by

Generasi Bar-bar di Tengah Pendidikan Sekular

-Opini-60 Views

 

 

Oleh : Ika Mayasari, S.ST, Pemerhati Remaja

_______

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Prilaku liar dan kurang ajar semakin jelas tergambar, ketika viral segerombolan pelajar tega menendang seorang lansia hingga tesungkur. Dalam dunia pendidikan, perbuatan tersebut sungguh tak wajar dan tentu menjadi PR besar bangsa ini lebih spesifik dunia pendidikan.

Sejak lama, aksi prmanisme pelajar ini ada namun tampaknya negeri ini belum menemukan titik terang untuk meredakannya sehingga kasus kekerasan pelajar ini terus meningkat.

Seperti ditulis grid.id (24)7/2022), pada ahun 2020, KPAI mencatat terdapat 119 kasus perundungan terhadap anak. Jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun, yakni sekitar 30—60 kasus per tahun. Sementara menurut catatan bbc.com (227)2022), tahun 2022, tercatat 226 kasus kekerasan fisik, psikis, termasuk perundungan terhadap anak.

Laman Chatnewsid (22/11/2022), bahwa  menurut data Programme for International Students Assessment (PISA), anak dan remaja di Indonesia mengalami intimidasi (15%), dikucilkan (19%), dihina (22%), diancam (14%), didorong sampai dipukul teman (18%), dan digosipkan kabar buruk (20%). Hal ini membuat Indonesia menduduki peringkat kelima kasus perundungan di Asia.

Dosen psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Novi Poespita Candra menyebut perundungan ini sangat banyak terjadi di usia anak-anak dan lingkungan pendidikan tetapi belum banyak yang dilaporkan sehingga menjadi fenomena gunung es. Menurutnya, bullying atau perundungan disebabkan oleh berbagai faktor, beberapa di antaranya dari faktor personal dan lingkungan.

Dari faktor lingkungan, Novi melihat secara luas bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih mengarah ke kurikulum yang berfokus pada sisi akademik. Padahal menurutnya seharusnya pendidikan itu membangun well-being atau kesejahteraan psikologis anak.

Akibat pendidikan masih berfokus pada materi atau konten akademik, lanjut Novi, sekolah tidak akan menciptakan lingkungan yang positif dan etis. Menurutnya, anak perlu dididik sejak kecil untuk menciptakan lingkungan yang saling menghargai dan berempati.

Adapun dari faktor personal, sekolah seharusnya melatih anak membangun ruang kesadaran diri. Misal, anak diajak berefleksi, kenapa kita harus menghargai teman, kenapa kita tidak boleh mengejek teman, itu semua didiskusikan agar mereka sadar kenapa mereka harus berperilaku positif,” urainya.

Selama ini, kata Novi, seperti ditulis harianjogya.com (24/7/2022), diskusi semacam itu masih minim dan terbatas. Ketika ada anak yang mengejek temannya, tiba-tiba saja orang dewasa menasehati dan menghukum, ketimbang membangun kesadaran dirinya. Jika terus terjadi, hal ini akan menjadi problem yang terus terjadi.

Tidak bisa dipungkiri, tampaknya output pendidikan saat ini sangat kontras dengan tujuan pendidikan nasional. Di samping itu, sekolah-sekolah negeri ini sudah seharusnya antiperundungan karena sebagian besar sudah mendeklarasikan sebagai sekolah ramah anak (SRA). Salah satu prinsip SRA adalah bebas dari bullying.

Melihat maraknya kasus kekerasan di kalangan pelajar, menimbulkan kritik terhadap sistem pendidikan di negeri ini. Bahwa selama ini dunia pendidikan hanya mementingkan prestasi akademik dan berorientasi pada lapangan kerja. Para pelajar dari bangku sekolah hingga perguruan tinggi dididik untuk menjadi pengejar materi. Tampak sangat kental corak kehidupan kapitalis sekular melalui pendidikan di negeri ini.

Kapitalis sekular adalah sebuah pandangan hidup yang sangat menjunjung tinggi nilai materi. Bahkan pemenuhan materi sebanyak – banyaknya dianggap sebangai puncak kebahagiaan meskipun harus menghalalkan segala cara. Akibatnya, pelajar kian individualis, materialistis, apatis hingga anarkis.

Ideologi ini menjadikan manusia hidup bukan dengan aturan Penciptanya melainkan aturan yang dibuat oleh manusia yang serba lemah dan terbatas serta cenderung dipengaruhi oleh hawa nafsu. Sikap menjauhkan agama dari kehidupan tampak dalam porsi pelajaran agama dan budi pekerti di sekolah amat minim. Hanya berupa hafalan untuk mengejar target kurikulum dan ujian kenaikan kelas.

Pemahaman agama yang minim ditambah kurangnya penjagaan oleh negara, menyebabkan generasi kehilangan filter menghadapi serangan digitalisasi yang begitu massif. Tak jarang konten media digital menjadi pemicu ataupun penyaluran aksi bullying di kalangan pelajar.

Alhasil, dalam sistem pendidikan berbasis sekularisme, alih-alih terwujud manusia religius bermartabat, justru malah melahirkan generasi bar-bar dan krisis adab akut. Hal ini tidak bisa dipandang sebelah mata, karena generasi rusak merupakan ancaman bagi masa depan bangsa.

Adalah kekeliruan yang besar saat mengambil kapitalis sekular sebagai ideologi. Menjauhkan agama dari kehidupan adalah perbuatan yang bertentangan dengan fitrah manusia.

Allah SWT. menciptakan manusia dengan naluri yang merupakan fitrah manusia. Dalam pemenuhan naluri ini, diperlukan aturan dari Sang Khaliq agar manusia tidak terjerumus pada kerusakan karena dikuasai oleh hawa nafsu.

Islam dengan asasnya yakni aqidah islam menjadikan manusia hidup bukan untuk menghambakan diri pada materi, tapi semata – mata untuk meraih rida dari Allah SWT.

Akidah islam inilah yang kemudian menjadi asas dalam pendidikan. Kurikulum, mata pelajaran serta metodologi penyampaian seluruhnya disusun tanpa adanya penyimpangan sedikitpun dari asas tersebut. Pendidikan adalah kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi sejak usia dini, bahkan sejak dari dalam kandungan akidah Islam mulai diajarkan melalui peran orang tua dan keluarga di rumah.

Tujuan pendidikannya adalah untuk membentuk kepribadian islam. Para pelajar diarahkan menjadi pribadi yang memiliki kecerdasan dalam berbagai bidang untuk berkontribusi bagi masyarakat.

Pola pikir dan pola sikap mereka dibentuk agar senantiasa selaras dengan Islam. Untuk itu pengajaran Islam diberikan kepada mereka bukan untuk menjadi hafalan atau teori semata, tetapi untuk menjadi petunjuk dan teknis pelaksanaan dalam kehidupan.

Sejarah telah membuktikan keberhasilan pendidikan Islam dengan lahirnya tokoh-tokoh cendekiawan muslim yang mahir di berbagai bidang keilmuan. Selain sebagai sosok ulama dengan ilmu-ilmu keislaman, mereka juga ahli di bidang kedokteran, fisika, farmasi, teknik, matematika, kimia, militer, dan sebagainya. Ibnu Khaldun dalam ilmu sosiologi, al-Khawarizmi dalam matematika, az-Zahrawi dalam ilmu kedokteran. Merka adalah ulama sekaligus ilmuan yang namanya terus dikenang sampai sekarang.

Di samping keilmuan, islam juga sangat memperhatikan akhlak. Untuk menjaga akhlak para pemuda, Rasulullah saw., mengajarkan para sahabat tentang adab dan peraturan dalam kehidupan, seperti adab makan, adab bertamu, aturan berdagang hingga menasihati mereka yang diangkat sebagai pejabat negara agar jangan menyusahkan rakyat.

Keberhasilan pembentukan pribadi yang mulia adalah karena Islam meletakkan pendidikan adab/akhlak bagi para pelajar sebelum mempelajari ilmu-ilmu yang lain. Imam Malik rahimahulLâh pernah berkata, “(Sewaktu aku kecil) ibuku pernah memakaikan imamah di kepalaku sambil berkata, ‘Pergilah engkau ke Rabi’ah. Pelajarilah olehmu adab (akhlak)-nya sebelum mempelajari ilmunya.’” (Tartîb al-Madârik wa Taqrîb al-Masâlik, 1/130).

Ibnu al-Mubarak rahimahulLâh juga pernah berkata, “Kami mempelajari adab selama 30 tahun dan mempelajari ilmu selama 20 tahun.” (Ghâyah an-Nihâyah fî Thabaqât al-Qurâ’, 1/198).

Para ulama percaya jika para pelajar memiliki adab yang mulia, maka Allah SWT. akan memudahkan mereka dalam memahami ilmu.

Akidah Islam menjadikan seorang hamba mampu menundukkan hawa nafsunya dalam ketaatan kepada Tuhannya. Ia akan berpikir sebelum melakukan tindak kekerasan ataupun kemaksiatan, sebab ia memahami konsekuensi bahwa perbuatannya akan dimintai pertanggung-jawaban setelah kehidupan dunia.

Berjalannya akidah Islam perlu ditopang dengan pilar syari’at Islam. Yakni dengan diterapkan aturan – aturan dalam kehidupan termasuk adab dan akhlak, serta pemberian sanksi atas tindakan kekerasan ataupun pelanggaran syari’at lainnya. Pemberian sanksi dalam Islam sangat istimewa, karena selain sebagai penebus dosa, sanksi ini juga mampu memberikan efek jera sehingga kejahatan tidak akan mudah untuk terulang lagi.

Kesemuanya itu tidak akan tegak tanpa institusi pelakana syari’at Islam secara konprehensif. Dalam Islam, negara bertanggung jawab terhadap penyelanggaran pendidikan secara menyeluruh.

Negara menjamin setiap anak berhak mendapatkan pendidikan gratis dan berkualitas, sehingga terwujud output pendidikan yang beriman, bertakwa, cerdas dan berakhlak mulia. Hal itu terbukti dengan kegemilangan Islam menjadi mercusuar peradaban dunia selama 1.400 tahun lamanya. Wallahu a’lam.[]

Comment