RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sejarah perjalanan politik aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan perubahan rute politik Islam menjadi salah satu bahasan dalam diskusi bertajuk “Memimpin Rute Baru Politik Islam”. Diskusi tersebut digelar bersamaan dengan tasyakuran milad ke-40 Drg. H. M. Arief Rosyid di DPP AMPI, Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta, Jumat (5/9/2026).
Pengamat politik Dr. H. Fachry Ali mengatakan perjalanan politik HMI pada awalnya memiliki kedekatan dengan partai-partai Islam, termasuk Masyumi. Namun, menurut dia, gagasan yang diperjuangkan Nurcholish Madjid kemudian memberikan legitimasi bagi munculnya jalur baru bagi kader HMI dalam politik nasional.
“Sejarah awalnya ideal HMI ke parpol Islam seperti ke Masyumi. Namun, jihad Nurcholish Madjid memberikan legitimasi rute baru HMI ke partai politik nasional yang tetap memprioritaskan Islam,” kata Fachry dalam diskusi tersebut.
Fachry menilai masuknya aktivis ke partai politik juga membawa perubahan terhadap karakter gerakan mahasiswa. Menurut dia, aktivis yang sebelumnya dikenal kritis dan aktif melakukan demonstrasi dapat berubah menjadi bagian dari struktur politik dan birokrasi ketika memasuki partai.
Ia mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi, terutama dalam merumuskan kembali pendidikan politik kader partai. Fachry menyebut Akademi Partai Golkar dapat mengambil peran dalam membangun rumusan ideologi dan pendidikan politik bagi kader.
Dalam kesempatan itu, Fachry juga menyinggung basis historis Partai Golkar yang menurut dia memiliki irisan dengan sejumlah wilayah yang dahulu menjadi basis pendukung Masyumi, antara lain Aceh, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan.
Namun, ia mengatakan dinamika politik pada masa lalu turut memengaruhi penerimaan Golkar di berbagai daerah.
Menurut Fachry, konfigurasi politik Indonesia terus berubah.
Ia menilai sebagian masyarakat cenderung mudah melupakan dinamika politik masa lalu dan lebih terpengaruh oleh isu-isu praktis, termasuk bantuan kebutuhan pokok.
Fachry kemudian menyinggung munculnya strategi politik partai-partai nasional yang berupaya mendekati kelompok santri. Ia menyebut Gerindra sebagai salah satu partai yang menurut dia berhasil membangun komunikasi dengan basis tersebut.
Dalam diskusi itu, Fachry juga menyampaikan dukungannya terhadap gagasan ekonomi yang dikembangkan Didin Damanhuri. Ia berharap gagasan tersebut dapat menjadi salah satu referensi dalam perumusan kebijakan pembangunan nasional.
Sementara itu, Direktur Akademi Golkar Hajrianto Y. Thohari turut menjadi panelis dalam diskusi tersebut. Forum itu juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan milad ke-40 Arief Rosyid.
Arief Rosyid, yang pernah menjabat Ketua Umum PB HMI periode 2013–2015, dalam sambutannya menyinggung perjalanan aktivitas dan gagasan yang telah dijalani selama ini.
Ia mengatakan sejak 2013 telah menulis puluhan buku yang membahas berbagai persoalan, termasuk isu-isu yang berkembang di kalangan aktivis HMI.
Arief juga menceritakan pengalaman ketika dirinya pernah menjalani pemeriksaan selama puluhan jam terkait perkara dugaan pemalsuan tanda tangan.
Dari lingkungan AMPI, muncul pesan yang kemudian menjadi salah satu kesan dalam forum tersebut, yakni pentingnya konsistensi antara gagasan dan tindakan, “Tulislah apa yang kamu lakukan dan lakukan apa yang kamu tulis.”
Diskusi turut menyinggung pemikiran Nurcholish Madjid mengenai hubungan Islam dan negara. Fachry berpandangan bahwa perdebatan mengenai relasi Islam dan negara telah mengalami perkembangan dan memasuki babak baru dalam politik Indonesia.
Pada bagian akhir acara, Fachry juga menyinggung pentingnya menjaga kehormatan organisasi perempuan alumni HMI, Forum Alumni Kohati (Forhati), dalam ruang-ruang publik bersama Korps Alumni HMI (KAHMI).
Acara tasyakuran milad Arief Rosyid tersebut kemudian ditutup dengan ramah-tamah dan jamuan makanan bagi para tamu undangan. []









Comment