by

Irah Wati Murni, S.Pd*: Di Tengah Pandemi Dan Sulitnya Ekonomi, Sri Mulyani Mendapat Penghargaan Sebagai Finance Minister of The Year

-Opini-15 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Baru-baru ini Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani kembali meraih penghargaan sebagai Finance Minister of the Year for East Asia Pacific tahun 2020 dari majalah Global Markets. Demikian dilansir detik. finance, 12/10/20.

Jika ditilik lebih lanjut, ini merupakan kali kedua yang diterima Sri Mulyani dari majalah yang sama setelah terakhir di tahun 2018 memperoleh penghargaan serupa.

Menurut Global Markets, Sri Mulyani layak mendapatkan penghargaan tersebut atas prestasinya dalam menangani ekonomi Indonesis di saat pandemi corona (Covid–19).

Mirisnya, penobatan Menkue Terbaik se-Asia Pasifik Timur itu terjadi saat utang negara semakin menggunung dan realita kondisi ekonomi Indonesia yang semakin sulit.

Menyikapi hal ini, politisi Partai Gerindra Fadli Zon menilai bahwa dengan kondisi perekonomian saat ini rasanya kurang tepat jika Menkeu Sri Mulyani dinobatkan sebagai menteri keuangan terbaik.

Menururut Fadli seperti dikutip tribun (17/20/3030) adalah satu pertanyaan yang perlu disikapi, karena diberikan oleh sebuah majalah atau institusi bahwa apa yang dilakukan oleh menteri keuangan itu dan kebijakan-kebijakannya bisa dianggap sebagai menteri keuangan terbaik. Sementara realitasnya kita merasakan bagaimana ekonomi kita semakin sulit.

Saat ini lanjut Fadli, Indonesia banyak menghadapi masalah ekonomi. Seperti nilai tukar rupiah yang melemah dan juga utang negara yang terus menumpuk.

“Kita mempunyai masalah fiskal, masalah pendapatan kita dari pajak kita punya masalah pengeluaran, masalah moneter.”

Berdasarkan laporan International seperti dilansir bisnis.com (14/10/2020), Debt Statistics (IDS) 2021 atau Statistik Utang Internasional yang dirilis Bank Dunia pada Selasa malam (13/10/2020), Indonesia menempati posisi ke-7 dari daftar 10 negara berpendapatan kecil dan menengah dengan utang luar negeri terbesar di dunia.

Dari penerbitan surat utang, Bank Dunia mencatat nilainya sebesar US$173,22 miliar atau sekitar Rp2.546 triliun. Dari keseluruhan total utang, bunga utang yang ditanggung mencapai US$12,04 miliar atau Rp179,98 triliun.

Rasio utang pemerintah ini setara dengan angka 34,53 persen dari PDB. Dari total tersebut sekitar 84,82 persen utang berasal dari Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp4.745,48 triliun dan sekitar 15,18 persen utang berasal dari pinjaman senilai Rp849,45 triliun.

Standar Penilaian Asing Layakkah Dipercaya?

Standar penilaian keberhasilan atas kinerja pemerintah dalam hal ini Menkeu sejatinya bukan ditetapkan dari penilaian sebuah majalah atau surat kabar.

Tidaklah proporsional jika penetapan Menkeu Terbaik diwacanakan oleh majalah atau surat kabar terlebih majalah atau surat kabar tersebut berasal dari luar negeri yang tidak memahami secara persis tentang kondisi ekonomi indonesia.

Atas dasar apa standar penilaian keberhasilan kinerja Menkeu ditetapkan oleh majalah asing, sementara realitanya perekonomian masyarakat Indonesia saat ini semakin sulit dan rakyat kecil semakin tercekik ditambah utang negara yang semakin menggunung.

Siapa yang dapat dipercaya, penilaian asing yang tidak memahami secara fair ekonomi Indonesia atau rakyat dalam negeri yang tahu persis dan mengalami secara empiris?

Global Market adalah majalah internasional bidang ekonomi yang 30 tahun terakhir telah menjadi salah satu acuan bagi para pelaku dan institusi di sektor ekonomi dan keuangan internasional. Majalah ini diterbitkan saat pertemuan tahunan IMF-Grup Bank Dunia.

Pelan namun pasti Indonesia sesungguhnya telah masuk dalam jerat lingkaran kapitalisme ekonomi dunia yakni IMF. IMF telah mendorong Indonesia masuk ke dalam jebakan utang yang berkepanjangan. Bahkan untuk menggaungkan opini, IMF menggaet majalah yang bisa membuat propaganda dengan pemberian gelar Menkeu Terbaik, padahal kebijakan dalam mengelola ekonomi diperoleh dengan jalan tutup lubang gali lubang.

Penunjukan Menkeu Terbaik berdasarkan penilaian lembaga asing ini bisa saja diterjemahkan dengan kemungkinan agar indonesia tetap berada dalam alur dan kekuatan ekonomi  kapitalisme global. Padahal membangkitkan ekonomi melalui utang hanyalah angan-angan. Bukannya bangkit, ekonomi indonesia malah kian terpuruk ke lubang yang semakin dalam.

Solusi Jitu Islam Menghadapi Utang

Islam menekankan bahwa suatu negara harus mandiri secara finansial. Hal itu dilakukan dengan mengoptimalkan seluruh aset kekayaan negaranya baik dari Sumber Daya Manusia (SDM) maupun Sumber Daya Alam (SDA)-nya.

Negara harus mandiri agar terbebas dari utang.  Negara mandiri tak akan mudah didikte negara lain.

Dalam sistem sekularisme kapitalis yang menguasai dunia saat ini, utang bisa menjelma menjadi alat politik yang sangat strategis  untuk menguasai negara lain. Kebijakan suatu negara bisa diintervensi hingga sumber daya alam yang strategis tergadaikan  dan melemahkan wibawa dan kedaulatan sebuah negara di mata dunia.

Islam melalui sistem paripurna yang dimiliki mampu membiayai seluruh kebutuhan rakyat secara mandiri. Seluruh pembelanjaan pemerintah dalam rangka memenuhi kebutuhan rakyat diambil dan dibiayai dari baitul mal.

Baitul mal sendiri memiliki sejumlah pos-pos pemasukan tetap yakni fai’ (anfal, ghanimah, khumus), jizyah, kharaj, ‘usyur, harta milik umum yang dilindungi negara, harta haram pejabat dan pegawai negara, khumus rikaz dan tambang, harta orang yang tidak mempunyai ahli waris, dan harta orang murtad.

Adapun jika pemasukan baitul mal tidak stabil atau mengalami kekosongan kas, maka negara bisa membuat sejumlah strategi dengan menetapkan kewajiban pembiayaan kepada kaum atau masyarakat yang dipilih dari kalangan yang memiliki kelebihan harta (aghniya).

Dalam Islam, negara bukan sama sekali tidak diperbolehkan berutang. Namun, utang menjadi opsi terakhir setelah negara Islam sudah memaksimalkan seluruh instrumen pemulihan ekonomi yang telah dijalankan.

Berbeda dengan utang dalam sistem sekuler kapitalis,  negara tidak akan tunduk dengan aturan utang berbunga (ribawi) dan tidak akan menjadi negara yang mudah didikte.

Hanya Islam yang menjadi solusi jitu menghadapi persoalan utang agar suatu negara tidak terjebak dengan sistem ribawi hingga jatuh wibawanya.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 18 =

Rekomendasi Berita