Generasi Berkualitas, Butuh Sinergi Berbagai Elemen Umat

Opini110 Views

Penulis: Diana Nofalia, S.P. | Pendidik dan Pemerhati Masalah Remaja

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Generasi Z dikenal sebagai generasi yang paling dekat dengan teknologi dan media sosial. Mereka tumbuh dalam era digital yang memberikan kebebasan berekspresi tanpa batas. Melalui berbagai platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter, mereka dapat menampilkan identitas, minat, serta pandangan hidup mereka secara luas. Namun, di balik kebebasan ini, muncul pertanyaan besar: apakah mereka benar-benar bebas atau justru semakin terjebak dalam tekanan sosial yang diciptakan oleh media sosial itu sendiri?

Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun media sosial memberikan ruang untuk berekspresi, realitasnya sering berbeda bagi Gen Z. Media sosial bukan hanya tempat untuk berekspresi, tetapi juga arena persaingan yang tak terlihat.

Standar kecantikan yang nyaris sempurna, gaya hidup mewah yang dipertontonkan, serta tuntutan untuk selalu tampil menarik sukses menciptakan tekanan yang luar biasa bagi Gen Z.

Kemajuan era digital tidak terelakkan. Tidak dipungkiri banyak kemudahan, akan tetapi juga banyak pengaruh buruk. Kemudahan akses dalam informasi dan lain-lain, tapi disisi lain media sosial juga memberikan banyak tekanan pada perkembangannya mental generasi saat ini.

Meskipun Gen Z dipandang sebagai generasi lemah, tapi di sisi lain mereka memiliki potensi kritis dan mampu menginisiasi perubahan melalui media sosial. Hal ini terlihat dari beberapa kritikan dari kalangan Gen Z terhadap kondisi politik dan sosial pemerintahan akhir-akhir ini.

Mereka melawan ketidakadilan penguasa dengan cara memberikan kritikan di media sosial dan juga melakukan berbagai aksi demonstrasi.

Hanya saja ruang digital tidak netral, karena didominasi nilai sekular-kapitalistik. Paham sekular-kapitalistik yang memisahkan agama dari kehidupan, melahirkan sistem kehidupan yang mendewakan materi diatas segalanya.

Paham ini juga berpengaruh besar terhadap ruang digital saat ini. Hal ini nampak dari ruang digital yang mengedepankan kebebasan individu, ekspresi tanpa batas dan relativisme nilai. Agama hanya ditempatkan pada ranah privat bukan standar benar-salah dalam menilai.

Relativisme dalam menilai kerap menjadi sumber tekanan mental bagi generasi, apalagi standar penilaian itu disandarkan pada paham sekularis-kapitalistik. Ketidakpuasan terhadap diri dan haus validasi ruang digital menimbulkan pribadi-pribadi yang inklusif-progresif yang sering menabrak batasan agama.

Dilihat dari sisi positif, ada aktivism glocal yang mengkritisi kebijakan penguasa yang dzalim, akses terhadap pengetahuan semakin mudah, dan lain-lain. Akan tetapi pergerakan Gen Z cenderung pragmatis. Pergerakan lebih diwarnai untuk mencari validasi, karakteristik digital native. Dengan kata lain, pergerakan ini tidak menyentuh akar masalah, walaupun tidak dipungkiri mereka memiliki semangat perubahan.

Kaum muda harus mengambil arah pandang hidup menurut ideologi yang sahih, jangan hanya rindu perubahan, tapi masih mengambil solusi parsial. Hal ini akan cenderung melahirkan aktivis-aktivis yang prematur yang gampang menjual idealismenya demi jabatan.

Maka dari itu sangat penting untuk menyelamatkan generasi dari pengaruh hegemoni ruang digital yang sekuler kapitalistik. Cara menyelamatkan mereka dengan mengubah paradigma berpikir sekuler menjadi paradigma berpikir Islam.

Paradigma berfikir Islam akan membentuk kerangka berfikir yang komprehensif dalam memandang realitas, menilai benar-salah serta menentukan cara berperilaku. Dengan paradigma berfikir Islam inilah yang akan menuntun Gen Z untuk melihat masalah dari akar masalah.

Pergerakan gen Z harus diarahkan untuk memberikan solusi sistemis dan ideologis berdasarkan paradigma Islam. Untuk itu dibutuhkan sinergi semua elemen, keluarga, masyarakat, partai politik ideologis, negara.

Keluarga berperan menanamkan keimanan dan cara berfikir yang benar. Masyarakat sebagai penguat dan menciptakan lingkungan yang kondusif terhadap nilai-nilai Islam. Adanya partai politik ideologis juga sangat berperan penting dalam mengarahkan perjuangan gen Z secara benar, agar perjuangan yang dilakukan untuk perubahan hakiki bukan perjuangan yang bermodalkan semangat belaka.

Terakhir adalah negara yang memiliki peran strategis dalam membentuk kepribadian Islam dengan mewujudkan sistem pendidikan Isla berdasarkan tsaqofah Islam. Beberapa elemen umat ini sangat terkait dan dibutuhkan untuk menyelamatkan generasi dan mewujudkan generasi yang berkualitas. Wallahu a’lam.[]

Comment