Hari Dalam Konteks Bulan Hijriyyah Dimulai Saat Waktu Maghrib Tiba

Opini709 Views

 

Penulis: Amir Kumadin | Alumni IAIN Walisongo Semarang, Direktur Penerbit Intuisi Press, Penulis Lebih dari 15 Judul Buku

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dalam sistem penanggalan Islam, pergantian hari tidak dimulai pada pukul 00.00 sebagaimana dalam kalender Masehi, melainkan sejak waktu Maghrib tiba. Artinya, saat adzan Maghrib berkumandang, sejak itulah hari baru dalam kalender Hijriyyah dimulai.

Awal hari dan tanggal dalam bulan serta tahun Hijriyyah terhitung sejak Maghrib. Sebagai contoh, ketika Senin pagi bertepatan dengan 23 Februari 2026 M atau 5 Ramadhan 1447 H, maka saat Maghrib tiba pada hari itu, secara Hijriyyah telah masuk hari berikutnya, yakni Selasa malam. Dalam konteks ini, istilah yang tepat adalah “Selasa Malam” atau “Hari Selasa”, bukan lagi “Senin Malam”.

Jika keesokan harinya telah memasuki waktu pagi atau siang, maka disebut “Selasa Pagi”, “Selasa Siang”, atau cukup “Hari Selasa”. Di sinilah muncul apa yang dapat disebut sebagai irisan hari—perbedaan sudut pandang antara kalender Hijriyyah dan kalender Masehi.
Irisan tersebut berlangsung kurang lebih enam jam, yakni sejak Maghrib (sekitar pukul 18.00) hingga pukul 00.00 tengah malam.

Dalam rentang waktu itu, menurut kalender Masehi masih terhitung “Senin Malam”, tetapi dalam kalender Hijriyyah sudah masuk “Selasa Malam” atau “Hari Selasa”.

Karena itu, dalam konteks Hijriyyah, penyebutan hari yang diawali dengan kata “malam” seperti “Malam Senin”, “Malam Selasa”, atau “Malam Jumat” sejatinya tidak tepat. Yang benar adalah “Senin Malam”, “Selasa Malam”, “Jumat Malam”, dan seterusnya.

Namun demikian, penggunaan dua istilah tersebut bisa saja terjadi secara bersamaan, bergantung pada konteks apakah yang dipakai adalah sistem Masehi atau Hijriyyah.

Dalam berbagai hadits Nabi saw., penjelasan tentang keutamaan hari, bulan, dan ibadah selalu merujuk pada sistem tanggal, bulan, dan tahun Hijriyyah.

Shalat Tarawih, misalnya, dimulai pada 1 Ramadhan, dan tanggal 1 Ramadhan itu sendiri telah dimulai sejak Maghrib tiba. Pergantian tanggal dalam Hijriyyah berjalan seiring dengan pergantian hari.

Ini menunjukkan bahwa dalam praktik ibadah, umat Islam sesungguhnya menggunakan perspektif waktu berdasarkan kalender Hijriyyah. Kalender ini disusun berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi.

Sementara kalender Masehi—atau Syamsiyah—mengacu pada peredaran bumi mengelilingi matahari.
Adapun penentuan waktu-waktu shalat didasarkan pada posisi matahari, yang bersifat lebih universal dan astronomis.

Dengan demikian, terdapat perbedaan dasar perhitungan antara kalender Hijriyyah dan Masehi, meskipun keduanya sama-sama memiliki fungsi penting dalam kehidupan manusia.

Karena itu, sebagai umat Islam, sudah selayaknya kita tidak hanya mengenal dan menggunakan kalender Masehi, tetapi juga menghafal serta membiasakan diri menggunakan kalender Hijriyyah dalam kehidupan sehari-hari.

Kesadaran ini bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan bagian dari identitas dan tradisi ilmiah Islam yang berakar pada sains peredaran benda langit.

Sudah saatnya kita membangun pola pikir baru—cara pandang yang lebih utuh dalam memahami waktu. Dengan begitu, pengetahuan tentang sistem Hijriyyah tidak berhenti sebagai teori, tetapi menjadi kebiasaan dan karakter dalam menjalani kehidupan yang singkat ini.[]

Comment