by

Indri NR*: Mengulik Fakta Problematika Pendidikan Indonesia

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) akan menerapkan asesmen nasional sebagai pengganti ujian nasional pada 2021. Asesmen nasional tidak hanya sebagai pengganti ujian nasional dan ujian sekolah berstandar nasional, tetapi juga sebagai penanda perubahan paradigma tentang evaluasi pendidikan.

Mengutip dari laman Kemendikbud, Asesmen Nasional 2021 diartikan sebagai pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program keseteraan jenjang sekolah dasar dan menengah.

Asesmen nasional terdiri dari tiga bagian yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. AKM dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi. (www.kompas.com, 11/10/2020).

Mengurai Benang Kusut Pendidikan Indonesia

Global Talent Competitiveness Index (GTCI) adalah pemeringkatan daya saing negara berdasarkan kemampuan atau talenta sumber daya manusia yang dimiliki negara tersebut. Di ASEAN Indonesia ada di posisi ke enam dengan skor sebesar 38,61. Data menunjukan bahwa Indonesia, rata-rata lama sekolahnya adalah 8 tahun.

Menurut pakar pengamat pendidikan Najeela Shihab, maslah pendidikan di Indonesia ada dalam 3 aspek. Pertama yaitu akses, kemudian kualitas dan selanjutnya adalaha kesenjangan. Maka tidak heran setiap survey yang dilakukan oleh lembaga survey tingkat ASEAN atau ASIA, Indonesia belum pernah menempati posisi atas.

Problem pendidikan yang ada tentu tidak akan serta merta selesai dengan dihapuskannya UN. Masih perlu ada solusi yang lebih fundamental untuk arah pendidikan Indonesia guna mencetak generasi unggul.

Apalagi sektor pendidikan hangat diperbincangkan pula masuk dalam sektor yang bisa dikomersialisasi dalam salah pasal di UU Omnibus Law.

Islam Solusi Problematika Pendidikan

Islam hadir dengan meninggikan posisi ilmu dan pendidikan. Posisi alim (orang berilmu) di dalam Islam lebih tinggi daripada abid (ahli ibadah). Oleh karenanya Islam memiliki seperangkat aturan khas dalam masalah pendidikan.

Evaluasi pendidikan dalam sistem pendidikan pada masa Khilafah Islamiyah handal dan dilakukan secara komprehensif, untuk mencapai tujuan pendidikan.

Ujian umum diselenggarakan untuk seluruh mata pelajaran yang telah diberikan.

Ujian dilakukan secara tulisan dan lisan. Di samping itu tentu ada ujian praktek pada keahlian tertentu. Siswa yang naik kelas atau lulus harus dipastikan mampu menguasai pelajaran yang telah diberikan dan mampu mengikuti ujian sebaik-sebaiknya.

Tentu saja siswa-siswa yang telah dinyatakan kompeten/lulus adalah siswa-siswa yang betul-betul memiliki kompetensi ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya dan bersyakshiyah Islamiyah atau memiliki pola tingkah laku yang Islami.

Pada tingkat perguruan tinggi sistem ujian yang handal meliputi ujian praktek, ujian tertulis dan ujian lisan. Ujian Lisan diadakan secara terbuka, para penguji bisa guru/dosen/profesor yang mengajar di lembaga pendidikan tersebut. Untuk suatu keahlian tertentu penguji dari internal dan eksternal. Ulama’ dan para intelektual manapun berhak untuk menguji.

Hak- hak istimewa setelah lulus ujian, boleh mengajarkan ilmunya, meriwayatkan hadits Rasulullah yang berasal dari guru-gurunya, berfatwa, mengobati penyakit, bila sudah menguasai ilmu kedokteran, meracik obat bila sudah menguasai ilmu obat-obatan dan lain lain.

Demikianlah mekanisme Islam dalam memastikan kualitas para peserta didik. Islam memastikan bahwa setiap siswa benar-benar menguasai ilmu yang dipelajari serta memiliki syakhsiyah Islam. Sistem pendidikan seperti ini akan bisa terlaksana jika Islam diterapkan di tengah-tengah kehidupan.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four + 20 =

Rekomendasi Berita