Gen Z: Di Tengah Kontroversi dan Potensi

Opini89 Views

Penulis: Irohima | Guru

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Berbicara tentang Generasi Z kerap terasa seperti mengikuti serial panjang penuh kejutan. Di satu sisi, mereka sering menuai kontroversi. Namun di sisi lain, Gen Z menyimpan kreativitas dan potensi besar yang bisa menjadi kekuatan perubahan, jika diarahkan pada jalan yang benar.

Gen Z adalah generasi yang lahir dan tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Internet, smartphone, dan media sosial bukan lagi sekadar alat, melainkan bagian alamiah dari kehidupan sehari-hari.

Mereka terbiasa menggunakan teknologi untuk berkomunikasi, mencari informasi, hingga membangun jejaring sosial. Tak heran jika pesan instan dan media sosial lebih mereka pilih ketimbang komunikasi tatap muka.

Perkembangan teknologi digital kemudian melahirkan beragam platform yang menjadi ruang ekspresi Gen Z. Media sosial seperti TikTok, X, dan Instagram menawarkan kebebasan mengekspresikan identitas, minat, serta pandangan hidup.

Namun, kebebasan itu sering kali dibayar mahal dengan tekanan sosial yang tak kasat mata.

Luasnya ruang ekspresi di media sosial kerap berubah menjadi arena kompetisi simbolik. Standar kecantikan, gaya hidup mewah, dan tuntutan tampil sempurna diproduksi secara masif.

Nilai-nilai sekuler kapitalistik mendominasi ruang digital, menciptakan ilusi kesuksesan yang diukur dari popularitas dan citra semata.

Seperti diberitakan DetikNews (21/04/2025), algoritma media sosial bekerja berdasarkan kebiasaan pengguna, bukan pada manfaat atau nilai moral. Akibatnya, indikator seperti jumlah like, komentar, views, dan followers sering dijadikan tolok ukur keberhasilan personal branding.

Dalam situasi ini, batas antara baik dan buruk, layak dan tidak layak, kerap diabaikan demi mengejar validasi sosial.
Tak jarang, Gen Z kemudian dicap sebagai generasi lemah, rentan krisis kesehatan mental, dan mudah terombang-ambing tren.

Padahal, di balik itu tersimpan potensi besar. Gen Z memiliki daya kritis yang tinggi, cepat belajar, serta mampu memanfaatkan media sosial untuk menginisiasi perubahan. Mereka cenderung inklusif dan progresif, terbuka terhadap perbedaan, serta berani mempertanyakan kebenaran yang mapan.

Karakter pergerakan Gen Z juga cenderung pragmatis—fokus pada hasil dan tujuan yang ingin dicapai. Namun, dalam banyak kasus, mereka masih bergantung pada validasi dan pengakuan sosial. Di sinilah tantangan besar itu berada – potensi besar yang belum sepenuhnya menemukan arah ideologisnya.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Gen Z sesungguhnya perlu diselamatkan dari hegemoni ruang digital yang sekuler kapitalistik.

Perubahan tidak cukup hanya pada aspek teknis atau moral individual, tetapi harus menyentuh paradigma berpikir. Pergeseran dari cara pandang sekuler menuju paradigma berpikir Islami menjadi kunci utama.

Kemampuan Gen Z dalam mempertanyakan dan mencari kebenaran perlu diarahkan agar sampai pada kebenaran yang hakiki, yakni Islam.

Dengan fondasi pemikiran Islam, pergerakan mereka tidak lagi berhenti pada solusi pragmatis jangka pendek, tetapi mampu menawarkan solusi sistemis dan ideologis.

Jika Gen Z telah memiliki pemikiran Islam yang kokoh, maka energi, kreativitas, dan keberanian mereka akan terfokus pada tujuan besar –  mengembalikan kehidupan Islam dan membangun peradaban yang bermartabat.

Pada titik itulah, Gen Z bukan lagi sekadar generasi penuh kontroversi, melainkan generasi pembangun masa depan. Wallahu a’lam bis shawab.[]

Comment