by

Eijkman, Bagaimana Nasibmu?

-Opini-74 views

 

 

Oleh: Nurmilati, Ibu Rumah Tangga

__________

RADARINNESIANEWS.COM, JAKARTA — Awal tahun 2022, masyarakat tidak hanya dikejutkan dengan wacana pemerintah menghapuskan BBM jenis premium dan kian meroketkan harga LPG, tetapi rakyat juga dikagetkan dengan kebijakan pemerintah meleburkan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sehingga, mulai 1 Januari 2022, aktivitas deteksi Covid-19 di Eijkman akan diambil alih BRIN.

Keputusan ini menimbulkan pertanyaan dari berbagai pihak, bagaimana nasib peneliti Tanah Air dan seperti apa kelanjutan riset vaksin Merah Putih yang tengah dilakukan Eijkman?

Penggabungan Eijkman dengan BRIN, tentu berimplikasi pada nasib peneliti dan riset vaksin. Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said yang kini Ketua Institut Harkat Negeri menyebut, sebanyak 120 lebih penelitinya harus kehilangan pekerjaan. Hal ini juga membuat prihatin sang menteri, pasalnya Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang, tentu membutuhkan banyak ilmuwan di seluruh bidang, termasuk riset.

Maka, semestinya pemerintah memperbanyak ilmuwan, bukan malah sebaliknya, justru mengurangi bahkan menyia-nyiakannya. Mirisnya lagi, berdasarkan laporan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) jumlah perbandingan antara total penduduk dan peneliti Nusantara sangat rendah jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.

Peneliti di Indonesia hanya 1.071 orang per sejuta penduduk, Malaysia 2.590 peneliti per sejuta penduduk, sementara Singapura sebanyak 7000 peneliti, sedangkan Korea Selatan mencapai 8000 peneliti per sejuta penduduk. Ini menegaskan bahwa Indonesia masih jauh tertinggal. Alih-alih mengejar negara lain, yang terjadi malah sebaliknya, aset yang ada pun diperlakukan tidak semestinya.

Sementara itu, menurut pelaksana tugas Kepala Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman, Wien Kusharyoto seperti dikutip tempo (2/1/2022) mengatakan, meski 71 penelitinya dibebastugaskan, namun riset vaksin Merah Putih tetap dilanjutkan.

Dengan demikian, pihaknya akan mengupayakan agar para peneliti yang diberhentikan dapat kembali bekerja di Eijkman dengan mengikuti mekanisme yang berlaku.

Sedangkan Kepala LBM Eijkman Prof Amin Soebandrio mengungkapkan, dampak dari peleburan ini, selain target penyelesaian vaksin Merah Putih yang akan terbengkalai, ia juga memprediksi para peneliti Eijkman akan pindah mencari lembaga lainnya, baik lembaga swasta yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri. Terlebih, gaji para penelitinya yang jauh belum proporsional. Ini tentu tidak sebanding dengan dedikasi dan integritas yang mereka lakukan seperti lansir detik.com secara live (5/1/2022).

Dilansir dari Tirto.id (4/1/2022) Lembaga Molekuler Eijkman merupakan lembaga penelitian milik pemerintah yang bernaung di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi dengan tujuan utamanya melakukan penelitian dasar dan terapan mengenai pengembangan penelitian Biologi Molekuler Kesehatan dan obat di Indonesia dan dunia.

Sejak virus Corona menghantam Indonesia, Presiden Joko Widodo memerintahkan lembaga ini untuk memproduksi vaksin, harapannya dengan pembuatan vaksin secara mandiri, bisa mendapatkan harga murah dan pemerintah tidak bergantung kepada negara lain. Sehingga, kebutuhan masyarakat akan vaksin bisa terpenuhi. Namun, dengan adanya kebijakan tersebut, kemungkinan rencana besar ini akan banyak menemui kendala.

Hal ini mengindikasikan betapa rendahnya perhatian negara terhadap riset dan nasib para peneliti. Padahal, banyak risiko yang ditanggung jika pemerintah tidak cukup memberi perhatian pada riset dan SDM-nya. Salah satunya adalah Indonesia akan berada di bawah intervensi Asing, dalam hal ini vaksin Covid-19, kerugian politik, bahkan bisa mengancam kedaulatan.

Beragam Problem Riset di Indonesia

Sementara itu, melesetnya target vaksin Merah Putih dari waktu yang telah ditentukan, selain akibat peleburan tersebut, juga disebabkan adanya sejumlah masalah di dunia riset Indonesia.

Dilansir dari BeritaSatu (18/2/2019), Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, M Dimyati menyebutkan setidaknya ada lima persoalan yang dihadapi.

Pertama_ terbatasnya Sumber Daya Manusia (SDM) peneliti, selain itu terkendala pada sarana prasarana penelitian, karena tidak semua lembaga penelitian memiliki laboratorium dan alat yang canggih, bahkan sebagian sudah tidak layak pakai.

Kedua, manajemen riset, penelitian kerap tidak sejalan dengan keinginan industri, sehingga hasil penelitian belum ada _link and match. Ketiga, banyak lembaga penelitian yang tumpang tindih dan tidak terkoordinasi terhadap riset yang dilakukan. Keempat, anggaran riset Indonesia yang masih minim yaitu 0,25 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), dan kelima, produktivitas penelitian di tanah air belum maksimal.

Dari uraian problem tersebut, mengindikasikan bahwa pemerintah dinilai kurang serius dalam memanfaatkan aset negara berupa sumber daya manusia yang berkualitas, juga abai terhadap riset yang tengah dilakukan anak negeri.

Padahal, hasil riset selain untuk mengharumkan nama bangsa di mata

Maka dari itu, berbagai problem mendasar tersebut harus diurai agar diperoleh solusi yang tepat. Tidak dimungkiri, setiap riset di bidangnya masing-masing seperti, pengetahuan, teknologi, industri, dan berbagai sektor lainnya, sangat penting dan memerlukan banyak dukungan, baik sumber daya manusia yang berkompeten di bidangnya seperti para ilmuwan sekaligus peneliti, dana yang sangat besar, sarana prasarana, perangkat aturan dan lainnya.

Tentu, semua membutuhkan kehadiran pemerintah yang mampu mengerahkan semuanya sebagai penunjang riset.

Peneliti dalam perspektif Islam

Sejarah menceritakan dan terbukti selama 14 abad, Islam telah mampu memimpin dunia. Pada masa keemasannya, dari sistem pendidikan telah berhasil melahirkan ulama yang hafal Al-Qur’an sekaligus ahli di bidang sains.

Di bidang matematika ada Al Khawarizmi, Abu Kamil Suja’, Al Khazin, Abu Al Banna, dan lainnya. Di bidang fisika ada Ibnu Al Haytsam, Al Farisi, Abdus Salam, dan Quthb Al Din Al Syirazi. Di bidang kimia ada Abul Qosim Al Majriti, Jabir bin Hayyan, dan Izzudin Al Jaldaki. Dalam bidang kedokteran ada Ibn Sina, Ibnu Jazla, Zakariyya Ar Razi, Al Halabi, dan masih banyak lagi. Sedangkan dalam bidang sejarah kita mengenal Ibnu Khaldun, Ibnu Bathutah, Ibnu Jubair, Al Maqrisi, Al Mas’udi, dan lain-lain.

Lahirnya para ulama sekaligus ilmuwan tersebut, tidak lepas dari sistem pendidikan Islam yang berbasis akidah Islam, sehingga sumber daya manusia yang dihasilkan memiliki shaksiyah Islamiah.

Sementara itu dari sisi biaya, negara memberikan pendidikan gratis dengan segala fasilitas, pelayanan berikut penunjangnya, seperti gedung sekolah yang memadai, penyediaan buku pelajaran, dan tenaga pendidik yang berkualitas, alhasil ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas jumlahnya akan sangat mumpuni.

Begitupun dengan lembaga riset dalam mengembangkan inovasi yang bermanfaat bagi umat manusia dan kemuliaan Islam, negara akan aktif mendorong, membiayai, dan memfasilitasi berbagai penelitian untuk menemukan beragam inovasi dalam rangka menunaikan kewajiban negara terhadap rakyat.

Para peneliti yang ahli dan mahir dalam bidang biologi molekuler dan ilmu lainnya untuk pembuatan vaksin, mereka akan mencurahkan seluruh keilmuannya untuk umat dan semata-mata karena dorongan keimanan kepada Allah SWT, bukan demi materi dengan orientasi profit, selain itu para peneliti akan fokus mencari dan memproduksi vaksin yang halal, aman, efektif dan efisien tanpa dibayangi kendala yang akan menghambat.

Adapun semua pembiayaan dipenuhi oleh negara yang bersumber dari Baitul Mal, bukan dari utang ataupun pajak, sehingga tidak khawatir akan risiko tergadainya kedaulatan dan intervensi asing.[]

Comment

Rekomendasi Berita