by

Gender Based Violence, Tuduhan Salah Sasaran

-Opini-57 Views

 

Oleh: Mala Hanafie, Aktifis Muslimah 

__________

RADARINDONESIAMEW.COM, JAKARTA — Kasus KDRT Masih saja terjadi di masyarakat baik kalangan awam, pendidikan maupun artis dan selebriti.

Seorang siswi SD harus meregang nyawa di tangan ayah kandungnya. Bukan hanya menghilangkan nyawa buah hatinya bahkan lebih dari itu. Tak cukup sampai di situ, pelaku juga didapati menganiaya istrinya hingga harus dilarikan di Rumah Sakit karena kondisi kritis.

Peristiwa malang yang terjadi di Depok tersebut menyita perhatian publik. Berawal dari percekcokan antara pasangan suami-istri, hingga berujung tragis dengan mengorbankan nyawa putrinya yang masih belia.

Merespon ini Anggota Komnas Perempuan Rainy Hutabarat, memandang hal tersebut sebagai kekerasan gender ekstrem dan bukan tindak kriminal biasa, di mana pelaku harus dihukum dengan pemberatan.

Tuduhan Salah Arah Kekerasan Basis Gender

Tuduhan yang dialamatkan sebagai Kekerasan Berbasis Gender (Gender Based Violence) sejatinya salah arah. Faktanya korban tindak kekerasan bukan hanya menimpa kaum perempuan. Sebab tidak sedikit dari laki-laki yang menjadi korban kekerasan dan penganiayaan.

Laki-laki juga berpotensi menjadi korban perundungan sesama gender. Salah satunya unggahan dari pemilik akun Twitter @bulansafar yang mengalami pelecehan di dalam angkutan Transjakarta. Disusul keputusan seorang ibu di Sragen yang memilih untuk mengakhiri hidup putranya. Tidak tahan dengan prilaku anak yang gemar mencuri dan berjudi, ia menghantam korban dengan batu berkali-kali.

Sementara itu, dalam aksi KDRT di Kediri seorang suami tewas usai ditusuk pisau oleh istrinya sendiri. Rentetan kejadian naas di mana korbannya adalah laki-laki menegaskan bahwa siapapun berpeluang menjadi korban kriminalitas berupa pelecehan hingga pembunuhan.

Kekerasan yang terjadi dalam lingkaran domestik (KDRT) maupun kekerasan di ranah publik penyebabnya tidak lain karena cara pandang sekuler. Dimensi sekulerisme di mana agama dipisahkan dari nilai-nilai kehidupan sejatinya adalah biang kerok atas berbagai macam aksi kekerasan. Bukan sekedar persoalan gender.

Maka memandang kejahatan berulang sebagai bentuk kekerasan gender serta menawarkan ide-ide kesetaraan untuk menyelesaikan persoalan tersebut justru mengaburkan masyarakat dari akar masalah yang sebenarnya.

Ilusi Gender Equality, Hanya Islam Solusi

Gender Equality bukanlah jalan keluar untuk menghapus kekerasan. Sebab dalam ruang hidup sekuler laki-laki dan perempuan sama-sama berpotensi menjadi korban sekaligus pelaku aksi kekerasan. Konstruksi budaya yang kadung mendarah daging ikut andil dalam membentuk cara berpikir dan tingkah laku manusia hari ini.

Melampiaskan kekesalan, kebencian, amarah tanpa memandang lagi apakah tindakannya berbahaya bagi manusia lain. Tidak lagi peduli baik atau buruk bahkan pahala atau dosa dari setiap perbuatan. Semua dilakukan sekedar menuruti hawa nafsunya. Inilah sesungguhnya penyebab penganiayaan dan kekerasan terus menerus terjadi, hingga hilang nyawa.

Laki-laki dan perempuan sama kedudukannya dalam pandangan Islam yakni sebagai hamba Allah yang sama-sama memiliki kewajiban untuk taat pada aturan syariat. Hanya saja masing-masing memiliki fungsinya.

Rumah tangga di dalam Islam dibangun berdasarkan ikatan persabahatan antara pasangan suami-istri. Dalam hubungan rumah tangga laki-laki berperan sebagai qowwam sementara peran utama seorang perempuan adalah ummun wa’rabatul bait yaitu ibu dan pengatur di dalam rumah tangga.

Ketika menjalankan fungsi kepemimpinan (qowwam) laki-laki memiliki kewajiban mendidik, menjaga serta memenuhi nafkah bagi keluarga. Sudah menjadi tugas bagi laki-laki untuk bekerja demi menghidupi keluarganya.

Berbeda dengan fakta saat ini, di tengah kungkungan kapitalis kaum perempuan justru ikut berjibaku memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya yang saat ini juga menjadi faktor pemicu ketidak harmonisan keluarga. Kesetaraan gender bukan solusi tetapi hanya sebuah ilusi yang mengaburkan masyarakat dari pokok masalah sebenarnya.

Islam satu-satunya solusi untuk mengatasi kekerasan.

Dalam Islam, Negara wajib menjamin keamanan bagi setiap warganya, anak-anak atau orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Siapa pun pelaku kekerasan akan diberikan sanksi tegas sesuai dengan syariat Islam, bahkan bila pelaku ternyata adalah seseorang yang memiliki tanggung jawab memberikan perlindungan kepada pihak korban, semisal orangtua atau wali korban, sanksi yang diterima pelaku akan lebih berat lagi.

Negara bukan hanya berperan memberi sanksi namun lebih mendasar dari itu, Negara bertanggung jawab menjaga pemikiran dan kecenderungan setiap warganya untuk senantiasa bertakwa kepada Allah swt. Memperlakukan sesama manusia sesuai dengan syariat Islam, termasuk memperhatikan kesiapan para pemuda dan pemudi untuk memasuki kehidupan pernikahan.

Di samping itu negara bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan rakyatnya, menciptakan lapangan kerja bagi laki-laki serta memberikan layanan kesehatan dan pendidikan kepada rakyat.

Semua ini hanya bisa terwujud ketika sebuah permasalahan dipandang dengan kacamata yang utuh bukan hanya dilihat secara parsial. Inilah yang meniscayakan bahwa hanya sistem Islam yang mampu menyelesaikan problem manusia, termasuk mencegah kekerasan. Islam memberikan solusi pasti bukan sekedar ilusi. Wallahu’alam.[]

Comment