Generasi Muslim: Pelopor Perubahan di Tengah Hegemoni Digital

Opini110 Views

Penulis: Ulwiyanti Bahar | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Generasi muda Muslim, khususnya di Sulawesi Selatan, terus menunjukkan ikhtiar menjaga warisan budaya di tengah derasnya arus globalisasi. Nilai-nilai luhur seperti siri’ na pacce, sipakatau, dan sipakainge tidak ditinggalkan, tetapi justru dipadukan dengan teknologi agar tetap relevan di era digital.

Berbagai komunitas budaya di Sulsel mengemas tradisi melalui festival budaya, lomba bahasa daerah, hingga konten kreatif di media sosial untuk menarik minat generasi muda.

Semangat tersebut juga tercermin dalam agenda tahunan Indonesia Youth Summit (IYS) yang baru-baru ini digelar di Makassar. Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, dalam sambutannya menekankan pentingnya integritas dan nilai dalam kepemimpinan.

Menurutnya, kepemimpinan tidak semata ditentukan oleh usia muda atau jabatan tinggi, melainkan oleh kesatuan antara pemikiran yang sehat dan tindakan nyata. “Yang penting bukan soal usia, tetapi soal integritas,” tegasnya, sembari menyinggung perjalanan kepemimpinan para presiden Indonesia dari masa ke masa.

Senada dengan itu, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menekankan pentingnya mendengar suara dan mimpi anak-anak muda, termasuk mereka yang belum banyak dikenal namun memiliki potensi besar.

Salah satu sorotan kegiatan adalah penampilan pemuda Makassar berbakat di bidang perfilman, yang tumbuh melalui dukungan program pemerintah seperti Makassar Creative Hub. Munafri menegaskan bahwa pembentukan karakter dan penyaluran potensi anak muda merupakan tanggung jawab negara.

Hadirnya Makassar Creative Hub, menurutnya, adalah jawaban atas kesenjangan akses kerja dan pengembangan diri yang selama ini dialami generasi muda.

Namun, di balik berbagai inisiatif positif tersebut, generasi muda hari ini hidup dalam tatanan sekuler-kapitalistik yang semakin menguat di era digital.

Pandemi COVID-19 mempercepat digitalisasi kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Platform digital kini menjadi ruang utama pembentukan kesadaran, terutama bagi generasi Z yang hampir seluruh hidupnya terhubung dengan dunia digital. Kondisi ini melahirkan dampak ganda, peluang besar sekaligus ancaman serius.

Hegemoni Digital

Apa yang menimpa generasi hari ini sejatinya merupakan konsekuensi dari tatanan kehidupan sekuler-kapitalistik global. Sejak Amerika Serikat memimpin dunia dengan ideologi kapitalisme, hampir seluruh aspek kehidupan manusia diarahkan pada logika pasar dan keuntungan.

Pada awal dekade 2020–2021, kapitalisme sempat terlihat runtuh ketika pasar bebas kolaps dan negara mengambil alih peran besar melalui kontrol harga, subsidi, dan bantuan sosial.

Pandemi juga memicu resesi global, PHK massal, runtuhnya rantai pasok, serta kolapsnya sektor perjalanan, energi, dan manufaktur. Filsuf Slavoj Žižek bahkan menyebut pandemi sebagai awal dari akhir kapitalisme neoliberal.

Namun, kenyataannya kapitalisme tidak mati. Ia bangkit kembali melalui rebound kapitalisme dengan wajah baru: kapitalisme platform.

Perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Meta, TikTok, Shopee, hingga layanan ride-hailing menguasai infrastruktur digital yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat.

Data, algoritma, dan perhatian manusia menjadi sumber utama keuntungan. Platform tidak lagi sekadar menyediakan layanan, tetapi mengatur cara manusia bekerja, berbelanja, bersosialisasi, bahkan berpikir.

Dominasi ini melahirkan hegemoni digital, yakni kondisi ketika kontrol sosial tidak dilakukan dengan paksaan, melainkan melalui penerimaan sukarela.

Algoritma menentukan apa yang penting, apa yang viral, siapa yang terlihat, dan bagaimana realitas dimaknai. Dalam sistem ini, pengguna bukan hanya konsumen, melainkan juga komoditas.

Rebound kapitalisme, kapitalisme platform, dan hegemoni digital membentuk wajah baru kapitalisme abad ke-21-  lebih halus, lebih tersembunyi, namun jauh lebih mengikat dan merusak.

Misi Penyelamatan Generasi
Dalam pandangan Islam, penyelamatan generasi adalah kewajiban setiap Muslim. Misi ini hanya dapat terwujud secara menyeluruh dalam naungan Khilafah Islam, yang mampu mewujudkan kedaulatan digital umat. Menurutnya, persoalan digital tidak cukup diselesaikan dengan pemblokiran konten negatif.

Selama platform dan algoritma tetap berada di tangan raksasa digital sekuler yang berorientasi keuntungan, konten yang membentuk perilaku sekuler dan gaya hidup kapitalistik akan terus diproduksi.

Regulasi yang dibuat negara-negara sekuler, termasuk Indonesia, Uni Eropa, dan Australia, dinilai baru sebatas mengurangi dampak, bukan menghentikan akar masalah.

Negara sering kali tidak tegas karena raksasa digital justru menjadi penopang utama ekonomi dan penyumbang pajak besar.

Hanya negara berbasis Islam yang mampu berinvestasi besar untuk membangun teknologi tinggi demi kemaslahatan umat, bukan demi keuntungan segelintir kapitalis.

Dengan kekuatan politik dan visi ideologis, negara tersebut diyakini mampu membentengi umat dari kerusakan akibat kemajuan teknologi digital.

Karena itu, setiap Muslim dipandang memiliki tanggung jawab dakwah untuk mengembalikan kehidupan Islam. Generasi muda memegang peran strategis karena kemampuan mereka menguasai teknologi digital.

Sejarah menunjukkan, Rasulullah Saw berhasil membina generasi muda dengan menanamkan akidah sebagai visi hidup dan syariat Islam sebagai solusi atas persoalan kehidupan. Mereka dibina dalam jamaah, diberi teladan, dan dipersiapkan sebagai pelopor perubahan peradaban.

Di tengah tantangan zaman, generasi Muslim dituntut tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga agen perubahan yang membawa nilai Islam dalam kehidupan digital. Wallahu a’lam bisshawab.[]

Comment