by

Hari Aksara Internasional 2021 Berbasis Literasi Digital: Antara Kemajuan dan Penjajahan

-Opini-82 views

 

Oleh: Puput Hariyani, S.Si, Praktisi Pendidikan

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) Tahun 2021 telah digelar baik di level nasional maupun daerah. Dalam gelaran acara puncak HAI ke-56 yang dilaksanakan pada 8 September 2021 ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengangkat tajuk ‘ Digital Literacy for Indonesia Recovery”.

Kemendikbudristek berharap program pendidikan keaksaraan dapat menjadi lebih adaptif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Selain itu juga sebagai wujud komitmen Indonesia dalam pengentasan buta aksara dan melaksanakan komitmen Internasional yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sementara di level daerah Pemprov Jatim memilih Banyuwangi sebagai tuan rumah Hari Aksara Internasional yang digelar pada tanggal 30-31 Oktober 2021 lalu yang bertempat di Hotel El Royal Banyuwangi dengan mengangkat tema ‘Literasi Digital Berbasis Kearifan Lokal’.

Pada kesempatan ini, Gubernur Jawa Timur Khafifah Indar Parawangsa melalui pidatonya mengajak semua stakeholder untuk memperhatikan literasi digital. Menurutnya, tantangan kita hari ini adalah literasi digital. Bagaimana menumbuhkan digital skill, digital ethnic, digital cultural dan digital safety.

Gubernur juga berharap Peringatan Hari Aksara Internasional ini menjadi momentum untuk melaksanakan akselerasi program-program penguatan berbasis literasi digital untuk mempersiapkan generasi mendatang agar siap menghadapi era revolusi industri 4.0 namun tetap mengaplikasikan kearifan lokal dalam setiap program yang dilaksanakan.

Gayung bersambut, dalam pidato sebelumnya Bupati Banyuwangi, Ibu Ipuk Fiestiandani turut mengingatkan bahwa peringatan ini harus dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan gerakan pemberantasan buta aksara yang hampir menuju 100%.

Dengan melek aksara, ia berharap bisa meningkatkan literasi digital yang hari ini digarap secara serius oleh Pemkab Banyuwangi. Beberapa hal telah dilakukan semisal Peluncuran ‘Teman Usaha Rakyat’ sebagai komunitas yang dipelopori pemuda untuk mendampingi pelaku UMKM agar memiliki legalitas atas hasil produksi berupa sertifikasi atau BPOM. Kemudian pelatihan-pelatihan UMKM, peluncuran komunitas Jagoan Tani, Jagoan Bisnis juga Jagoan Digital untuk menaikkan kelas masyarakat Banyuwangi di level Nasional lewat UMKM yang kini berada pada angka 16% di level nasional.

Literasi digital juga dikaitkan dengan program kota cerdas atau Smart City yang sempat disabet oleh Bumi Belambangan dalam penghargaan layanan publik digital. Banyuwangi juga masuk dalam anggota SMART CITY SNAPWORK untuk mempercepat sekaligus merespon tantangan RI 4.0.

Berdasarkan Kerangka kerja literasi digital sebagaimana diungkap oleh Gubernur, Kementerian Kominfo menyusun empat pilar dalam Roadmap Literasi Digital 2021-2024. Kementerian Kominfo melalui Ditjen Aptika juga sedang melakukan kerjasama dengan 108 stakeholders untuk memberikan literasi digital di 514 Kabupaten/Kota. Empat pilar literasi ini, Digital skill, digital culture, digital ethics dan digital safety diharapkan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat di ruang digital.

Digital skill berkaitan dengan kemampuan individu dalam upaya mengetahui, memahami, dan menggunakan perangkat keras, perangkat lunak serta sistem operasi digital dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat dituntut untuk memiliki keterampilan dalam dunia digital agar cepat adaptif terhadap berbagai kebutuhan pasar kerja.

Selanjutnya digital culture yang merupakan bentuk aktivitas masyarakat di ruang digital dengan tetap memiliki wawasan kebangsaan, nilai-nilai Pancasila, dan kebhinekaan.

Hal ini berdasar pada aktifitas medsos yang dianggap oleh sebagian masyarakat tidak ada aturan dan tata kramanya padahal sebenarnya sama antara aktivitas di medsos maupun secara riil. Area digital sering dijadikan media untuk bullying, penodaan, penghinaan, ujaran kebencian, juga pencemaran nama baik. Bisa jadi itu semua dilakukan bukan karena tidak paham, tetapi justru mereka berpegang pada konsep kebebasan yang selama ini memang didengungkan. Nah pada point’ ini, jelas ukuran kebebasan menjadi rancu dan absurd untuk direalisasikan.

Digital ethics adalah kemampuan menyadari mempertimbangkan dan mengembangkan tata kelola etika digital (netiquette) dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana jamak dipahami area digital bisa diakses oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun tanpa ada filter. Segala konten disajikan secara vulgar. Bahkan ketika kita ingin membuka konten tertentu maka banyak keluar konten yang tidak sepantasnya.

Digital ethics ini domainnya lebih pada pemakai bagaimana seharusnya bersikap. Dalam hemat penulis, hal ini juga kurang relevan dan masih dirundung berjubel pertanyaan. Digital culture bisa saja dipakai oleh mereka yang memiliki keimanan dan kesadaran menjadi warga negara yang baik dengan tetap berpegang pada norma yang berlaku, bagaimana jika bangunan takwa individunya rapuh? Apakah bisa? Jelas tidak mampu menahan berbagai hempasan kebebasan di sosmed, mungkin saja justru menjadi penikmat apalagi generasi muda.

Terakhir digital safety, sebagai kemampuan masyarakat untuk mengenali, menerapkan, meningkatkan kesadaran perlindungan data pribadi dan keamanan digital. Namun apakah hal ini juga mungkin? Mengingat Pemanfaatan Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan dan big data yang berkelindan dengan program target publikasi internasional, misalnya. Mempermudah terbentuknya big data, terkumpulnya data pada scopus. pangkalan data milik penerbit raksasa Elsevier. Diberitakan pada laman www.elsevier.com, tentang rencana baru antara Elsevier dan Euretos, berupa penggunakan data besar dan pembelajaran mesin sehingga dapat memindai jutaan artikel jurnal dan ratusan database.

Keterampilan literasi digital dalam kerangka RI 4.0 tidak lebih dari penjajahan terselubung terlebih bagi generasi muda. Bergesernya fokus HAI ke keterampilan literasi digital dimaksudkan agar relevan dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih. Generasi mendatang dipersiapkan untuk menghadapi tantangan global RI 4.0.

Selaras dengan bingkai SDG’s untuk menggenggam kuat potensi sekaligus pemberdayaan generasi. Pemuda ditarget memiliki skill literasi digital untuk memenuhi target kebutuhan tenaga kerja murah dan pasar konsumen bisnis kapitalisme global.

Mereka diposisikan sebagai sapi perah untuk menderek perekonomian dunia yang telah sekarat di bawah kepemimpinan kapitalisme. Sekaligus membungkam sikap kritis generasi dan menyibukkan mereka untuk bersaing dalam dunia kerja dengan berbagai bentuknya melalui kemajuan teknologi digital.

Orientasi Literasi dalam Islam Adalah Kemaslahatan Bukan Penjajahan

Islam adalah peradaban yang sangat agung. Keagungan peradabannya terpancar sejak pertama kali wahyu diturunkan. “Membaca” adalah wahyu pertama yang diterima oleh Rasul SAW. Melek aksara menjadi point penting yang wajib dituntaskan. Tak heran jika Islam menjadi peletak dasar Pendidikan dunia yang menyilaukan.

Islam pula yang mengajarkan bahwa kaum muslimin harus menjadi _Pioneer_ dalam kehidupan dunia juga juhud dalam perkara akhirat. Menjadi Khalifah fil ard meniscayakan seorang muslim berlomba menjadi pribadi yang memiliki kapabilitas mumpuni dalam multidemensi kehidupan manusia.

Hal ini tak luput dari perhatian besar negara yang mendorong dan memfasilitasi berbagai pencerdasan di tengah-tengah mereka.

Negara memastikan pemimpinnya menjadi penanggung jawab seluruh urusan umat salah satunya di bidang pendidikan dengan memastikan seluruh warga mendapatkan pendidikan yang layak. Negara wajib menyediakan pendidikan berkualitas juga bebas biaya. Dilengkapi fasilitas pendukung dan tenaga pengajar yang berkompeten serta memiliki jiwa pengajar yang baik.

Teladan Rasul SAW sebagai kepala negara saat itu pernah memberi syarat untuk penebusan tawanan perang Badar, yaitu masing-masing tawanan yang bisa membaca dan menulis harus mengajarkan tulis-menulis kepada 10 anak kaum Muslimin. Inilah potret pemimpin yang menempatkan literasi dalam posisi penting. Dari langkah cerdas ini lahir para penulis wahyu yang hingga kini karyanya kita nikmati sebagai the way of life.

Dalam perkembangannya, ilmu literasi menjadi dasar berbagai penemuan. Lahirlah para ilmuwan muslim dalam berbagai disiplin ilmu. Kita mengenal Ibnu Sina (Avicenna) yang mendapat julukan Father of Doctor saking besarnya kontribusi di bidang kedokteran, Al Zahrawi sebagai ahli ilmu bedah, Al Khawarizmi seorang ilmuwan yang sangat berjasa dalam bidang matematika, penemu angka nol, algoritma, trigonometri juga astronomi. Abbas Ibn Firnas penemu ide pesawat, dll.

Mungkin kita juga tidak pernah menyangka di balik penemuan dan industri teknologi saat ini ada sentuhan ilmuwan muslim di belakangnya. Hal ini membuktikan ilmuwan muslim juga tidak kalah dan sangat diakui dalam bidang teknologi. Sebut saja Ibnu Al-Haitham menjadi salah satu tokoh Islam yang berpengaruh di dunia teknologi. Ilmuwan ini menciptakan teknologi optik yang saat ini digunakan pada perangkat kamera.

Hanya saja orientasi berbagai penemuan ilmuwan muslim ditujukan untuk kemaslahatan seluruh umat bukan penjajahan.

Prof.Ing Fahmi Amhar pernah berseloroh bahwa “Teknologi jika tidak di tangan umat Islam, cenderung menjajah. Umat Islam tanpa teknologi cenderung terjajah.“ Oleh karenanya, seorang muslim terutama pengemban dakwah harus peka, cerdas bersikap dan tepat dalam bertindak sehingga mampu menangkap perubahan dengan cepat dengan kepemimpinan Islam. Wallahu’alam bi ash-showab.[]

Comment

Rekomendasi Berita