RADARINDONESIANEWS.COM, NEW YORK – Memperingati Hari Kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli, Imam Besar New York, Shamsi Ali, membagikan refleksi tentang makna menjadi warga Amerika di tengah keberagaman budaya, agama, dan latar belakang etnis.
Dalam tulisannya berjudul To Be American: A Reflection on Independence Day, Shamsi Ali menyampaikan ucapan selamat Hari Kemerdekaan kepada seluruh warga Amerika. Menurutnya, peringatan tahun ini terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan momentum 250 tahun perjalanan bangsa Amerika.
“Bagi seluruh warga Amerika, di mana pun berada, saya mengucapkan Selamat Hari Kemerdekaan. Tahun ini menjadi momen yang sangat istimewa karena Amerika menandai 250 tahun perjalanan sejarahnya,” tulis Shamsi Ali.
Ia menilai Amerika tidak dibangun dalam waktu singkat. Sejak memproklamasikan kemerdekaannya dari Inggris, negara tersebut terus berkembang melalui berbagai tantangan hingga menjadi salah satu kekuatan terbesar di dunia.
Namun, menurut Shamsi Ali, kekuatan Amerika bukan semata-mata terletak pada kemajuan ekonomi, teknologi, militer, maupun pengaruh politiknya.
“Amerika bukan hanya sebidang tanah atau negara dengan teknologi maju. Amerika adalah sebuah gagasan. Amerika adalah nilai-nilai tentang demokrasi, kebebasan, keadilan, kesetaraan, dan hak setiap orang untuk mengejar kebahagiaan.”
Sebagai seorang imigran kelahiran Indonesia yang kini menjadi warga negara Amerika Serikat, Shamsi Ali mengaku merasakan langsung kesempatan yang diberikan negeri tersebut kepada para pendatang.
Ia mengatakan keluarganya dapat berkembang dan terus mengejar impian di Amerika tanpa harus meninggalkan identitas sebagai seorang Muslim maupun warisan budaya Indonesia dan Asia.
Menurutnya, seseorang dapat memiliki banyak identitas sekaligus tanpa harus saling bertentangan.
“Saya lahir sebagai orang Indonesia, beragama Islam, dan memiliki budaya Asia. Semua itu tidak mengurangi kecintaan saya kepada Amerika. Justru memperdalam ikatan saya dengan negeri ini.”
Shamsi Ali juga menegaskan bahwa identitas Amerika tidak pernah bersifat tetap. Seiring perjalanan sejarah, Amerika terus berubah mengikuti perkembangan masyarakatnya yang semakin beragam.
Karena itu, ia menilai keberagaman merupakan salah satu kekuatan terbesar bangsa tersebut.
“Amerika lahir dari para imigran. Kekuatan bangsa ini justru tumbuh karena berbagai budaya dan agama diberi ruang untuk hidup serta berkembang bersama,” ujarnya.
Dalam refleksinya, Shamsi Ali mengusulkan satu kata yang menurutnya paling tepat menggambarkan kehidupan multikultural Amerika saat ini, yakni “respect” atau saling menghormati.
“Jika dahulu Amerika dikenal dengan istilah ‘mosaic’, ‘belonging’, atau ‘harmony’, maka hari ini saya memilih satu kata: ‘respect’. Menghormati perbedaan adalah fondasi multikulturalisme Amerika.”
Ia menekankan bahwa menjadi orang Amerika tidak cukup hanya karena lahir di wilayah Amerika Serikat atau memiliki paspor negara tersebut.
Menurutnya, menjadi warga Amerika berarti menjadi warga negara yang bertanggung jawab dalam pikiran, ucapan, dan tindakan.
“Menjadi orang Amerika bukan sekadar memiliki paspor Amerika, melainkan menjadi warga negara yang bertanggung jawab terhadap bangsa, masyarakat, dan kemanusiaan.”
Shamsi Ali juga mengutip filsuf abad ke-17, Baruch Spinoza, yang menyatakan bahwa warga negara dibentuk, bukan dilahirkan.
Baginya, gagasan tersebut sangat relevan dengan sejarah Amerika sebagai bangsa yang dibangun oleh para pendatang dari berbagai belahan dunia.
Di bagian akhir refleksinya, Shamsi Ali menyebut kebebasan sebagai salah satu nilai paling mendasar dalam kehidupan masyarakat Amerika.
Ia menilai kebebasan bukan hanya berarti bebas bermimpi atau berbicara, tetapi juga bebas menjalankan keyakinan, mempertahankan budaya, serta hidup berdampingan dengan penuh rasa hormat.
“Menjadi orang Amerika berarti bebas bermimpi, bebas berbicara, bebas beribadah, bebas membawa identitas budaya tanpa rasa takut, sekaligus menghormati mereka yang berbeda.”
Menutup refleksinya, Shamsi Ali mengucapkan selamat Hari Kemerdekaan kepada seluruh warga Amerika. Ia berharap Amerika tetap menjadi bangsa yang kuat karena keberagaman, persatuan, serta komitmennya terhadap nilai-nilai demokrasi, kebebasan, dan penghormatan terhadap sesama.[]












Comment