Ilusi Kemenangan Zionis dan Realitas Perlawanan Hamas

Opini958 Views

 

Penulis: Furqon Bunyamin Husein | Pemred Radar Indonesia News

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Israel kerap mengumumkan “kemenangan” setiap kali Gaza digempur. Infrastruktur Hamas dihancurkan, komandan mereka diklaim gugur, dan terowongan bawah tanah diratakan. Secara militer, klaim ini mungkin sahih. Namun, bila kemenangan didefinisikan sebagai keberhasilan menghapus eksistensi lawan, Israel justru gagal.

Sesungguhnya, perang yang dilakukan Zionis bukanlah pertempuran sejati. Mereka lebih banyak membumihanguskan bangunan dan membantai anak-anak tak berdaya, baik dengan senjata maupun dengan menutup akses bantuan pangan.

Bagi Harakatul Muqowwamah Al Islamiyyah (Hamas), semangat juang—hamasah—tak mudah dipatahkan. Warisan Syeikh Ahmad Yasin, keberanian mereka berakar dari iman dan sejarah perjuangan Islam. Kisah Perang Badar selalu hidup di benak para pejuang Gaza. Sanak keluarga mungkin syahid, tetapi perlawanan tidak pernah padam.

Dalam teori konflik, Johan Galtung (1996) menegaskan perang bukan hanya soal direct violence (kekerasan fisik), tetapi juga structural violence (kekerasan struktural) dan cultural violence (kekerasan kultural).

Israel unggul dalam kekerasan fisik dengan teknologi militer modern dan dukungan Barat. Namun Hamas bertahan di level kultural dan ideologis: mempertahankan identitas, keyakinan, dan hak atas tanah.

Edward Said (1979) dalam The Question of Palestine menulis bahwa Palestina adalah “simbol perlawanan terhadap kolonialisme modern.” Setiap kali Israel menundukkan Gaza, justru simbol itu semakin menguat di mata dunia.

Fakta di lapangan juga menunjukkan, keberanian tentara Israel (IDF) sejatinya dilandasi rasa takut. Banyak laporan memperlihatkan tekanan mental pasukan IDF saat berhadapan langsung dengan pejuang Hamas. Teknologi militer tidak otomatis berbanding lurus dengan keteguhan psikologis.

Kemenangan sejati tidak hanya diukur dari kemampuan menghancurkan fisik, melainkan juga kondisi moral dan mental prajurit. Kemenangan militer tanpa kemenangan moral pada hakikatnya hanyalah kekalahan yang ditunda. Klaim Israel hanyalah short-term tactical gain—propaganda jangka pendek, bukan kemenangan hakiki.

Analogi sederhananya — membakar hutan bisa menghanguskan pepohonan, tetapi akar tetap tumbuh kembali. Hamas adalah akar itu, sulit dipadamkan. Rashid Khalidi (2020) dalam The Hundred Years’ War on Palestine menyebut konflik ini sebagai “perang kolonial pemukim.” Dalam kerangka ini, Israel mungkin menguasai senjata, tetapi Hamas dan rakyat Palestina menguasai legitimasi moral.

Sejarah membuktikan, keunggulan militer tak selalu menjamin kemenangan politik. Amerika Serikat “menang” secara senjata di Vietnam, tetapi kalah secara moral dan akhirnya mundur. Prancis pun demikian di Aljazair.

Begitu pula di Sudan dan Afghanistan, Amerika Serikat—yang disebut superpower—akhirnya harus angkat kaki dan mengakui kekalahan.

Analogi ini berlaku pula pada Israel, mereka bisa merayakan kemenangan militer, tetapi kekalahan moral tak bisa ditutupi dan pada akhirnya hengkang dari Gaza bahkan Palestina. Mengapa? Karena musuh zionis bukan hanya Hamas tapi masyarakat internasional.

Lalu siapa pemenang sejati dalam perang Hamas–Zionis? Israel hanya unggul secara militer jangka pendek. Hamas menang secara ideologis, politis, moral, dan psikologis dalam jangka panjang. Seperti ditulis Edward Said, Palestina adalah simbol yang tak pernah padam—simbol yang tak bisa dibakar meski rumah dan tanah mereka luluh lantak.

Definisi kemenangan sesungguhnya terangkum dalam kalimat ini, “Saat pasukan tempur dengan dukungan senjata lengkap tidak mampu membuat lawan menyerah, sesungguhnya pasukan itu telah kalah.”

Hamas memiliki tradisi berpikir Qur’ani yang menjadi energi perlawanan. Pesan Allah SWT dalam QS. Al-Isra ayat 81—“Kebenaran telah datang dan yang batil pasti lenyap”—menjadi sumber kekuatan Hamas melawan Zionis.[]

Comment