by

Islam Mampu Membendung Harga Yang Melambung

-Opini-13 views

 

 

Oleh : Irohima, Guru

________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Harga minyak goreng, cabai, dan telur yang mulai mengalami kenaikan di akhir tahun terus saja melambung. Harga komoditas bahan pokok ini diperkirakan akan terus merangkak naik.

Di tengah tersendatnya kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka justru diminta untuk tidak terlalu khawatir karena harga – harga pangan tersebut akan kembali turun pada kuartal I-2022.

Kenaikan harga komoditas bahan pokok ini terasa begitu memberatkan mengingat adanya pandemi saat ini. Harga cabai di tingkat konsumen saja telah menyentuh angka Rp.100.000/kg, telur Rp.30.000/kg, minyak goreng curah lebih dari Rp. 18.000/kg ( Liputan6.com ).

Menurut Dwi Andreas, seorang peneliti Core Indonesia, pemicu naiknya harga -harga komoditas pokok selain karena fenomena alam, permintaan ekspor luar negeri yang besar namun juga dipengaruhi oleh siklus produksi dan harga yang turun naik.

Kenaikan harga pangan kali ini adalah kenaikan yang terjadi untuk kesekian kalinya. Akhir tahun seakan menjadi moment merangkaknya harga pangan menuju ke batas maksimal yang berlangsung hingga memasuki tahun baru bahkan terkadang bulan puasa dan hari raya. Sungguh sangat disayangkan, kenaikan harga bahan pengan seolah telah menjadi tradisi di negeri ini.

Saat ini, situasi kita yang masih terpuruk akibat pandemi dan ditengah perekonomian yang sulit, setiap kenaikan harga meski satu sen maka akan berdampak pada makin menurunnya kesejahteraan rakyat, terlebih kondisi kesehatan kita yang tunggang langgang di masa pandemi tentu akan semakin memperburuk keadaan.

Perekonomian kita yang masih jauh untuk dikatakan pulih, angka kemiskinan yang semakin meningkat dan pengangguran yang semakin bertambah karena dampak pandemi adalah fakta yang tidak terelakkan dan seyogyanya menjadi pertimbangan saat menerapkan kebijakan. Kenaikan ini akan semakin memberatkan dan rakyat akan semakin kesulitan.

Indonesia adalah negara tropis dan tidak seperti negara lain yang memiliki banyak musim, di Indonesia hanya terdapat dua jenis musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Meski perubahan musim di Indonesia terkadang sulit di prediksi karena efek samping dari pemanasan global, namun musim kemarau biasanya terjadi pada bulan April hingga Oktober, sedangkan musim hujan terjadi pada bulan November hingga Maret.

Fenomena alam seperti curah hujan tinggi yang mengakibatkan banjir dan menjadi penyebab gagalnya panen lalu dijadikan sebagai alasan naiknya harga pangan sungguh sangat tidak mendasar, dengan mengetahui kondisi iklim di Indonesia, harusnya bisa mengantisipasi dan memprediksi situasi yang akan terjadi mengingat kenaikan ini terjadi hingga berulang kali.

Lebih mementingkan permintaan pasar luar negeri yang berpeluang menghasilkan keuntungan besar, ketimbang memenuhi kebutuhan di dalam negeri adalah salah satu dampak dari sistem kapitalisme yang dianut negeri ini.

Meraih keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa mengindahkan kepentingan orang lain merupakan karakteristik dari sistem ini. Tak heran jika para pelaku usaha memanfaatkan kenaikan harga komoditas untuk meraih laba dengan mengekspor keluar daripada memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri apalagi menstabilkan ekonomi.

Kondisi inilah yang memicu langkanya barang di pasaran dan mengakibatkan melonjaknya harga bahan pangan. Ditambah lagi adanya praktek penimbunan barang yang dilakukan sebagian oknum pelaku menambah harga komoditas semakin melaju.

Mengapa kondisi ini tak mampu diantisipasi, padahal kondisi ini berulang terjadi dan seperti sudah menjadi tradisi? Tak sulit untuk menjawab pertanyaan ini.

Sebenarnya kenaikan harga tak perlu terjadi jika saja kita serius dalam menangani permasalahan pangan. Dalam hal ini, negara mempunyai tanggung jawab terhadap setiap permasalahan kesejahteraan rakyatnya. Peran negara sangat dibutuhkan dalam memilah setiap kebijakan perekonomian yang akan berdampak pada kehidupan. Sayangnya dalam sistem kapitalisme, peran negara seperti hilang ditelan oleh berbagai kepentingan.

Dampak pandemi sangat luar biasa mengguncang tatanan ekonomi dunia, dan sektor pangan menjadi salah satu sektor yang mengkhawatirkan. Negara-negara tak terkecuali Indonesia tengah bergelut dengan segudang permasalahan terkait perekonomian yang lemah dan kesejahteraan yang makin sulit dicapai.

Satu dari sekian faktor penyebab adalah ketiadaan ketahanan pangan negara. Kebutuhan akan pangan adalah kebutuhan primer manusia demi keberlangsungan hidup. Di sini negara harus bertanggung jawab, namun tidak adanya peran negara dalam menjaga kestabilan harga dan pengurusan sektor pangan dengan sistem yang salah berdampak pada seringnya kita mengalami kelangkaan barang dan kenaikan harga.

Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan, tak terkecuali tentang penentuan harga dan peredaran barang di pasar. Dalam Islam, negara mengatur distribusi serta peredaran barang secara merata ke seluruh wilayah dan melarang keras praktek penimbunan barang, hingga peluang kelangkaan barang tentu dapat diminimalisasi. Negara juga mengontrol penerapan kebijakan dengan ketat terkait penentuan harga barang yang beredar, dan ini tentu dapat mencegah kecurangan.

Islam melarang adanya intervensi harga, transaksi penuh spekulasi, kecurangan , riba serta aksi penimbunan barang. Jika terjadi kenaikan barang dikarenakan faktor alami seperti gagal panen, serangan hama dan lain-lain maka negara dalam sistem Islam mengatasi kelangkaan barang dengan mencari suplai dari daerah lain.

Jika satu saat terdapat kondisi yang memaksa untuk impor maka kebijakan impor yang akan diterapkan hanya untuk mencukupkan kebutuhan, dengan memprioritaskan produk dalam negeri dan memperhatikan pelaku usaha lokal. Jika terjadi sebuah pelangggaran, maka negara dalam Islam akan memberikan sanksi tegas pada para pelaku.

Negara dalam Islam memaksimalkan upaya dan antisipasi dengan intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian sehingga negara tidak pernah kosong dari penelitian dan teknologi baru di bidang pangan.

Negara menyokong penuh segala upaya untuk mencapai ketahanan pangan melalui sektor pertanian. Karena dengan memiliki ketahanan pangan kita tak akan menjadi negeri lemah yang bergantung pada negara lain, impor dan kenaikan harga bahan pangan juga takkan lagi menjadi kebiasaan.

Percayalah bahwa hanya dengan Islam, harga pangan yang melambung dapat dibendung. Wallahualam bis shawab.[]

Comment

Rekomendasi Berita