan kapitalisme mendorong manusia mengukur nilai dirinya berdasarkan pencapaian materi, popularitas, dan pengakuan publik.

Media sosial memperkuat standar-standar tersebut sehingga banyak anak muda merasa tertinggal ketika membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Akibatnya, potensi besar yang seharusnya menjadi modal perubahan justru terkikis oleh rasa tidak percaya diri, kecemasan, bahkan kehilangan arah hidup.

Ironisnya, negara juga belum sepenuhnya hadir sebagai pelindung generasi. Persoalan kesehatan mental, pendidikan, lapangan pekerjaan, hingga jaminan kesejahteraan masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.

Alih-alih mendapat ruang untuk bertumbuh, tidak sedikit Gen Z justru menerima stigma sebagai generasi yang dianggap lemah, manja, tidak tahan tekanan, atau terlalu banyak mengeluh. Padahal setiap generasi lahir dan tumbuh dalam tantangan zamannya masing-masing.

Namun, saya percaya bahwa di balik meningkatnya kecemasan tersebut sedang tumbuh sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu resistensi. Semakin banyak anak muda yang mulai mempertanyakan sistem yang selama ini dianggap normal.

Mereka lebih berani bersuara, lebih kritis terhadap ketimpangan, lebih peduli terhadap isu sosial, serta mulai mencari makna hidup yang tidak semata-mata diukur oleh materi.

Resistensi inilah yang berpotensi menjadi titik balik kebangkitan Gen Z. Ketika kegelisahan diarahkan menjadi kesadaran, dan kesadaran berubah menjadi aksi nyata, maka generasi ini dapat menjadi motor perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Dalam pandangan saya sebagai seorang muslim, perubahan tersebut membutuhkan fondasi yang kokoh. Islam hadir bukan hanya sebagai ajaran ibadah ritual, tetapi juga sebagai pedoman hidup yang memberikan ketenangan, keadilan, dan arah bagi manusia.

Nilai-nilai Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, antara hak individu dan tanggung jawab sosial, serta antara pencapaian materi dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Sejarah juga menunjukkan bahwa pada masa kejayaan peradaban Islam lahir generasi muda yang memiliki kepribadian Islam yang kuat sekaligus unggul dalam berbagai disiplin ilmu.

Mereka bukan hanya ahli dalam bidang agama, tetapi juga berkontribusi besar dalam ilmu kedokteran, matematika, astronomi, teknik, ekonomi, hingga pemerintahan. Karakter tersebut lahir dari sistem pendidikan dan tata kelola masyarakat yang membentuk manusia berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab.

Dalam perspektif Islam, negara juga memiliki fungsi sebagai pelindung dan pelayan rakyat. Pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, keadilan hukum, pendidikan, keamanan, serta kesejahteraan merupakan amanah yang harus dijalankan agar setiap individu memiliki kesempatan berkembang secara optimal. Kehadiran negara yang menjalankan fungsi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang tangguh.

Karena itu, menurut saya, tantangan terbesar Gen Z hari ini bukan hanya bagaimana mengatasi kecemasan, tetapi bagaimana mengubah kecemasan menjadi energi perubahan.

Generasi muda perlu membangun kembali jati dirinya, memperkuat keimanan, meningkatkan kapasitas diri, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan umat dan masyarakat.

Dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman hidup dan memperjuangkan kebaikan bersama, harapan tentang masa depan yang lebih baik tidak lagi sekadar menjadi impian.

Gen Z bukanlah generasi yang lemah. Mereka adalah generasi yang sedang diuji oleh zaman. Jika mampu mengubah depresi menjadi resistensi, lalu mengarahkan resistensi menjadi perubahan yang berlandaskan nilai-nilai kebenaran, maka mereka memiliki peluang besar untuk menjadi generasi yang membangun peradaban yang lebih adil, bermartabat, dan membawa rahmat bagi seluruh manusia.

Tentunya dengan mengaktifkan alarm kepedulian terhadap kondisi umat, bersemangat mengkaji berbagai persoalan yang sedang dihadapi berikut alternatif solusi Islam sebagai way of life. Wallahu’alam bi ash-showab.[]

Comment