Generasi Remaja Sekuler: Krisis Jati Diri, Islam Hadirkan Solusi Gemilang

Opini826 Views

 

Penulis: Sutiani, A. Md | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sebuah video berdurasi 19 detik, seperti diberitakan Beritasatu.com (4/8/2025), viral di media sosial memperlihatkan aksi kekerasan terhadap seorang pelajar berseragam Pramuka di SMK Negeri 2 Pangkep, Sulawesi Selatan.

Dalam video tersebut, korban berinisial MA (16) tampak dihujani pukulan oleh pelaku F (16) di jalan raya depan sekolah, disaksikan sejumlah siswa lain yang justru merekam peristiwa itu dengan ponsel.

Kasat Reskrim Polres Pangkep, AKP Muhammad Saleh, menjelaskan insiden terjadi pada Jumat (1/8/2025) akibat senggolan bahu di dalam sekolah.

“Korban sebenarnya ingin menyelesaikan masalah baik-baik. Namun pelaku mengajaknya bertemu di luar sekolah dan langsung memukulnya berkali-kali,” kata Saleh seperti sikutup beeitasatu, Senin (4/8/2025).

Akibat pemukulan itu, korban mengalami luka memar di pelipis dan kepala. Polisi memastikan tidak ada persoalan sebelumnya selain senggolan bahu yang memicu emosi.

Fenomena ini mencerminkan potret sebagian remaja masa kini. Demi eksistensi, mereka rela melakukan tindakan nekat, termasuk kekerasan, hanya untuk diakui sebagai yang paling kuat dan berkuasa. Energi besar yang seharusnya diarahkan pada hal positif justru terkuras untuk sesuatu yang salah.

Akar Masalah: Sekularisme dan Krisis Identitas

Akar dari problem ini tidak terlepas dari sistem sekuler-kapitalis yang menilai seseorang berdasarkan fisik, kekuatan, dan pengaruh semata. Generasi remaja pun tumbuh dalam pola pikir kompetisi yang salah kaprah, bahkan menganggap kekerasan sebagai tren kekinian.

Media sekuler turut memperparah keadaan dengan menampilkan konten penuh kekerasan. Tokoh laki-laki yang digambarkan sebagai jagoan tangguh menjadi standar eksistensi diri bagi remaja. Sementara itu, negara kurang maksimal memberikan arah pendidikan yang benar. Akibatnya, remaja kehilangan batasan dan tujuan hidup, menjalani hari tanpa pedoman yang jelas.

Sungguh miris, pendidikan saat ini dijejali nilai-nilai sekuler yang menjauhkan generasi dari agama. Bagaimana mungkin lahir generasi terbaik jika standar perilakunya dipisahkan dari Islam?

Islam: Menyuburkan Generasi Gemilang

Berbeda dengan sistem sekuler, Islam memiliki pandangan jelas dalam mendidik generasi. Dalam Islam, pendidikan diarahkan untuk mencetak pribadi Islam (syaksiyyah Islamiyyah), membekali dengan tsaqafah Islam, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

Generasi yang dihasilkan bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga beriman dan bertakwa, sehingga mampu berkontribusi positif bagi umat. Selain itu, media dalam sistem Islam akan dijaga dari konten-konten yang merusak akhlak. Sebaliknya, media didorong menayangkan konten yang mengedukasi dan memperkuat keimanan.

Sejarah membuktikan, peradaban Islam pernah melahirkan tokoh-tokoh luar biasa seperti Al Khawarizmi (penemu angka nol), Ibnu Firnas (perintis teknologi terbang), Ibnu Haitam (perintis optik), dan Ibnu Sina (pakar kedokteran). Mereka tidak hanya unggul dalam ilmu dunia, tetapi juga kokoh dalam ketakwaan.

Oleh karena itu, solusi sejati untuk membangun generasi gemilang hanya ada pada implementasi Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan kembali pada Islam, akan lahir generasi yang tidak sekadar mencari eksistensi, tetapi juga mampu menorehkan prestasi dan menjaga peradaban umat. Wallahu a‘lam bishshawab.[]

Comment