by

Hawilawati, S.Pd*: Ada Cinta Di Balik Hijab

-Opini-49 views

 

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pada hakikatnya manusia makhluk yang ingin mencintai dan dicintai. Jika membahas ini tentu hati berbunga-bunga ya sobat.

Dan bagaimana rasanya tatkala membaca lembaran surat dari yang kita cintai ? maa syaa Allah deg-deg ser. Serasa ingin membacanya berulang-ulang, bahkan kata demi kata yang tersurat tak luput dari pencarian makna yang terkandung di dalamnya.

Untuk mencintai tentu butuh pengorbanan, begitupun untuk mendapatkan cinta butuh kesabaran dan melakukan apa yang disukai. Sobat, tulisan ini tak ingin mengajak diri menghayal, melayang cinta kepada manusia. Karena cinta manusia itu semu

Tetapi, ingin mengajak mendekap cinta sejati nan hakiki hingga menghujam kuat tak pernah tergoyahkan dengan bisikan setan dari jenis manusia dan jin, hingga cinta untukNya tak akan diduakan. Pemilik cinta hakiki adalah sang pemilik diri ini, yang telah memberikan rupa dan akal nan sempurna.

Tatkala manusia berjalan mendekatNya, maka Dia kan berlari menuju hambaNya. Tatkala manusia memberi satu, maka Dia yang Maha Kaya akan membalasnya sepuluh hingga seratus kali lipat.

Tatkala manusia bersimpuh memohon petunjuk, Dia menjadi pendengar setia. Tatkala manusia meminta sesuatu walau hanya berbisik bahkan tak berkata sepatah katapun, Dia sangat tahu apa yang tersimpan di lubuk hati yang paling dalam. Balasan cintaNya luar biasa, sangat besar tak tanggung-tanggung.

Sobat, Cukup berpikir sederhana apa yang terjadi pada diri kita, Layakkah diri memperoleh cinta hakikiNya, bahkan berharap banyak meminta sesuatu yang lezat dan indah-indah, ingin sehat, ingin kaya, ingin sukses, bahkan ingin masuk surgaNya. Namun enggan melakukan apa yang Dia perintahkan?

Hmm, ayah kita saja berat memberikan uang saku, jika anaknya bangor alias susah diatur bahkan kerap kali nyinyir akan perintahnya bukan. Namun sebaliknya, anak yang berakhlak mulia, menjalankan segala titahnya, tentu sangat disukai orang tua.

Begitupun tatkala lisan ini telah berjanji setia di alam ruh :

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab:

“Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Siumanlah dari amnesia sobat, buktikan dengan segala konsekuensi janji setia kita yang dipancarkan dengan ikhtiar mencintaiNya. Seorang hamba yang mencintai Allah, adalah yang siap taat apa yang disukai dan ditetapkanNya yaitu menjalankan segala perintah dan menjauhkan larangNya.

Tentu cinta ini ingin berbalas, tidak bertepuk sebelah tangan. Sehingga agar diri dicintaiNya, harus ikhlas melakukan segala sesuatu yang disukaiNya yaitu memperbanyak amalan sunnah, menjauhkan perkara makruh ataupun syubhat.

Ketika cinta itu berbalas, maka manusia akan merasakan manisnya iman.

Allah berfirman dalam hadis qudsi :

فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا .

“Jika Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan mendengar, penglihatannya yang dia gunakan melihat, tangannya yang dia gunakan memukul dan kakinya yang digunakan berjalan.”

Hijab adalah salah satu perintah Allah yang wajib digunakan bagi muslimah yang sudah baligh untuk menutup auratnya. Adapun perintah tersebut, terdapat dalam sabda Rosulullah Saw :

Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, ‘Wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini’, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya.(HR.Abu Daud, dari ‘Aisyah radhiallahu’anha)

Bahkan Allah telah mendesainkan busana terbaik kita dengan Jilbab dan Khimar, agar muslimah terjaga keiffahan dan kehormatannya. Ya hijab adalah pilihan. Pilihan sang maha pemberi kesempurnaan tubuh ini yaitu Allah Azza Wajalla untuk kaum wanita yang dimuliakan.

Semua itu tersurat dalam kalimat indahnya, jika diri benar-benar mencintaiNya, tentu akan bergetar membaca dan memahaminya. Rasanya tak bosan untuk mengulang-ulang membaca dan mentadabbur maknanya. Sebaliknya, jika cinta manusia palsu, maka sulit menemukan makna ayat demi ayat yang tersusun indah dalam Al-Qur’an, hati mengeras membatu, berat untuk taat.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab : 59)

Bersyukurlah tatkala diusia dini, orangtua telah mengajarkan kepada kita tentang berhijab. Hal ini sebagai bentuk pembelajaran memahami arti cinta kepada Allah Azza Wajalla. Kelak baligh, diri semakin memahami konsekuensi cinta hakiki yaitu senantiasa taat kepadaNya.

Tetaplah Istiqomah berhijab sobat, sekalipun manusia -manusia jahil, terus menebar narasi rusak terhadap ajaran Allah. Katanya diri mencintai Allah, merindukan Rosulullah, mengharap surgaNya, tapi realitanya terang-terangan berdusta terhadap apa yang Allah titahkan bahkan menebar kebencian terhadap manusia yang berusaha mencintaiNya.

Sungguh apakah ini yang disebut cinta tulus kepadaNya?. Ternyata tidak, MencintaiNya ketika diri benar-benar mengikutiNya.

Seperti firman Allah SWT, “Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikuti aku. Niscaya, kamu akan dicintai Allah dan diampuni dosa-dosamu.” (QS Ali Imran [3]: 31).

Astaghfirullah, pembangkangan terhadap perintah Allah untuk enggan berhijab, semua hanyalah cinta palsu, yang tak memberi kebahagian dan keselamatan hidup.

Kelak, cinta palsu itu bersiap tak berbalas hingga menjadi penyesalan mendalam. Dulu di dunia manusia mengumbar cinta itu dengan kedustaan, maka diakhirat siapkah diri yang lemah, secuilpun tak mendapat cintaNya? Wallahu’alam bishowwab.[]

*Muslimah Peduli Generasi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 − three =

Rekomendasi Berita