Penulis: Siti Aminah | Aktivis Muslimah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, sudah tiga kali secara terbuka menegaskan pandangannya mengenai two-state solution atau solusi dua negara sebagai jalan keluar bagi konflik Israel–Palestina.
Menurutnya, Indonesia tetap berpegang pada prinsip mendukung kemerdekaan Palestina sebagai prasyarat perdamaian, sambil membuka peluang pengakuan terhadap Israel jika Palestina berdiri sebagai negara berdaulat.
Gagasan two-state solution bukan hal baru. Sejak menjabat Menteri Pertahanan (2019–2024) hingga kini sebagai Presiden, Prabowo konsisten menyuarakan pendekatan diplomatik ini.
Secara sederhana, konsep two-state solution menawarkan pembentukan dua negara merdeka – satu untuk Israel dan satu untuk Palestina, dengan wilayah Palestina meliputi Tepi Barat, Jalur Gaza, serta Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
Namun, di balik narasi “perdamaian” yang tampak ideal, solusi dua negara menyimpan ilusi besar. Banyak pihak menilai konsep ini justru meneguhkan ketimpangan struktural antara pihak penjajah dan pihak yang dijajah.
Salah satu kritik tajam datang dari Marcelo Svirsky dalam artikelnya The Two-State Delusion yang dimuat di Middle East Eye (24 September 2018).
Ia menilai, two-state solution hanyalah mitos politik yang mengabaikan realitas ketidakadilan—bahwa Israel sebagai entitas penjajah telah merebut, memblokade, dan menindas rakyat Palestina selama puluhan tahun.
Pandangan ini sejalan dengan laporan Tribunnews.com (23/9/2025) yang menyebut penderitaan rakyat Gaza kian parah akibat kelaparan, pembunuhan, dan blokade total.
Faktanya, Amerika Serikat dan sekutunya terus menggunakan slogan two-state solution sebagai tameng diplomatik untuk menutupi kegagalannya menghentikan genosida di Gaza. Sementara negara-negara Muslim, termasuk sebagian pemimpinnya, memilih aman di balik retorika “solusi damai,” alih-alih bersatu menegakkan keadilan bagi rakyat Palestina.
Padahal, menerima konsep dua negara sama artinya dengan mengakui pencaplokan 70 hingga 80 persen tanah Muslim Palestina oleh entitas Zionis. Sebuah bentuk “kompromi” yang sejatinya mengkhianati sejarah perjuangan umat Islam membebaskan Al-Quds.
Pelajaran dari Salahuddin Al-Ayyubi
Sejarah telah mencatat, pembebasan Palestina tidak akan lahir dari meja perundingan, melainkan dari persatuan dan keberanian umat. Pada abad ke-12, Yerusalem sempat dikuasai oleh pasukan salib dan berdiri sebagai Kingdom of Jerusalem, kerajaan Kristen Eropa yang menganggap kota suci itu harus dijaga dari pengaruh Islam.
Namun, muncul sosok Salahuddin Al-Ayyubi—panglima besar Muslim yang lahir di Tikrit pada tahun 1137 M. Setelah memimpin Dinasti Ayyubiyah di Mesir dan Suriah, Salahuddin menyatukan kekuatan Islam dan mengarahkan seluruh upayanya untuk merebut kembali Yerusalem.
Dengan strategi yang matang, ia menggalang pasukan dari berbagai negeri Muslim—Mesir, Suriah, dan Yaman—serta membangun aliansi kuat di seluruh Timur Tengah. Setelah menaklukkan kota-kota penting seperti Acre, Haifa, dan Jaffa, Salahuddin memimpin pertempuran besar di Hattin pada 4 Juli 1187 yang menandai kekalahan telak pasukan salib.
Beberapa bulan kemudian, pada 2 Oktober 1187, Yerusalem kembali ke tangan umat Islam. Namun kemenangan itu tidak diwarnai pembalasan. Salahuddin justru menunjukkan kebesaran jiwa dengan memberikan jaminan keselamatan bagi penduduk Kristen dan mengizinkan mereka meninggalkan kota secara damai.
Sikapnya menjadi teladan tentang bagaimana kemenangan sejati bukan hanya pada senjata, tapi juga pada kemuliaan akhlak.
Solusi Hakiki: Kembali pada Islam
Sejarah Salahuddin Al-Ayyubi bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan cermin solusi sejati bagi umat hari ini.
Solusi yang hakiki untuk menghentikan genosida di Gaza bukanlah two-state solution, melainkan persatuan umat di bawah kepemimpinan Islam yang satu.
Ketika dunia Islam bersatu dalam satu institusi yang kokoh—di bawah bendera tauhid laa ilaaha illallaah —maka kekuatan politik, militer, dan moral umat akan cukup untuk membebaskan Palestina dari cengkeraman Zionis.
Umat Islam memiliki potensi besar untuk menegakkan kembali keadilan sebagaimana yang pernah dicontohkan Salahuddin. Bukan dengan kompromi yang menyesatkan, tetapi dengan persatuan dan keteguhan iman.
Kaum Muslim di seluruh dunia menuntut hadirnya institusi pelindung umat yang akan menjaga Gaza dan seluruh wilayah kaum Muslimin dari kezaliman global.
Hanya dengan Islam , pembebasan Palestina bukan lagi mimpi, tetapi keniscayaan yang dijanjikan.[]











Comment