by

Putri Hanifah, C.NNLP*: Selamat Menjejaki Dunia Kampus

-Opini-18 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Tak terasa ospek online sudah berlalu, apa kabar mahasiswa lama? Sudah puaskah liburannya? Meski masih kurang jatah liburnya, perkuliahan akan tetap dimulai. Waktu akan terus melaju, apabila satu semester tidak ada progress, selamat, resiko ditanggung penumpang.

Tentu kita tidak ingin menjadi kakak tingkat abadi bukan? Adik-adik mahasiswa baru saja sudah bersiap-siap semaksimal mungkin untuk menapaki karir awalnya di dunia kampus, masak iya sebagai mahasiswa tua nggak ngapa-ngapain. Aduh malu!

Selamat datang di dunia kampus dik! Bagaimana rasanya jadi mahasiswa baru? Konon kata orang kalau Malang mulai dingin, tandanya mahasiswa baru akan segera datang. Benar saja ketika mahasiswa baru mulai datang, Kota Malang sedang mengalami transisi musim menuju musim kemarau. Sehingga wajar jikalau suhu di Kota Malang bisa mencapai 15°.

Selamat datang duta-duta pembaharu. Satu gerbang sudah terbuka untuk berproses menjadi insan cendekia. Kalian adalah salah satu dari sekian juta orang pilihan yang beruntung yang mendapatkan kesempatan belajar lebih tinggi lagi setelah tamat dari dunia jenjang wajib belajar selama 12 tahun.

Betapa banyak teman-teman kita yang belum diizinkan untuk duduk di bangku kuliah seperti kalian? Bukankah patut disyukuri dan diapresiasi langkah kalian telah sampai di tahap ini?

Menjadi mahasiswa memang suatu hal yang membanggakan dan patut untuk dinikmati dik, kalian akan mengenal suasana baru, mendapat kenalan baru, pelajaran baru, pokoknya semua serba baru.

Tapi tidak setiap orang mampu dan bahkan mau diposisi menjadi seorang mahasiswa lho. Salah satu dari beberapa faktor terkuat yang melatarbelakanginya adalah ekonomi. Meski kian hari ada harga yang perlu dibayar untuk duduk di perguruan tinggi, namun tetap saja diminati. Buktinya dari tahun ke tahun jumlah pendaftar SNMPTN dan SBMPTN semakin meningkat.

Jadi jangan disia-siakan kesempatan emas duduk di perguruan tinggi itu dik, empat tahun itu tidaklah lama. Bentuk tidak menyia-nyiakan itu bisa kita mulai dengan bersungguh-sungguh menjalani amanah baru yang Allah titipkan di pundak.

Apabila kita bisa menghandle kuliah kita dengan baik, berjalan on the track dengan segala potensi yang kita miliki tentu berprestasi adalah sesuatu hal yang mudah. Kita bahagia dan enjoy di dalamnya. Apabila tidak dik? Yah, seperti hari ini yang kita semua saksikan muncullah millenials, gen z yan terkena penyakit mental yang kian hari semakin kencang gaungnya. Kuliah yang niatnya adalah mereguk ilmu, bisa jadi petaka nantinya.

Selain masalah mental generasi muda, tentu kita tidak lupa peristiwa beberapa hari yang lalu mahasiswa dari berbagai daerah menduduki gedung DPR untuk menyuarakan aspirasinya tentang omnibush law.

Undang-undang ciptaker atau undang-undang sapu jagat itu jelas ada keberpihakan kepada investor dan kurang peduli terhadap rakyat kecil. Menjadi poin plus apabila mahasiswa notice terhadap kebijakan politik seperti ini dan akan lebih bagus lagi jika mahasiswa turut menyambungkan aspirasi rakyat kecil kepada penguasa.

Hanya saja yang perlu digarisbawahi, menyambung aspirasi rakyat tidak sesederhana itu, jangan sampai jadi mahasiswa toples kosong, sudah terlanjur teriak-teriak di depan gedung DPR, tapi yang diteriakkan nggak ada substansinya sama sekali.

Akan menjadi merepotkan lagi jika mahasiswa memberikan solusi yang tidak mengakar secara fundamental dan  justru menyodorkan solusi tambal sulam.

Maka penting bagi kita Dik, untuk memberi pondasi untuk langkah pertama sebelum melangkah lebih jauh. Coba telisik dan garis bawahi pertanyaan “mengapa” sebelum “bagaimana”.

Temukan kekuatan apa yang mendorongmu untuk mengenyam pendidikan di sini. Sehingga tidak ada judulnya kuliah sekedar jalan tapi di tengah jalan nanti kelimpungan. Sebab sebagai insan yang bergelar ‘maha’ kita memiliki sebuah tanggung jawab besar menjadi agent of change, sosial control dan iron stock bagi bangsa dan negeri ini.

Kalau seorang mahasiswa bermasalah, lantas dengan apa dan bagaimana ia hadir di tengah masyarakat? Hadirnya mahasiswa seperti ini tentu bukannya menyelesaikan masalah, tapi  justru menambah masalah.

Apabila strong why itu belum kamu temukan, cari sampai dapat, sekokoh mungkin. Ingat jangan sampai salah. Salah peletakan, salah eksekusi. Mari belajar dari para ilmuwan yang namanya nangkring mengharumkan sejarah, misalnya saja Ibnu Sina. Ulama, cendekiawan, bapak kedokteran modern, penulis produktif yang menelurkan banyak karya di bidang kedokteran yang saat ini masih harum namanya di telinga kita. Atau Al Khawarizmi? Penemu angka nol dan aljabar. Fatimah Al Fihri, muslimah pendiri universitas pertama di dunia.

Mereka adalah ilmuwan-ilmuwan terbaik yang lahir dari rahim peradaban Islam, yang mengerahkan potensi akal dipandu dengan cahaya keimanan dalam menemukan kebenaran.

Sederhana saja sebenarnya, strong why itu bernama Islam yang template-nya sudah digunakan Rasul dan ulama’.  Pondasi mereka amat kokoh hingga mereka mampu membuahkan karya yang sampai saat ini bisa dirasakan dunia.

Peran mahasiswa sebagai agent of change, sosial control dan iron stock bagi bangsa dan negeri ini pun tentu akan terjalankan dengan baik setelah pondasinya tertata rapi.

Sejarah telah membuktikan di tangan generasi mudalah perubahan-perubahan besar terjadi. Dari zaman nabi, kolonialisme hingga zaman reformasi, pemudalah yang menjadi garda depan dengan perannya, merubah kondisi bangsa.

Lantas sekarang apa yang bisa kita lakukan dalam kaitan memenuhi peran iron stock tersebut? Mahasiswa tidak cukup menjadi akademisi intelektual yang hanya duduk mendengarkan dosen di dalam ruangan perkuliahan. Kita harus memperkaya diri kita dengan pengetahuan baik dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan serta turut serta dalam menyuarakan kebenaran.[]

*Mahasiswi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − nine =

Rekomendasi Berita