by

Guruku Sayang, Guruku Malang

-Opini-31 views

 

 

Oleh : Dinar Khair

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) guru honorer menjadi kemelut yang dilematis. Di satu sisi, Menteri Nadiem Makarim memberikan solusi berupa tes agar bisa menjaring guru honorer untuk mendapatkan gaji yang lebih layak. Namun, di sisi lain, banyak guru honorer yang sudah lanjut usia kesulitan mengikuti tes karena banyak faktor. Rata-rata, karena kemampuan fisik yang tidak kuat atau tidak melek teknologi.

Irwan Fecho, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat mengkritisi proses pengangkatan guru honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang harus melalui seleksi di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dia berpandangan proses seharusnya dilakukan berdasarkan masa pengabdian seseorang sebagai guru. Menurutnya juga, guru yang telah cukup masa mengabdinya seharusnya tidak mengikuti proses seleksi lagi karena akan mengalami kesulitan bersaing dengan guru yang masih muda masa pengabdiannya.

Seharusnya masa pengabdian cukup untuk menjadi alasan menambah kesejahteraan guru-guru honorer yang gajinya kebanyakan tidak layak ini.

Video yang viral akhir-akhir ini pun mengusik nurani. Seorang guru yang sudah berumur kesulitan membaca soal-soal di layar komputer karena kurangnya pengelihatan, bahkan ada pula yang sudah kesulitan berjalan hingga harus dipapah menuju kelas. Banyak yang beranggapan bahwa hal ini tidak sepadan dengan pengorbanan yang sudah mereka lakukan untuk mencerdaskan anak bangsa.

Guru Sejahtera Dalam Naungan Islam

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِذَامَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْاقَالُوْ ايَارَسُوْلَ اللَّهِ ,وَمَارِيَاضُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ مَجَالِسُ الْعِلْمِ.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Ketika lewat kalian di taman-taman surga, maka singgahlah. Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apa taman-taman surga itu? Rasulullah menjawab: taman-taman surga itu adalah majelis-majelis ilmu.”

Begitulah Islam mengibaratkan majelis ilmu sebagai taman yang indah. Tidak tanggung-tanggung, bahkan kabarnya seperti taman di syurga. Kemuliaan seorang guru juga pembelajarnya sering disebut-sebut di dalam hadits yang mulia.

Maka sudah tentu bila Islam pulalah yang sanggup memuliakan seorang guru. Sejalan dengan pemahaman di dalam syariat Islam yang menempatkan pendidikan sebagai salah satu pilar penting dalam membangun peradaban, maka Islam menempatkan hukum menuntut ilmu pada posisi yang wajib.

Bahkan siapa saja yang berada pada majlis ilmu tersebut, maka malaikat akan berkumpul dan mendoakan orang-orang yang berada di dalamnya.

Deretan kemuliaan inilah yang akhirnya mempengaruhi visi Islam dalam mengurai berbagai kebijakan pendidikan.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madinah yang mengajar anak-anak dan Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar setara dengan 4,25 gram emas, berarti 15 dinar = 63,75 gram emas. Bila saat ini 1 gram emas seharga Rp. 700 ribu, berarti gaji guru pada saat ini setiap bulannya sebesar 44.625.000).

Islam tidak setengah-setengah dalam memuliakan seorang guru. Menyejahterakan guru sama dengan menghasilkan generasi yang jauh lebih baik. Mereka tidak perlu ketakutan hidup berkekurangan apalagi harus terdistraksi untuk mencari banyak uang tambahan demi memenuhi periuk nasi. Pada akhirnya guru-guru yang hidupnya sudah tercukupi ini akan fokus memberikan yang terbaik pada pelajar yang sedang menggali ilmu darinya. Sarana juga prasarana pendidikan akan ia penuhi dengan baik guna memberikan yang terbaik bagi anak didik.

Bahkan adab terhadap guru pun menjadi hal yang sangat penting dipelajari oleh pelajar sebelum memasuki jenjang keilmuan. Adab sebelum ilmu. Tiga kata itulah yang menjadi pegangan seorang muslim sejak 13 abad yang lalu.

Hal ini bukan isapan jempol atau hal utopis yang menjadi angan semata. Sejarah mencatat bahwa peradaban Islamlah yang berhasil mencetak generasi terbaik hingga menjadi mercusuar ilmu pengetahuan pada masanya.

Bukan hanya ilmu agama, tapi ilmu umum yang berkaitan dengan sains dan teknologi pun berhasil dicetak oleh generasinya. Literatur-literatur pada zaman inilah yang pada akhirnya menjadi acuan bangsa-bangsa lain untuk belajar lebih dalam terutama pada era kegelapan.

Bila benar pada akarnya, maka akan benar pada cabangnya. Sudah seharusnya kita berfokus pada hal mendasar yang harus dibenahi agar tidak terjadi masalah yang berulang di kemudian hari.

Allah ta’ala berfirman, “Tidaklah pantas bagi seorang lelaki yang beriman, demikian pula perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara lantas masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

“Bukankah Allah adalah sebaik-baik pemberi ketetapan hukum?” (QS. At-Tiin: 8).

Maka kembali pada aturan yang Allah tetapkan adalah solusi terbaik. Menempatkan keimanan pada tempatnya, lalu menjadikan hukum Allah sebagai acuan akan menyelamatkan manusia. Bagaimana tidak? Allah adalah pencipta sekaligus pengatur kehidupan alam semesta. Wallahualam bishawab.[]

____

Footnote:
kliksumatera.com, sindonews.com

Comment

Rekomendasi Berita