Ibu, Pendidik dan Pencetak Generasi Mumpuni

Berita219 Views

Penulis: Elih Herlianti | Pegiat Literasi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Setiap tanggal 22 Desember, bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu sebagai bagian penting dari kalender nasional. Peringatan ini sejatinya bukan sekadar seremoni pemberian bunga atau ucapan simbolik, melainkan momentum refleksi atas peran strategis perempuan—terutama ibu—dalam perjalanan sejarah bangsa, sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga proses pembangunan hari ini.

Pada 2025, Hari Ibu Nasional memasuki usia ke-97 dengan tema “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045”. Tema ini menegaskan kembali bahwa perempuan bukan hanya objek pembangunan, melainkan subjek utama yang menentukan kualitas generasi masa depan.

Dari lingkungan terkecil—keluarga—hingga lingkup bangsa, perempuan memegang peran sentral dalam membentuk karakter dan arah peradaban.

Di tangan perempuan, harapan kebangkitan bangsa dititipkan. Dari rahim dan asuhan merekalah lahir calon pemimpin masa depan. Sejarah mencatat bagaimana idealisme kuat perempuan melahirkan tokoh-tokoh besar dan pejuang tangguh. Indonesia mengenal sosok Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, RA Kartini, dan Dewi Sartika sebagai contoh nyata perempuan berprinsip yang berkontribusi besar bagi bangsa.

Dalam sejarah Islam, figur-figur besar seperti Imam Syafi’i dan Sultan Muhammad Al-Fatih juga lahir dari perempuan-perempuan hebat yang memiliki visi, keteguhan, dan komitmen dalam mendidik anak-anaknya.

Karena itu, mengembalikan idealisme, kedudukan, dan peran perempuan pada porsinya merupakan sebuah keniscayaan. Peringatan Hari Ibu seharusnya tidak berhenti pada simbol, tetapi mampu melahirkan kesadaran kolektif bahwa pemberdayaan perempuan sejati bermuara pada lahirnya generasi yang tangguh, berakhlak, dan berdaya saing.

Tantangan terbesar hari ini adalah kuatnya pengaruh sistem demokrasi kapitalis sekuler yang sarat dengan materialisme, konsumerisme, dan hedonisme. Nilai-nilai ini perlahan menggerus peran hakiki perempuan, termasuk peran keibuannya.

Tidak sedikit perempuan yang awalnya memiliki idealisme tinggi, akhirnya terseret arus tuntutan ekonomi dan gaya hidup yang menjauhkan mereka dari fungsi strategis sebagai pendidik generasi.

Dalam sistem semacam ini, individu didorong untuk mengejar materi dengan mengesampingkan moral, nilai luhur, bahkan hukum-hukum agama. Program pemberdayaan perempuan kerap dimaknai secara sempit, seolah keberdayaan hanya diukur dari produktivitas ekonomi, bukan dari kontribusi dalam membangun generasi.

Dampaknya, berbagai persoalan sosial dan krisis generasi kian mengemuka.
Negara dengan sistem ekonomi kapitalistik dan politik yang sarat kepentingan juga turut memperparah kondisi ini.

Pengelolaan sumber daya alam yang tidak berorientasi pada kesejahteraan rakyat, termasuk perempuan, membuat peran ibu semakin terdesak oleh tuntutan hidup. Kekayaan alam justru diperdagangkan atas nama investasi, sementara rakyat—terutama perempuan—harus menanggung dampaknya.

Islam, sebagai ajaran yang paripurna, menempatkan perempuan pada posisi yang mulia dan strategis. Ungkapan “al-mar’atu ‘imadul bilad”—perempuan adalah tiang negara—menggambarkan betapa baik buruknya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas perempuannya.

Peran utama perempuan dalam menopang negara adalah melalui lahirnya generasi terbaik.

Sejarah Islam memberikan banyak teladan. Al-Khansa dikenang sebagai ibu para syuhada, sosok perempuan beridealisme tinggi yang dengan keteguhan imannya mampu mengantarkan keempat putranya gugur di medan Qadisiyah.

Demikian pula ibunda Sultan Muhammad Al-Fatih, perempuan visioner yang mendidik anaknya dengan ilmu, iman, dan ketangguhan hingga kelak menaklukkan Konstantinopel di usia muda.

Inilah gambaran ideal peran perempuan sebagai pendidik dan pencetak generasi unggul. Idealisme ini semestinya terpatri kuat, khususnya pada diri Muslimah.

Tentu, mewujudkannya bukan perkara mudah. Diperlukan kesadaran kolektif dan upaya serius untuk mendidik perempuan dan masyarakat dengan pemahaman Islam secara menyeluruh, sehingga terbentuk pola pikir dan pola sikap yang selaras dengan nilai-nilai Islam.

Selain itu, dibutuhkan sistem kehidupan yang mendukung terlaksananya peran perempuan secara utuh—baik dalam bidang ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, maupun keamanan.

Sistem pendidikan juga harus diarahkan untuk mencetak perempuan-perempuan tangguh, calon ibu yang visioner, serta anak-anak yang kelak menjadi pemimpin masa depan.

Harapannya, para Muslimah tidak terjebak dalam propaganda kapitalisme yang menjerumuskan perempuan pada materialisme sempit. Sebaliknya, semakin banyak perempuan yang menyadari bahwa sistem Islam adalah sistem terbaik dalam memuliakan perempuan dan menjaga generasi.

Dengan kesadaran itu, perempuan akan siap mengambil peran sebagai pendidik dan pencetak generasi mumpuni, demi terwujudnya kehidupan ideal yang diridhai Allah SWT. Wallahu a’lam.[]

Berita Terkait

Baca Juga

Comment