by

Desi Nurjanah, S.Si* Siswa Jenuh Dan Bosan Jalani Proses Belajar Daring

-Opini-66 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Survei yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebanyak 58 persen anak tidak senang belajar secara daring karena pembelajaran hanya satu arah, tidak ada komunikasi. Maka, anak-anak lebih senang belajar di sekolah karena dapat bersosialisasi dan interaksi dengan teman-temannya (Tribun Jabar, 14/09/2020).

Terdapat beberapa alasan yang menyebabkan  siswa bosan dengan pola belajar daring. Pertama,  karena kurangnya kreatifitas dan inovasi dalam teknis pengajaran.  Kedua  karena guru hanya berfungsi sebagai fasilitator dalam transfer ilmu.  Ketiga, karena tidak adanya standar baku untuk kurikulum di kala pandemi sehingga semua diserahkan kepada sekolah dan guru.

Selama pandemi, guru dan orang tua bersinergi dengan tetap kreatif dan inovatif mendidik siswa untuk tetap belajar. Karena, guru dan orang tua paham bahwa belajar adalah kewajiban yang harus tetap dilakukan.

Maka kesadaran kewajiban ini yang mesti dipahamkan kepada siswa sehingga senantiasa bersemangat menuntut ilmu karena ada banyak pahala yang akan diraih.

Konsep Islam mengajarkan bahwa tugas guru bukan hanya sekedar fasilitator dan transfer ilmu saja akan tetapi guru juga memiliki peran membentuk syakhsiyah atau kepribadian siswa dan menanamkan tsaqafah atau pemahaman Islam.

Negara segera membuat standar baku untuk kurikulum darurat selama pandemi, salah satunya dengan belajar daring sekaligus  memfasilitasi sekolah, guru dan siswa untuk memudahkan kegiatan belajar seperti internet gratis, alat komunikasi dan alat peraga untuk menghilangkan rasa bosan siswa.

Konsep dasar Islam dalam pendidikan inilah diharapkan dapat diterapkan oleh siswa, guru, orang tua dan negara untuk menghilangkan rasa bosan dalam belajar daring selama pandemi yang entah kapan akan berakhir.

Karena masa depan negara ada di pundak generasi muda, jika generasi muda sudah tidak mau belajar maka akan menimbulkan kehancuran terhadap sebuah bangsa.

Konsep pendidikan Islam ini sering dijumpai di masa pemerintahan Islam yang mampu melahirkan generasi emas seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi dan lain sebagainya. []

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven − two =

Rekomendasi Berita