Penulis: Dr. Shamsi Ali, Lc, M.A| Direktur Jamaica Muslim Center
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Subuh ini, setelah menunaikan salat Subuh di masjid, saya menyampaikan kajian dari buku Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi. Kebetulan, kajian kami telah memasuki pembahasan tentang tawakal, sebuah konsep mendasar dalam ajaran Islam yang terkadang masih dipahami secara kurang proporsional oleh sebagian orang.
Tawakal bukanlah sikap apatis atau pasrah tanpa usaha. Tawakal justru memiliki tiga komponen penting yang tidak dapat dipisahkan, yakni ikhtiar, tafwidh, dan ridha.
Ikhtiar berarti berusaha secara maksimal dan sungguh-sungguh. Tafwidh adalah menyerahkan sepenuhnya hasil akhir dari ikhtiar kepada Allah SWT. Sementara ridha berarti menerima apa pun hasil yang ditetapkan Allah dengan hati yang lapang dan tenang.
Tawakal, Pintu Ketenangan Hidup
Dalam perjalanan hidup, ada saat-saat ketika kita merasa lelah, bahkan kehilangan harapan karena arah kehidupan tidak berjalan sebagaimana yang diinginkan.
Kita telah berusaha, berdoa, menyusun rencana, dan melakukan berbagai upaya. Namun, hasil akhirnya tetap berada di luar harapan.
Di titik inilah kita perlu menyadari bahwa tanggung jawab kita adalah berusaha sebaik dan semaksimal mungkin. Adapun hasil akhirnya merupakan wilayah kekuasaan Allah SWT.
Menyerahkan segala urusan kepada Allah bukanlah bentuk apatisme, kelemahan, apalagi keputusasaan. Sebaliknya, tawakal merupakan kesadaran atas keterbatasan manusia sekaligus pengakuan bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita.
Tawakal mengajarkan kita untuk berhenti memaksakan kehidupan berjalan persis sesuai dengan kehendak kita.
Ketika kita sampai pada kesadaran, “Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah,” sebagaimana diajarkan Al-Qur’an, sesungguhnya kita telah memasuki salah satu tingkat tertinggi ketenangan hidup.
Kita tetap berusaha. Kita terus berjuang dengan itqan, yakni melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh dan sebaik mungkin.
Namun, kita tidak menggantungkan hasil akhir hanya kepada ikhtiar dan kemampuan diri sendiri. Hati kita bergantung kepada Allah, Pemilik dan Penguasa kehidupan.
Kesuksesan sejati bukanlah ketika seluruh keinginan kita terwujud persis seperti yang kita kehendaki. Kesuksesan sejati adalah ketika kita mampu menyikapi apa pun yang terjadi dengan ridha dalam ketetapan dan kuasa Allah SWT.
Berhasil ataupun belum berhasil semestinya tidak sampai merampas ketenangan hati. Sebab, bagi orang yang bertawakal, setiap hasil selalu memiliki makna.
Kesulitan dapat menjadi pelajaran, kegagalan dapat menjadi jalan pendewasaan, dan ketidakberhasilan dapat menjadi cara Allah mengarahkan kita kepada sesuatu yang lebih baik.
Karena itu, mari kita berikhtiar dengan tangan, berdoa dengan lisan, lalu berserah dengan hati.
Boleh jadi badai belum reda. Masalah mungkin belum selesai. Jalan yang kita tempuh pun belum sampai pada tujuan. Namun, jiwa akan tetap tenang ketika kita mengetahui kepada siapa seluruh urusan diserahkan.
Itulah tawakal. Itulah salah satu bentuk kemenangan hidup yang paling indah. Insya Allah.[]









Comment