by

Teologi Tradisi Apitan Masyarakat Jawa Tengah

-Opini-95 Views

 

Oleh: Windy Divaci Anastasya, Mahasiswi  Pascasarjana UIN Bukittinggi Sumbar

__________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Bulan Zulhijah atau bulan haji, tidak hanya besar nomenklaturnya. Namun, dalam bulan yang dikenal “bulan besar” ini juga besar tradisinya. Salah satunya tradisi Apitan. Dalam bulan Besar, ada tradisi Apitan yang secara historis dan filosofis menarik untuk dipromosikan sebagai wahana mendekatkan diri kepada Tuhan, alam, dan manusia.

Masyarakat Jawa selalu mesra dengan alam sejak dulu. Kemesraan itu tidak sekadar dalam aspek simbolis, ritus, namun sarat akan nilai-nilai teologis karena hampir semua tradisi Islam di Jawa merupakan produk dari Walisongo yang sudah dibungkus dengan ajaran Islam. Tradisinya yang menyimpang dihapus, digantikan dengan nilai-nilai Islam. Seperti contoh tradisi Apitan.

Secara praktik, tradisi ini hampir sama dengan sedekah bumi, kondangan, krayahan, bancakan, gas deso, nyadran, dan lainnya. Akan tetapi, secara pelaksanaan waktunya, memiliki makna menarik karena berada pada pertengahan hari raya Idulfitri dan Iduladha.

Tradisi Apitan di antara dua hari raya Islam, yaitu Idul Fitri dan Idula Adha, pelaksanaan tradisi Apitan dilakukan di berbagai daerah. Seperti contoh di daerah Pati, Grobogan, Blora, Semarang, dan lainnya. Karena posisi waktunya yang terjepit, maka tradisi itu disebut kejepit atau Apitan atau pada bulan Zulka’dah dalam kalender Islam dan orang-orang Jawa biasa menyebutnya bulan Apit.

Selain Apitan, ada tradisi walimatul haj yang menjadi ciri khas semua umat Islam dalam ngalap berkah dengan orang yang pergi haji. Secara filosofis, Apitan sarat akan nilai estetik. Di Jawa, ketika ada pengantin, maka dipastikan ada “pengapit” yaitu anak-anak kecil perempuan cantik yang mendampingi pasangan yang menikah.

Tradisi “pengapit” ini berkembang pesat dengan pesona modernisme. Munculnya “duta wisata”, “duta bandara”, “duta mahasiswa” menjadi bukti bahwa tradisi Jawa bisa menyesuaikan modernitas. Lalu, bagaimana dengan tradisi Apitan?

Apitan atau yang dikenal dengan sedekah bumi merupakan selamatan dalam rangka untuk mensyukuri nikmat Allah. Praktik Apitan sangat beragam. Ada yang menggelar pengajian, tasyakuran di jalan-jalan desa, balai desa, musala, dan lainnya. Semua itu bertujuan untuk mensyukuri nikmat Tuhan selama satu tahun.

Tradisi Apitan memiliki tujuan dan makna yang dalam sekaligus religius, sebab tradisi ini adalah ungkapan rasa syukur yang dilakukan masyarakat Demak kepada Allah SWT atas hasil panen yang telah diterima.

Prosesi Apitan biasanya dimulai dengan masyarakat yang datang berbondong-bondong ke Balai Desa dengan membawa makanan dan minuman. Semua makanan dan minuman itu akan disantap bersama setelah prosesi Apitan. Acara selalu dimulai pada pagi hari, sekitar pukul 09.00 WIB.

Pertama-tama akan ada sambutan dari Kepala Desa kemudian pertunjukkan wayang. Acara inti biasanya dimulai pada sore hari, masyarakat akan berkumpul dan melakukan selametan. Setelah itu makan bersama untuk mempererat tali silaturahmi. Tradisi Apitan akan ditutup pada malam hari dengan pagelaran wayang kulit, ketoprak, atau kesenian lainnya.

Apitan memang tidak terlalu terkenal seperti grebeg, nyadran, dan lainnya. Namun sebenarnya, Apitan bisa dikembangkan dengan berbagai macam cara agar bisa menyesuaikan zaman.

Pertama, adanya penelitian pada aspek filosofi yang meneliti khazanah Apitan. Ini menjadi penting. Sebab, khazanah Islam Nusantara tidak boleh sekadar klaim, namun harus berdasarkan riset, ilmiah, dan data. Dari sejarah yang saya dapat, Apitan sudah ada sejak zaman Sunan Kalijaga. Namun, nomenklaturnya saja yang berbeda.

Kedua, Apitan adalah wujud keindahan. Maka dalam Apitan, keindahan itu tampak pada tatanan makanan dan minuman, tempat, dan pakaian yang dikenakan saat perayaan. Untuk itu, tradisi ini harus dikuatkan dengan promosi hasil bumi, hasil laut, kain, pakaian adat, dan budaya lainnya dengan setting lokalitas. Alasannya, lokalitas lebih seksi daripada budaya global yang sebenarnya hanya kamuflase dari konvensional menuju digital.

Ketiga, Apitan akan maju ketika ada inovasi. Artinya, jika “pengapit” menjadi simbol keindahan saat pernikahan yang kemudian berkembang pada tren duta-duta di tiap daerah, maka perlu dukungan pemerintah agar desa-desa pelestari Apitan bisa terkampanyekan lewat regulasi. Dengan demikian, Apitan bisa menjadi ciri khas dan khazanah budaya lokal yang tidak dimiliki bangsa lain.

Usaha-usaha di atas menjadi bagian dari menjaga tradisi lama tanpa menolak tradisi baru yang lebih baik. Tapi, intinya di era Revolusi Industri 5.0 ini, masyarakat Nusantara tidak boleh terkena wabah disruption (tercerabut) dari akarnya.

Apitan sarat akan nilai nilai uluhiyah yang tinggi. Apitan ini salah satu tradisi khas Islam Nusantara yang jelas-jelas memiliki nilai teologi tinggi. Tidak ada orang melakukan apitan dengan keadaan resah dan marah. Justru, Apitan ini wujud kegembiraan, rasa syukur, dan wujud penghambaan pada Tuhan. Orang Jawa Islam, dengan kondisi apa pun sangat pasrah dan tetap bersyukur pada Tuhan.[]

Comment