by

Hardita Amalia, M.Pd.I*: Ironis Nasib Tenaga Medis

-Opini-60 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Wabah covid 19 di Indonesia kian massif menyebar di berbagai daerah hingga terkonfirmasi positif akumulatif menjadi 5.136 orang pada hari ini tanggal 16 april 2020.

Di sisi lain kita melihat potret yang begitu mengenaskan yang dialami oleh para tenaga medis Indonesia saat mereka berjuang menghadapi badai virus covid 19. Minimnya Alat Pelindung Diri ( APD ) hingga banyaknya tenaga medis yang meninggal dunia akibat menangani pasien covid 19.

Melansir data Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan Reformasi (FSP FARKES/R) mencatat, 44 tenaga medis meninggal dunia akibat terinfeksi virus corona. Rinciannya, 32 dokter dan 12 perawat.

Bahkan terdapat data tambahan terbaru mengutip dari kompas.com (17/04/2020 ) terdapat 46 tenaga medis yang bertugas di RSUP Dr Kariadi Semarang dinyatakan positif corona.

Di sisi lain para tenaga medis pun mengeluh terkait Alat pelindung diri (APD) menjadi senjata yang sangat penting bagi mereka untuk menjalani tugas dan tanggung jawab. Namun sangat disayangkan bahwa kelangkaan APD hingga kini masih terus terjadi.

Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengakui meski pemerintah telah mendistribusikan APD untuk tenaga medis pekan lalu hingga ratusan ribu unit tetapi jumlahnya masih kurang. Sebab, APD sebenarnya hanya bisa digunakan sekali pakai padahal jumlah kasus dan pasien bertambah.

Ironis memang ketika wabah yang mematikan ini mengakibatkan 5.136 korban namun pemerintah tidak siap untuk menyelesaikannya.

Presiden Joko Widodo akhirnya blak-blakan soal alasan tak memutuskan karantina wilayah atau lockdown sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona.

Melansir dari kompas.com (2/04/2020) Presiden Jokowi menyebut lockdown tak menjadi pilihan karena akan mengganggu perekonomian.

Dalam situasi wabah COVID-19 di Indonesia saat ini, dengan korban yang terus bertambah setiap harinya dan para tenaga medispun menjadi korban seharusnya pemerintah Jokowi mengikuti perintah Undang-Undang memilih jalan Lockdown wilayah.

Bila merujuk pasal 53, 54 dan 55 Undang-Undang nomor 6 tahun 2018 dijelaskan tentang karantina wilayah atau lockdown lokal.

Dalam pasal 53, 54 dan 55 Undang-Undang nomor 6 tahun 2018 itu dijelaskan tentang karantina wilayah atau lockdown lokal. Ini juga secara umum sering disebut lockdown saja.

Syarat terkait implementasi lockdown yakni jika terjadi penyebaran penyakit di antara masyarakat secara luas. Kondisi seperti ini harus dilakukan penutupan wilayah untuk menangani wabah ini.

Wilayah yang dikunci diberi tanda karantina, dijaga oleh aparat, anggota masyarakat tidak boleh keluar masuk wilayah yang dibatasi dan kebutuhan dasar mereka wajib dipenuhi oleh pemerintah.

Maka penulis berharap pemerintah mengambil langkah serius dan melakukan lockdown nasional serta tetap memenuhi kebutuhan rakyat sebagai upaya serius menyelamatkan jutaan nyawa rakyat Indonesia tak terkecuali para tenaga medis yang menjadi garda terdepan menyelesaikan wabah covid19 di Indonesia.[]

*Dosen, Peneliti Anggota Asosiasi Dosen Ilmu Keislaman Sosial Nasional

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × one =

Rekomendasi Berita