Gen Z: Dari Generasi Cemas Menuju Generasi Emas

Opini15 Views

Penulis: Rizki Utami Handayani, Amd.Keb., S.ST | Pengajar Cinta Quran Center

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Generasi Z kerap disebut sebagai generasi yang paling cemas dalam sejarah modern. Berbagai survei menunjukkan tingginya angka kecemasan, stres, dan gangguan kesehatan mental di kalangan anak muda.

Di Indonesia, mayoritas Gen Z mengaku cemas terhadap masa depan, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga kemampuan memenuhi kebutuhan hidup. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi gejala global.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, persaingan kerja yang ketat, serta derasnya arus informasi di media sosial, banyak anak muda merasa hidup dalam tekanan yang tidak berkesudahan.

Beragam faktor menjadi pemicu kondisi tersebut. Media sosial menghadirkan standar kesuksesan yang sering kali tidak realistis, sehingga memunculkan perasaan tertinggal dan rendah diri.

Di sisi lain, tingginya biaya hidup, sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak, dan ketidakpastian masa depan menambah beban psikologis generasi muda. Tidak mengherankan jika banyak Gen Z mengalami kecemasan, kehilangan motivasi, bahkan mengalami burnout pada usia yang relatif muda.

Namun, di balik kecemasan tersebut muncul fenomena menarik, yaitu tumbuhnya sikap kritis dan resistensi di kalangan Gen Z. Mereka tidak lagi menerima begitu saja berbagai kondisi yang dianggap tidak adil.

Banyak anak muda mulai mempertanyakan sistem kerja yang eksploitatif, ketimpangan ekonomi yang semakin lebar, kerusakan lingkungan, hingga berbagai kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.

Mereka juga semakin aktif menyuarakan kepedulian terhadap isu-isu sosial dan kemanusiaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kecemasan tidak selalu berakhir pada keputusasaan. Sebaliknya, kecemasan dapat menjadi titik awal lahirnya kesadaran untuk melakukan perubahan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa akar persoalan yang dihadapi Gen Z sesungguhnya bukan semata masalah individu. Krisis yang mereka alami merupakan bagian dari krisis multidimensi yang melanda dunia saat ini.

Sistem kehidupan sekuler-kapitalistik telah melahirkan berbagai persoalan, mulai dari kesenjangan ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, hingga krisis identitas dan makna hidup.

Potensi besar yang dimiliki generasi muda sering kali dilemahkan oleh budaya materialisme, hedonisme, dan individualisme yang mengikis jati diri mereka.

Di saat yang sama, negara sering kali belum optimal dalam menjalankan fungsi perlindungan dan pembinaan terhadap generasi. Alih-alih dirangkul dan diberdayakan, tidak sedikit anak muda justru mendapat stigma negatif sebagai generasi yang lemah, manja, atau tidak tahan menghadapi tekanan hidup.

Dalam perspektif Islam, kegelisahan yang dirasakan Gen Z dapat menjadi momentum kebangkitan. Islam tidak hanya menawarkan ketenangan spiritual, tetapi juga memberikan solusi menyeluruh atas berbagai krisis yang dihadapi manusia.

Sejarah membuktikan bahwa generasi muda pada masa kejayaan Islam tumbuh menjadi generasi yang kuat akidahnya, kokoh kepribadiannya, serta unggul dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Mereka tidak hanya memiliki tujuan hidup yang jelas, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap umat dan peradaban.

Di tengah berbagai tekanan hidup yang dihadapi generasi muda, penguatan mental tidak cukup hanya dilakukan melalui pengembangan keterampilan, motivasi, atau pencapaian akademik.

Islam mengajarkan pentingnya tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), yaitu proses membersihkan hati dari berbagai penyakit seperti putus asa, iri hati, cinta dunia berlebihan, dan ketergantungan kepada selain Allah, sekaligus menghiasinya dengan keimanan, kesabaran, syukur, dan tawakal.

Melalui tazkiyatun nafs, seorang pemuda tidak hanya memiliki ketahanan menghadapi ujian hidup, tetapi juga mampu menemukan makna dan tujuan hidup yang benar. Inilah yang menjadikan generasi sahabat tetap kokoh menghadapi berbagai kesulitan, karena kekuatan mereka tidak hanya dibangun oleh kecerdasan intelektual, melainkan juga oleh kejernihan jiwa dan kedekatan mereka kepada Allah SWT.

Karena itu, yang dibutuhkan generasi muda hari ini bukan sekadar motivasi atau hiburan sesaat, melainkan arah hidup yang benar. Dengan memahami Islam sebagai panduan hidup yang menyeluruh, Gen Z dapat mengubah kecemasan menjadi kesadaran, dan kesadaran menjadi energi perubahan.

Masa depan yang lebih baik tidak akan terwujud hanya dengan mengeluh terhadap keadaan, tetapi dengan membangun generasi yang beriman, berilmu, dan peduli terhadap nasib umat. Dari sinilah generasi cemas dapat bertransformasi menjadi generasi perubahan yang membawa harapan bagi masa depan.

Dalam pandangan Islam, pemuda bukan sekadar kelompok usia, melainkan kekuatan perubahan yang menentukan arah peradaban. Prof. Dr. Majid Irsan al-Kilani menekankan bahwa kebangkitan umat tidak pernah lahir dari perubahan individu yang terpisah dari lingkungan pembentuknya.

Dalam kajiannya tentang generasi sahabat, ia menjelaskan bahwa keberhasilan generasi awal Islam bukanlah hasil dari kemunculan satu tokoh hebat semata, melainkan hasil pembentukan satu generasi yang memiliki akidah yang kokoh, visi hidup yang jelas, dan kesiapan berkorban demi cita-cita Islam.

Rasulullah ﷺ tidak hanya mencetak pemuda pemberani seperti Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair, atau Usamah bin Zaid, tetapi juga membina para ibu yang melahirkan generasi pejuang, para ulama yang mengajarkan ilmu, para ayah yang mendidik keluarga, serta masyarakat dan negara yang menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan.

Karena itu, perubahan besar dalam Islam tidak dibangun di atas kultus individu atau harapan pada satu figur penyelamat, melainkan melalui lahirnya generasi yang secara kolektif memiliki kepribadian Islam dan kesadaran terhadap misi peradaban.

Di tengah berbagai kecemasan yang melanda Gen Z hari ini, pelajaran dari generasi sahabat menunjukkan bahwa pemuda dapat menjadi motor perubahan apabila dibina dengan akidah yang benar, didukung oleh keluarga yang kuat, diarahkan oleh ulama yang lurus, dan ditopang oleh sistem kehidupan yang menjadikan Islam sebagai pedoman.

Dengan sinergi seluruh elemen inilah lahir generasi yang tidak hanya mampu keluar dari krisis, tetapi juga memimpin perubahan menuju kebangkitan umat.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa Islam adalah qiyādah fikriyyah (kepemimpinan berpikir), yaitu akidah yang menjadi landasan dalam memandang dan menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan.

Karena itu, kebangkitan generasi tidak cukup dengan motivasi atau penguatan mental semata, tetapi harus dibangun di atas pemikiran Islam yang sahih. Inilah yang dicontohkan Rasulullah ﷺ ketika membina generasi sahabat, sehingga lahir pemuda, ibu, ulama, dan masyarakat yang memiliki visi yang sama dalam mengemban risalah Islam.

Dengan menjadikan Islam sebagai qiyādah fikriyyah, generasi muda tidak hanya mampu keluar dari kecemasan, tetapi juga menjadi motor perubahan menuju peradaban yang lebih baik.

Islam tidak datang untuk mengekang kebebasan manusia, melainkan untuk mengarahkan kebebasan tersebut agar tidak dikuasai hawa nafsu. Sebab, ketika hawa nafsu menjadi pedoman hidup, manusia akan mudah tersesat dan kehilangan arah, sebagaimana peringatan Allah dalam QS. Al-Jatsiyah ayat 23.

Karena itu, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa kesempurnaan iman terwujud ketika hawa nafsu tunduk kepada petunjuk yang beliau bawa. Agama tidak hadir untuk mengekang manusia, tetapi menjadi kompas yang menuntun arah hidup agar hawa nafsu tidak mengambil alih kendali. Wallahu’alam bishowab.[]

Comment