Industri Perunggasan Dinilai Tidak Sehat, Peternak Kecil Terjepit

Daerah969 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Prof. Dr. Yuli Retnani, M.Sc., Guru Besar Institut Pertanian Bogor, menilai industri perunggasan nasional memiliki peran strategis dalam menopang perekonomian Indonesia, terutama dalam penyediaan protein hewani bagi masyarakat.

Menurut dia, sektor perunggasan merupakan salah satu kisah sukses modernisasi pertanian dan teknologi pangan. Produksi ayam broiler maupun telur dinilai sangat efisien karena didukung teknologi pembibitan, pakan, kesehatan ternak, hingga manajemen kandang modern.

“Dalam waktu 30–40 hari ayam broiler sudah bisa dipanen. Produksi telur juga sangat efisien dengan dukungan teknologi modern,” kata Yuli dalam keterangannya, Selasa (13/5/2026).

Ia menjelaskan, industri perunggasan selama ini menjadi tulang punggung penyediaan protein hewani rakyat Indonesia karena harga daging ayam dan telur relatif terjangkau. Selain itu, sektor tersebut juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Namun di balik keberhasilan itu, Yuli menilai terdapat persoalan serius dalam struktur industri perunggasan nasional. Banyak peternak rakyat, kata dia, mengeluhkan kerugian usaha yang berujung pada kebangkrutan, lilitan utang, hingga penyitaan aset kandang maupun rumah.

Menurut Yuli, kondisi tersebut menunjukkan adanya struktur industri yang tidak sehat akibat konsentrasi usaha secara horizontal dan vertikal yang terlalu kuat. Situasi itu dinilai lebih menguntungkan perusahaan besar di sektor hulu dibandingkan peternak kecil di hilir.

“Masalah utama industri perunggasan Indonesia bukan lagi teknologi produksinya, melainkan struktur industrinya yang semakin terkonsentrasi sehingga rawan praktik monopoli,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perusahaan besar saat ini menguasai hampir seluruh rantai usaha, mulai dari pembibitan DOC (day old chick), pakan ternak, obat dan vaksin, rumah potong ayam, distribusi, cold storage, hingga perdagangan ritel.
Kondisi itu membuat perusahaan besar memiliki kendali terhadap harga input, pasokan DOC, distribusi, bahkan mempengaruhi harga ayam dan telur di pasar.

Akibatnya, peternak rakyat hanya menjadi “price taker”, membeli kebutuhan produksi dengan harga mahal tetapi menjual hasil ternak dengan harga rendah.

“Di satu sisi konsumen menikmati harga protein yang murah, tetapi di sisi lain peternak kecil sering bangkrut karena margin keuntungan sangat tipis,” kata Yuli.

Ia juga menyoroti rencana Kamar Dagang dan Industri Indonesia atau Kadin mengundang investor baru di sektor hulu perunggasan. Menurut dia, langkah tersebut harus dikaji secara hati-hati agar tidak memperkuat konsentrasi industri yang sudah terjadi selama ini.

Yuli menilai pemerintah bersama Komisi Pengawas Persaingan Usaha perlu melakukan reformasi struktur industri secara bertahap agar tercipta persaingan usaha yang lebih sehat.

Ia mengusulkan adanya pembatasan integrasi vertikal yang berlebihan, termasuk pembatasan dominasi perusahaan besar dalam perdagangan ayam hidup dan budidaya langsung. Selain itu, sebagian pasar dinilai perlu dialokasikan khusus bagi peternak mandiri.

“Pemerintah harus hadir karena industri ini tidak sehat. Reformasi struktur industri mutlak dilakukan agar persaingan menjadi lebih adil,” imbuh Yuli.[]

Comment