Gen Z di Tengah Krisis: Ekonomi Menipis, Hedonisme Meningkat, Makna Hidup Terkikis

Opini1791 Views

Penulis: Vie Dihardjo | Guru BK

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Generasi Z atau Gen Z tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi, internet, media sosial, kecerdasan buatan, serta berbagai kemudahan digital.

Namun, di balik kehidupan yang tampak terkoneksi dan penuh peluang, generasi ini menghadapi persoalan yang tidak sederhana: tekanan ekonomi, sulitnya memasuki dunia kerja, tuntutan gaya hidup, hingga persoalan kesehatan mental dan krisis makna kehidupan.

Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) berdasarkan kelompok umur didominasi usia 15–19 tahun sebesar 23,34 persen dan usia 20–24 tahun sebesar 24,35 persen. Sementara kelompok usia 25–29 tahun mencapai 6,67 persen.

Persoalan tersebut berkelindan dengan kondisi kesehatan mental. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Kementerian Kesehatan pada 2023 menunjukkan prevalensi depresi tertinggi terdapat pada kelompok usia 15–24 tahun, yakni sebesar 2 persen. Ironisnya, hanya 10,4 persen anak muda yang mengalami depresi mencari pengobatan.

Angka ini menunjukkan adanya kesenjangan antara mereka yang mengalami persoalan kesehatan mental dan mereka yang memperoleh pertolongan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan Gen Z tidak selalu seindah yang tampak di layar.

Di balik unggahan tentang kesuksesan, perjalanan, kuliner, dan gaya hidup, terdapat generasi yang harus berhadapan dengan ketidakpastian ekonomi dan tekanan sosial yang semakin kompleks.

Ekonomi Menipis, Ketika Masa Depan Terasa Mahal

Mengutip data BPS, tingkat pengangguran terbuka secara nasional pada Februari 2026 mencapai 4,68 persen. Pada periode yang sama, rata-rata upah buruh tercatat sekitar Rp3,29 juta per bulan.

Persoalan ketahanan finansial Gen Z pun menjadi perhatian. Survei Sun Life Indonesia pada 2025 menunjukkan hanya 49 persen Gen Z yang merasa aman secara finansial. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan generasi milenial dan baby boomer.

Wajah ekonomi yang dihadapi generasi muda hari ini memang tidak mudah. Persaingan semakin ketat, kebutuhan terus bertambah, sementara masa depan dipenuhi ketidakpastian.

Bagi Gen Z yang baru memasuki dunia kerja, penghasilan harus berhadapan dengan biaya transportasi, tempat tinggal, pendidikan, komunikasi, teknologi, hingga kebutuhan untuk terus meningkatkan kompetensi. Akhirnya, masa depan terasa seperti sesuatu yang mahal.

Di satu sisi, Gen Z dituntut menjadi generasi yang mandiri. Namun di sisi lain, mendapatkan pekerjaan layak untuk memenuhi kebutuhan dasar saja tidak selalu mudah.

Persoalan tersebut tidak dapat dilepaskan dari sistem ekonomi kapitalistik yang menempatkan manusia dalam mekanisme pasar. Pendidikan diarahkan untuk menghasilkan tenaga kerja yang kompetitif, sedangkan keberhasilan ekonomi kerap diukur berdasarkan kemampuan seseorang memasuki pasar kerja dan meningkatkan pendapatan.

Ketika pasar tidak mampu menyerap tenaga kerja secara optimal, individu akhirnya menanggung konsekuensinya. Ironisnya, ketika kondisi ekonomi semakin menekan, Gen Z justru dibombardir dengan gaya hidup konsumtif.

Media sosial menawarkan berbagai gambaran tentang kehidupan yang dianggap ideal: barang terbaru, tempat nongkrong populer, liburan, kuliner, fesyen, hingga berbagai bentuk self reward.

Hedonisme Makin Miris, Ketika Pelarian Menjadi Gaya Hidup

Gempuran gaya hidup ideal yang ditampilkan media sosial perlahan dapat menjadi pelarian dari tekanan kehidupan. Pendapatan semakin terbatas, tetapi standar untuk terlihat bahagia justru semakin tinggi.

Bagi sebagian Gen Z, media sosial bukan lagi sekadar ruang komunikasi. Ia telah berubah menjadi salah satu ukuran bagaimana seseorang menikmati dan menampilkan kehidupan.

Dari sinilah muncul fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yakni rasa takut tertinggal dari tren, pengalaman, atau gaya hidup yang dilakukan orang lain.

Budaya konsumtif bekerja secara halus. Keinginan terus diciptakan dan dikemas seolah-olah merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi. Mengejar kesenangan dan kepuasan diri kemudian mendorong seseorang melakukan konsumsi secara berlebihan.

Dalam konteks Gen Z, iklan, influencer, tren digital, dan FOMO semakin memperkuat budaya tersebut. Konsumsi tidak lagi sekadar untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga menjadi sarana memperoleh kesenangan, membangun identitas, dan mendapatkan validasi sosial.

Budaya semacam ini tumbuh subur dalam sistem kapitalistik. Sistem tersebut tidak hanya memproduksi barang, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang terus mengonsumsi.

Berbagai industri berlomba menjadikan kesenangan, pengalaman, penampilan, bahkan emosi sebagai komoditas. Identitas seseorang pun dapat dibentuk melalui merek dan barang yang dikenakannya.

Ketika manusia terus didorong mencari kebahagiaan melalui konsumsi, muncul pertanyaan mendasar – sampai kapan kebahagiaan harus dibeli?

Makna Hidup Terkikis, Ketika Bahagia Hanya Diukur dari Dunia

Jika kebahagiaan diukur dari kepemilikan barang, pengakuan orang lain, jumlah pengikut di media sosial, penampilan sukses, atau banyaknya kesenangan yang diperoleh, manusia sebenarnya sedang mengejar sesuatu yang tidak pernah selesai.
Hari ini menginginkan gawai baru, besok kendaraan baru.

Setelah itu ingin berlibur, mengejar popularitas, kemudian kembali mengejar sesuatu yang lain. Keinginan terus bertambah karena standar kebahagiaan juga terus berubah.

Manusia akhirnya memiliki banyak pilihan, tetapi kehilangan arah. Padahal, Islam memberikan arah yang jelas mengenai tujuan hidup manusia.

Allah SWT berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Ayat tersebut mengubah cara pandang manusia terhadap kehidupan. Hidup bukan semata-mata mengejar pekerjaan, gaji, popularitas, kenyamanan, dan kesenangan duniawi. Kehidupan memiliki tujuan yang lebih besar, yakni beribadah kepada Allah SWT.

Karena itu, tidak cukup membekali Gen Z hanya dengan financial literacy, self-love, personal branding, atau mental resilience. Gen Z juga membutuhkan pendidikan yang membangun ketakwaan, karakter, kompetensi, kemandirian, sekaligus pemahaman tentang tujuan hidup.

Potensi Gen Z Membutuhkan Arah yang Benar

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 31: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Ayat tersebut mengajarkan pentingnya keseimbangan. Gen Z membutuhkan kehidupan yang produktif tanpa menjadi materialistis, menikmati dunia tanpa diperbudak olehnya, serta bekerja keras tanpa kehilangan orientasi akhirat.

Gen Z memiliki potensi besar. Mereka kreatif, berani mencoba hal baru, adaptif terhadap teknologi, dan memiliki kemampuan menjadi pelopor perubahan.
Namun, potensi membutuhkan arah. Sebab, potensi tanpa arah dapat kehilangan makna.

Kemampuan teknologi tanpa arah dapat berubah menjadi arena mengejar popularitas. Kreativitas tanpa arah dapat terseret arus tren. Kebebasan tanpa kendali dapat berubah menjadi perilaku tanpa batas.

Karena itu, Gen Z tidak hanya membutuhkan keterampilan dan kompetensi. Mereka membutuhkan kompas kehidupan untuk menjawab pertanyaan mendasar: Siapa manusia? Untuk apa manusia hidup? Ke mana manusia akan pergi setelah kehidupan berakhir?

Dalam perspektif Islam, akidah menjadi dasar dalam menjawab pertanyaan tersebut.

Dengan Islam sebagai arah kehidupan, Gen Z dapat memandang ilmu sebagai amanah, pekerjaan sebagai bentuk tanggung jawab, harta sebagai sarana, teknologi sebagai alat untuk menghadirkan kemaslahatan, dan kesuksesan sebagai sesuatu yang tidak berhenti pada pencapaian duniawi.

Negara Harus Menciptakan Ruang bagi Generasi Muda

Persoalan Gen Z tidak cukup diselesaikan dengan menuntut mereka meningkatkan keterampilan dan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Negara juga memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan dan kesempatan agar potensi generasi muda dapat tumbuh dan memberikan manfaat.

Kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan harus dapat diakses secara mudah dan terjangkau. Dengan demikian, Gen Z tidak terus-menerus berada dalam tekanan untuk sekadar bertahan hidup.

Pendidikan pun tidak semestinya hanya diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja.

Pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang memiliki kepribadian, ilmu, akhlak, keterampilan, serta visi kehidupan.
Dengan begitu, generasi muda tidak hanya mengetahui bagaimana meraih kesuksesan, tetapi juga memahami untuk apa kesuksesan tersebut digunakan.

Negara juga memiliki peran dalam mengelola sumber daya alam untuk kemaslahatan masyarakat. Hasil pengelolaan tersebut semestinya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat dan membuka ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk bekerja, berkarya, dan mengembangkan potensinya.

Gen Z tidak boleh hanya dipandang sebagai tenaga kerja yang siap mengisi pasar atau konsumen yang terus membeli produk. Mereka adalah generasi yang memiliki potensi besar untuk menggerakkan masyarakat dan menentukan arah masa depan.

Karena itu, pendidikan tidak boleh berhenti pada pencetakan tenaga kerja yang kompetitif. Pendidikan harus melahirkan manusia yang memahami tujuan hidupnya.
Ilmu memberikan kemampuan. Negara memberikan ruang agar kemampuan tersebut tumbuh dan bermanfaat. Sementara Islam memberikan arah.

Dalam perspektif Islam, arah tersebut adalah ketaatan kepada Allah SWT dan menjalankan kehidupan sesuai dengan syariat-Nya, baik dalam kehidupan individu, masyarakat maupun negara.

Dengan demikian, tantangan Gen Z bukan hanya persoalan ekonomi, pekerjaan, gaya hidup, atau kesehatan mental. Lebih jauh dari itu, terdapat persoalan tentang arah kehidupan.

Generasi yang menguasai teknologi tetapi kehilangan arah dapat menjadi korban zaman. Sebaliknya, generasi yang memiliki ilmu, kompetensi, karakter, ketakwaan, dan tujuan hidup yang jelas dapat menjadi kekuatan besar bagi perubahan.

Gen Z tidak cukup hanya dibekali kemampuan untuk menghadapi masa depan. Mereka juga membutuhkan arah agar masa depan yang mereka bangun tidak kehilangan makna. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Comment