Harusnya Tempat Nyaman tetapi Menjadi Ancaman

Opini468 Views

Penulis: Evalasari, S. Pd | Tenaga Pendidik

 

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA– Berita pilu kembali menggetarkan hati para ibu di seluruh Indonesia. Tempat yang semestinya menjadi ruang aman dan penuh kasih bagi anak-anak, justru berubah menjadi ruang yang menakutkan. Anak-anak yang seharusnya tumbuh ceria dan aktif, justru dirampas kebebasannya dengan perlakuan yang tidak manusiawi.

Sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, bayi dan balita yang dititipkan sibtemoattersebut diduga diikat pada bagian tangan dan kaki sejak tiba di lokasi pada pagi hari. Tindakan tersebut bahkan disebut sebagai bagian dari “metode pengasuhan” yang rutin dilakukan di tempat tersebut.

Fakta ini tentu menimbulkan luka mendalam bagi para orang tua. Daycare selama ini dipandang sebagai tempat terpercaya untuk menitipkan anak saat orang tua bekerja.

Mereka tidak hanya menitipkan, tetapi juga mempercayakan keamanan, kenyamanan, bahkan pendidikan anak dengan biaya yang tidak sedikit. Namun, kepercayaan itu justru dikhianati. Anak-anak diperlakukan secara tidak layak—diikat, bahkan hanya mengenakan popok—tanpa sepengetahuan orang tua. Tidak ada orang tua yang sanggup menerima kenyataan pahit seperti ini.

Di tengah keprihatinan tersebut, berbagai opini bermunculan di ruang publik. Sebagian pihak menyalahkan ibu karena bekerja dan menitipkan anak.

Sementara yang lain melihat kondisi tersebut sebagai keterpaksaan, terutama bagi ibu yang berstatus sebagai orang tua tunggal dan harus mencari nafkah.
Terlepas dari perdebatan itu, penting melihat persoalan ini secara lebih mendasar.

Dalam pandangan Islam, perempuan bekerja pada dasarnya diperbolehkan (mubah), selama mendapat izin suami, tidak mengabaikan tanggung jawab terhadap anak, serta pekerjaan yang dilakukan bersifat halal dan membawa manfaat.

Namun, persoalan tidak berhenti pada pilihan individu. Sistem kehidupan yang saat ini didominasi oleh orientasi materialistik turut memengaruhi cara pandang banyak pihak.

Dalam sistem kapitalistik, keuntungan sering kali menjadi tujuan utama. Tidak jarang, layanan seperti daycare diposisikan semata sebagai ladang bisnis, sehingga aspek kasih sayang, pendidikan, serta keamanan anak terabaikan. Anak-anak diperlakukan layaknya objek, bukan amanah yang harus dijaga.

Di sisi lain, peran negara juga patut menjadi sorotan. Negara seharusnya hadir untuk menjamin kesejahteraan masyarakat, termasuk memastikan sistem pengasuhan anak berjalan dengan aman dan manusiawi.

Ketika tekanan ekonomi tinggi dan pengawasan lemah, berbagai penyimpangan mudah terjadi. Akibatnya, masyarakat terjebak dalam situasi yang serba sulit, di mana kebutuhan ekonomi sering berbenturan dengan kebutuhan pengasuhan anak.

Realitas ini menunjukkan bahwa persoalan yang terjadi bukan sekadar kesalahan individu, melainkan bagian dari persoalan sistemik. Ketika orientasi hidup semata-mata diarahkan pada materi, nilai-nilai kemanusiaan perlahan terpinggirkan.

Padahal, hakikat kebahagiaan tidak semata diukur dari materi, melainkan dari ketenangan, keadilan, dan terpenuhinya hak-hak dasar manusia, termasuk anak-anak.

Karena itu, tidak berlebihan jika solusi atas persoalan ini perlu dikembalikan pada nilai-nilai yang lebih mendasar, yakni aturan Ilahi yang menempatkan manusia—terutama anak-anak—sebagai amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang.
Wallahua’lam bishawab.

Comment