Global March to Gaza, Nurani Masyarakat Dunia Bergerak

Opini1237 Views

 

Penulis: Laila Rizki, S. Kom | Mahasiswi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Gerakan Global March to Gaza, yang berlangsung dari Al-Arish menuju Gerbang Rafah, menarik perhatian dunia internasional sebagai upaya kolektif untuk menunjukkan protes atas krisis kemanusiaan di Palestina. Konvoi ini melibatkan ribuan orang dari berbagai negara. Mereka memberikan kontribusi sebagai perwakilan moral dan manusia, bukan sebagai perwakilan diplomatik resmi.

Ribuan orang berkumpul di Gerbang Rafah dari Al-Arish, mewakili berbagai suku dan benua. Mereka bukanlah diplomat. Tidak ada mandat resmi dari negara. Mereka membawa keyakinan bahwa solusi atas masalah kemanusiaan di Palestina tidak dapat ditunda lagi. (Republika.co.id, 14/06/2025).

Munculnya gerakan Global March to Gaza menunjukkan kemarahan yang luar biasa dialami oleh masyarakat. Ini membuktikan bahwa pemerintah dan lembaga internasional tidak dapat diandalkan.

Lembaga-lembaga internasional dan para penguasa hari ini bungkam terhadap apa yang dialami oleh rakyat Gaza, sehingga membuat seluruh manusia dari berbagai lintas negara bersatu dan mengikuti aksi kemanusiaan pada gerakan ini.

Aksi kemanusiaan yang dilakukan pada gerakan ini merupakan bukti nyata terhadap kesadaran umat akan ketidakpedulian pemimpin dunia  terhadap apa yang terjadi di sana.

Tertahannya mereka di pintu Rafah menunjukkan bahwa upaya kemanusiaan apapun tidak akan pernah dapat menyelesaikan masalah Gaza, karena nasionalisme dan gagasan negara bangsa adalah penghalang terbesar yang berhasil diciptakan penjajah di negara-negara kaum muslim.

Kobaran semangat dan persatuan yang dimiliki oleh umat yang mengikuti gerakan ini ternyata masih memiliki hambatan yang membuat mereka tertahan dan tidak bisa masuk ke wilayah Gaza.

Inilah yang terjadi saat adanya sekat-sekat nasionalisme yang dibangun oleh negeri penjajah. Alhasil, aksi kemanusiaan yang dibangun oleh umat tidak bisa dilaksanakan dengan sempurna.

Paham nasionalisme pun telah menghancurkan moral para penguasa muslim dan tentaranya. Mereka rela membunuh saudara seakidah mereka di depan umum dan bahkan berpartisipasi dalam pembantaian demi mendapatkan simpati negara adidaya yang menjadi tumpuan kekuasaan mereka, Amerika Serikat.

Amerika merupakan negara yang memiliki peran di berbagai bidang di sistem hari ini, sehingga membuat berbagai negara tunduk pada peraturan yang dimiliki oleh Amerika. Hal inilah yang membuat berbagai negara bungkam terhadap isu kemanusiaan di Palestina.

Umat Islam harus menyadari bahayanya menganut pemahaman nasionalisme dan gagasan negara bangsa dari perspektif pemikiran dan sejarah. Keduanya digunakan secara bersamaan oleh musuh Islam untuk menghancurkan kepemimpinan Islam global dan mempertahankan penjajahan mereka atas wilayah Islam.

Bagi umat muslim, tindakan ini menjadi tamparan keras karena fakta bahwa umat muslim menghadapi masalah besar yang membuat rakyat Palestina mengalami penderitaan yang tidak kunjung usai, yaitu kerusakan ukhuwah atas dasar iman. Seperti yang disebutkan dalam hadits Rasulullah Saw., orang muslim ini banyak, tetapi mereka seperti buih di lautan, tidak memiliki kekuatan apa pun.

Padahal Islam memiliki pandangan bahwa umat muslim diibaratkan satu tubuh, sehingga jika salah satu tubuh mengalami luka, tubuh lainnya akan merasakan sakit juga. Karena itulah, umat Islam harus menyadari akan bahayanya sekat-sekat nasionalisme yang membuat persaudaraan satu sama lainnya menghilang dalam diri umat muslim.

Selain itu, umat Islam harus menyadari bahwa dalam upaya menyelesaikan konflik Palestina, mereka harus bertindak melalui gerakan politik Internasional, dengan tujuan membongkar sekat negara bangsa dan membangun kepemimpinan politik Islam global.

Solusi pada konflik Palestina tidaklah hanya sekadar memberikan doa, diplomasi dan material saja, namun haruslah sampai mengakar, agar persoalan tersebut tidak lagi menerpa rakyat Palestina dan seluruh umat muslim di wilayah lain.

Sebenarnya, yang diperlukan dalam masalah ini adalah menisbikan batas nasionalisme agar umat berada dalam satu wilayah kepemimpinan Islam global.

Oleh karena itu, sangat penting untuk bergabung dengan gerakan politik ideologis yang berjuang tanpa batas dan telah terbukti secara konsisten mendukung penegakkan kepemimpinan politik Islam tersebut di banyak tempat.

Maka dari itu, umat muslim harus berusaha menghilangkan nasionalisme yang menghalangi mereka untuk bersatu di seluruh dunia dan membentuk kepemimpinan politik Islam global yang dapat berhadapan dengan kekuatan adidaya yang ada di balik kekuatan zionis di Palestina.[]

Comment