by

Keunikan Suku Jambak Berpesta Selalu Hujan

-Opini-125 Views

 

 

Oleh: Maysa Latifa, Mahasiswi Pascasarjana UIN Bukittinggi

__________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Suku Jambak adalah salah satu suku yang ada di Minangkabau. Asal usul suku jambak ini bukan berasal dari dua suku yang ada sebelumnya di Mingkabau yaitu suku Koto Piliang dan suku Bodi Caniago. Suku Jambak merupakan suku yang datang dari tanah Tiongkok dan menyebar di daratan Minangkabau yang keturunannya masih ada sampai saat ini.

Kebiasaan orang Tiongkok yang melakukan pelayaran dengan sistem ekspansi itu terjadi di Koto Tuo, kelompok yang mengembara tersebut dikenal dengan turunan suku Campa. Mereka datang dengan seorang pimpinan raja perempuan yang bernama Hera Mong Campa Satu. Riwayat mengatakan Hera Mong Campa datang dari Mongolia.

Suku Campa sudah menyebar di wilayah Agam sebelum pindahnya suku Koto Piliang ke Luhak Lima Puluh Koto. Kemudian terjadilah perubahan sebutan suku Campa menjadi suku Jambak, sama halnya dengan Kisah asah kota Payokumbuah yang berasal dari kata kota Payau Kumuah.

Kebiasaan suku Jambak di antaranya mereka suka hidup berkelompok sesama orang Jambak. Apabila melakukan kegiatan manaruko atau membuka lahan baru, maka wilayah tersebut diberi nama sesuai dengan nama suku mereka. Tidak heran kalau di setiap wilayah yang ada di Sumatera Barat ada kampung dengan sebutan Kampuang Jambak. Salah satunya ada di Suliki Koto Tinggi Kabupaten Lima Puluh Kota.

Keunikan suku Jambak ketika saat melakukan pesta pernikahan terjadi hujan deras yang bahkan kejadiaannya saat cuaca panas dan tidak ada tanda hujan sebelumnya. Hujan yang terjadi di luar nalar karena pas dan selalu terjadi ketika pesta yang diadakan oleh suku Jambak.

Berdasarkan beberapa sumber, hal ini disebabkan karena persumpahan Hera Mong Campa ketika kemarau panjang yang melanda daerahnya. Sehingga ia memohon pada Tuhan agar diturunkan hujan pada saat butuh air dan kebetulan waktu itu mereka sangat butuh air karena akan melaksanakan pesta.

Sumber lain mengatakan bahwa dahulu ada suku Jambak yang sedang pesta. Banyak ibu-ibu memasak lamang di samping rumah orang yang berpesta, karib dan kerabat pun berdatangan untuk melihat mempelai anak daro dan marapulai.

Pada waktu itu, cuaca sangat panas sekali, seorang kakek-kakek tua dengan tongkat kayunya melihat ada orang yang sedang pesta tersebut. Dengan pakaian yang kumuh kakek menyapa orang-orang di sana, orang-orang pun merasa jijik akan kehadirannya sehingga mereka berkata-kata kakek itu sangat kotor. Banyak orang yang berhenti makan dan merasa terganggu dengan bau yang tidak sedap dari tubuh kakek tersebut. Salah seorang mengadu kepada tuan rumah.

Orang-orang mulai menghina-hina kakek. Sang kakek pun merasa sedih dan meninggalkan rumah itu. Kakek yang merasa terhina maka ia memberikan kutukan agar hujan deras supaya orang-orang yang menghina tersebut basah kuyub. Seketika langit menjadi gelap dan turunlah hujan deras. Tuan Rumahpun merasa kakek tadi telah mengutuk mereka, dan mereka sibuk mencari sang kakek tetapi kakek tidak ditemukan lagi.

Sejak saat itu setiap keturunan mereka yang memiliki suku Jambak menikah atau berpesta selalu hujan turun. Hubungan hujan dengan suku Jambak terasa unik dan terkesan tidak masuk akal yang penyebabnya sudah dijelaskan berdasarkan legenda-legenda tersebut.

Hujan adalah anugerah yang diberikan oleh Allah untuk menghidupkan alam semesta dan isinya. Kedatangan hujan sangatlah ditunggu-tunggu saat musim kemarau, tetapi apabila hujan sering datang juga dapat menimbulkan bencana yang berbahaya. Tetapi hubungan dengan suku Jambak hujan sering terjadi setiap kali ada acara paling tidak sekadar membasahi tanah suku Jambak. Sulit diterima dengan nalar, tetapi ungkapan ini benar adanya. Kelurga penulis yang bersuku Jambak mengalami hal ini.

Memang jika bicara adat, kita akan menemukan hal-hal yang di luar logika dan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Minangkabau adalah tanah pasumpahan, tanah yang penuh dengan sumpah karena nenek moyang Minangkabau suka melontarkan sumpah apabila terjadi suatu kesalahan. Akibat dari sumpah yang dilontarkan tidak hanya pada masa nenek moyang saja, tetapi akan terus dirasakan oleh seluruh keturunannya.

Pada zaman yang serba modern sekarang sumpah bisa dikatakan pantangan atau larangan. Salah satu bentuknya yaitu pantangan suku Jambak ketika mengadakan sebuah pesta pasti hujan. Namun kenyataannya di lapangan menyatakan dari sepuluh pesta suku Jambak, tujuh di antaranya terjadi hujan.

Berdasarkan hal tersebut, dapat di tarik kesimpulan bahwa semua legenda atau mitos yang terjadi tidak bisa kita salahkan dan tidak bisa kita jamin kebenarannya. Kisah keunikan suku Jambak yang selalu hujan ketika pesta dikarenakan tidak ada keterkaitan antara fenomena hujan dengan orang yang tengah melakukan pesta. Hujan adalah fenomena alam yang dapat terjadi di luar kendali manusia.

Menurut ajaran Islam hujan merupakan rahmat, maka apabila Allah menurunkan hujan berarti pesta yang dilakukan oleh suku Jambak mendapat berkah dan pestanya rahmatan lil ‘alamin.[]

Comment