Gen Z Tak Sekadar Butuh Healing: Ada Sistem yang Menghimpit dan Tujuan Hidup yang Hilang
Penulis: Adzkia Tharra (Aktivis Muslimah)
RADARINDONESIANEWS. CIM, JAKARTA- Menjadi dewasa tidak selalu berjalan semudah yang dibayangkan. Gen Z dituntut mandiri, memiliki pekerjaan, menata kehidupan, dan mempersiapkan masa depan. Namun, tuntutan itu datang ketika biaya hidup terus meningkat, sementara penghasilan belum tentu mampu mengimbanginya.
Rumah semakin sulit dijangkau, kebutuhan sehari-hari makin mahal, dan keinginan memiliki masa depan yang layak harus berhadapan dengan kondisi finansial yang serba terbatas.
Kondisi ini bukan sekadar kekhawatiran yang ramai diperbincangkan anak muda. Berbagai data menunjukkan bahwa tekanan tersebut memang nyata dalam kehidupan Gen Z.
Dikutip dari Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025, sekitar 48% hingga 53% Generasi Z secara global maupun nasional merasa tidak aman secara finansial.
Mahalnya biaya hidup, tingginya harga tempat tinggal, penghasilan yang pas-pasan, serta tekanan ekonomi membuat mereka kesulitan menabung dan merencanakan masa depan.
Namun, persoalan Gen Z tidak berhenti pada sulitnya memenuhi kebutuhan dan menyiapkan masa depan. Di tengah kondisi finansial yang terbatas, muncul pula kecenderungan menghabiskan uang untuk kesenangan sesaat.
Kebiasaan tersebut dikenal sebagai doom spending. Ketika tekanan hidup datang, sebagian anak muda memilih mencari pelarian melalui konsumsi. Akibatnya, kemampuan membangun tabungan untuk menghadapi kondisi darurat pun semakin lemah.
Gambaran ini diperkuat oleh survei pengembang aplikasi fintech Frich. Sebanyak 47% responden Gen Z diketahui tidak memiliki dana darurat. Temuan tersebut diperoleh melalui analisis anonim terhadap komunitas Frich yang terdiri dari satu juta pengguna Gen Z seperti dilaporkan CNBC (20/08/2026).
Fakta tersebut menunjukkan sebuah ironi. Gen Z menghadapi tekanan ekonomi yang nyata, tetapi sebagian justru semakin sulit membangun ketahanan finansial. Lantas, bagaimana persoalan ini selama ini dipahami dan diselesaikan?
Di tengah beban yang kian berat, solusi yang banyak ditawarkan justru berpusat pada kesiapan finansial individu, seperti literasi keuangan, investasi, dana pensiun digital, maupun asuransi. Seolah persoalan akan selesai jika setiap orang mampu mengelola keuangannya dengan lebih baik. Padahal, benarkah akar persoalannya sesederhana itu?
Kemampuan mengelola keuangan tentu penting. Namun, seseorang tidak hidup dalam ruang kosong. Ia berada dalam sistem yang turut menentukan harga kebutuhan, kesempatan kerja, tingkat pendapatan, hingga kualitas layanan dasar yang dapat diperolehnya.
Karena itu, menjadikan fenomena generasi terhimpit semata-mata sebagai kesalahan individu merupakan cara pandang yang keliru.
Persoalan ini bukan hanya akibat lemahnya pengelolaan keuangan, melainkan juga konsekuensi dari sistem kehidupan kapitalistik yang memindahkan tanggung jawab kesejahteraan dari negara kepada individu dan keluarga.
Berbagai langkah seperti menyiapkan dana darurat, membeli asuransi, berinvestasi, hingga memiliki dana pensiun mungkin membantu mengelola kondisi finansial, tetapi tidak menyelesaikan akar persoalan.
Akar persoalan tersebut terletak pada sistem kehidupan kapitalistik yang berasaskan sekularisme. Dalam sistem ini, pemerintah tidak lagi menjadi penanggung jawab utama kesejahteraan rakyat, melainkan sekadar regulator.
Akibatnya, kebutuhan dasar seperti pendidikan dan kesehatan dikomersialkan, sementara kesempatan memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak tidak selalu sebanding dengan meningkatnya biaya hidup.
Beban tersebut akhirnya tidak hanya dirasakan individu. Satu pencari nafkah bahkan harus menopang kebutuhan beberapa generasi sekaligus. Ketika tuntutan kehidupan terus bertambah sementara kemampuan ekonomi tidak mampu mengimbanginya, lahirlah fenomena generasi terhimpit.
Dampaknya kemudian merembet ke dalam kehidupan keluarga. Ketika remaja memasuki dunia kerja dan berkeluarga, gaji yang sebatas UMR harus mampu memenuhi kebutuhan sekaligus berbagai keinginan. Rumah, mobil, dan fasilitas kehidupan yang serba wah seolah menjadi standar yang harus dikejar.
Kondisi tersebut turut mencabik keluarga Muslim. Ayah dan ibu muda sibuk bekerja demi memenuhi tuntutan keluarga. Waktu dan perhatian yang seharusnya diberikan untuk mendidik anak semakin terkuras. Akhirnya, keluarga perlahan kehilangan fungsinya sebagai tempat utama mendidik dan membentuk generasi.
Di tengah tekanan ekonomi itu, persoalan semakin kompleks ketika lingkungan sosial turut membentuk standar tentang bagaimana seseorang seharusnya menikmati hidup. Budaya konsumtif dan hedonistik bukan muncul begitu saja, melainkan tumbuh dalam masyarakat sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.
Ketika kebebasan dijadikan asas dalam bertingkah laku, konsumsi berlebihan dan pencarian kesenangan menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Budaya tersebut bahkan disuntikkan ke negeri Muslim sehingga para pemudanya terus menjadi pasar potensial bagi korporasi multinasional.
Masalahnya menjadi lebih serius ketika gaya hidup tersebut tidak lagi sekadar menjadi pilihan konsumsi, tetapi membentuk ukuran kebahagiaan dan keberhasilan hidup.
Minimnya pemahaman agama dan derasnya pemahaman kufur semakin menjauhkan pemuda Muslim dari identitasnya. Ketika kebahagiaan diukur melalui materi, tren, dan kesenangan sesaat, mereka semakin mudah mengikuti apa yang ditawarkan lingkungan tanpa mempertimbangkan kesesuaiannya dengan Islam.
Inilah yang menjadikan pemuda Muslim terus membebek pada dikte peradaban Barat. Mereka bukan hanya mengikuti gaya berpakaian atau tren konsumsi, tetapi juga berpotensi mengadopsi cara pandang tentang kehidupan, kebahagiaan, dan kesuksesan yang tidak bersumber dari Islam.
Jika persoalannya bukan hanya soal uang, tetapi juga cara pandang terhadap kehidupan, penyelesaiannya pun tidak cukup berhenti pada nasihat agar generasi muda lebih hemat. Mereka membutuhkan pemahaman yang mampu menjawab untuk apa kehidupan dijalani dan bagaimana seorang Muslim menentukan pilihan.
Karena itu, agar remaja Muslim memahami gaya hidup yang diajarkan Islam dan tidak terjebak dalam hedonisme, mereka dan keluarganya harus terbina dengan Islam kafah. Pembinaan ini akan menanamkan visi dan misi hidup sekaligus keterikatan terhadap hukum syarak sehingga mereka memahami tujuan keberadaannya di dunia.
Pembinaan tersebut tidak cukup dilakukan sesekali. Dibutuhkan proses yang intensif dan berkelanjutan. Kajian rutin akan membentuk dan menguatkan iman serta ketaatan setiap Muslim kepada Allah Taala. Bukan sekadar forum ceramah untuk mentransfer ilmu, melainkan juga sarana mengarahkan gaya hidup sehari-hari agar sesuai dengan ketentuan Islam.
Pemahaman yang benar tentang tujuan hidup kemudian akan tercermin dalam keputusan sederhana, termasuk dalam menggunakan harta. Remaja Muslim akan mampu membedakan kebutuhan dan keinginan yang lahir dari hawa nafsu.
Mereka pun lebih bijak membelanjakan uang yang diberikan orang tua. Gaya hidup sederhana menjadi bagian dari dirinya, sementara harta tidak semata-mata digunakan untuk kesenangan duniawi, tetapi juga sebagai bekal akhirat.
Namun, membentuk karakter remaja tidak cukup hanya dengan memberikan pemahaman. Lingkungan tempat mereka tumbuh juga memiliki pengaruh besar terhadap nilai dan kebiasaan yang terbentuk.
Keteladanan orang tua serta pertemanan dengan orang-orang saleh menjadi pelajaran berharga. Keluarga dan teman yang menjalani gaya hidup sesuai Islam dan tidak menjadikan hedonisme sebagai standar kebahagiaan akan lebih mudah diteladani. Dengan lingkungan tersebut, remaja Muslim tidak merasa sendirian dalam melaksanakan syariat Islam.
Meski demikian, pembinaan individu dan keluarga saja belum cukup. Selama lingkungan kehidupan yang lebih luas terus mendorong manusia pada nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam, upaya tersebut akan menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Masalah utamanya adalah sistem yang melingkupi kehidupan umat hari ini memang jauh dari Islam. Akibatnya, setiap lini kehidupan berpeluang menyeret siapa pun, termasuk remaja Muslim, ke dalam gaya hidup hedonisme.
Karena itu, perubahan tidak cukup berhenti pada individu. Sistem kehidupan yang melingkupi umat juga perlu diubah agar nilai-nilai Islam tidak hanya menjadi pedoman pribadi, tetapi menjadi landasan dalam mengatur kehidupan masyarakat.
Tidak ada jalan lain selain berupaya meninggalkan sistem kehidupan kapitalisme sekuler menuju sistem yang berlandaskan Islam yang diridai Allah Taala.
Dengan demikian, kehidupan tidak hanya diarahkan untuk mengejar kesenangan materi sesaat, tetapi juga menghadirkan keberkahan dan kebahagiaan yang hakiki. Wallahu alam bi shawab.[]














Comment