by

Islam Yang Sempurna

-Opini-71 views

 

 

Oleh : Sarah Siti Maryam, Pengajar

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –Waktu begitu cepat, tahun 2021 sebentar lagi akan segera berakhir berganti dengan tahun 2022. Mendekati pergantian tahun, merefleksikan satu tahun yang sudah kita kewati menjadi suatu yang penting untuk kita lakukan, untuk sekedar berinstropeksi, lebih tepatnya bermuhasabah diri. Tentang sejauh mana yang sudah terjadi dan kita lakukan semua satu tahun kebelakang. Menengok kembali hari, pekan, bulan yang sudah terewati dan mengingat-ingat kejadian-kejadian yang telah diperbuat. Jangan sampai tahun ini menghabiskan waktu yang sia-sia tidak menghasilkan apa yang menjadi tujuan/ capaian-capaian belum tertunaikan.

Apakah waktu digunakan untuk berfikir, sudah sesuai dengan perintah Allah?
Jika kita lihat kepada keadaan negeri dan bangsa ini, Banyak yang menjalankan kehidupan tidak sesuai dengan perintah Allah.

Dalam bidang pendidikan contohnya yang dikuasai oleh agen barat yang telah berhasil memberlakukan kurikulum dan metodologi pendidikan sekuler liberal milik barat. Pendidikan yang harusnya menjadi dasar pencetak generasi muslim yang bertaqa dan berkepribadian islam yang paripurna, melahirkan sosok intelektual yang hakiki.

Kini malah yang terjadi sebaliknya telah melahirkan suatu kondisi yang serba bebas. Dampaknya bia kita lihat predator seksual menjadi ancaman generasi di berbagai jenjang pendidkan, pelecehan dan kekerasan seksual terjadi tanpa pandang bulu, bahkan tidak jarang dilakukan oleh kaum terpelajar.
Selain itu, perpecahan terhadap agamapun terjadi dengan mengatas namakan toleransi agama.

Mencampuradukan antara yang benar dan yang salah, mengartikan toleransi agama secara keliru. sehingga menyebabkan pemahaman terhadap islampun keliru juga. Atas nama toleransi, seorang muslim memakai atribut natal, mengucapkan kata “selamat natal” sampai merayakan natal itu sudah dianggap hal yang biasa. Bahkan jika tidak melakukan itu semua dianggap tidak menghargai, tidak toleran terhadap agama lain dan akhirnya menimbulkan perpecahan antar orang muslim itu sendiri, serta mengakibatkankan pendangkalan akidah.

Jika kita lihat pada hukum islam, yang dinamankan toleransi beragama itu adalah sikap yang tidak mengganggu terhadap perayaan agamalian dan tidak ikut-ikutan merayakannya. Sebagaimana firman Allah swt dalam Qs Al-kafirun ayat 1-6.

“Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang kafir!, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah, Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”

Ayat diatas menegaskan bahwa muslim tidak akan menyembah tuhannya orang kafir. Artiya antara muslim dan kafir meyembah tuhannya masing-masing tidak dicampuradukan antara keduanya. Itu lah yang dinamakan toleran.

Islam sangat sempurna yang mengatur segalanya. sejak islam Berjaya, Salah seorang sejarawan dunia Thomas Walker Arnold dalam bukunya ‘The Preaching of Islam: A History of Propagation Of The Muslim Faith’ 1896 memuji perlakuan Negara Islam terhadap warga nonmuslim.

“Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Khilafah Turki Utsmani selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.

“Jadi antara muslim dan nonmuslim hidup berdampingan dengan rukun karena negara melindungi dan menunaikan hak-hak mereka tanpa terkecuali. Itulah tolenransi yang sesungguhnya diakui oleh sejaraan dunia jika islam diterapkan dalam kehidupan.

Oleh karena itu saatnya kita kembali kepada islam yang sempurna. Karena tanpa islam yang sempurna, aturan yang ada tidak mampu menyempurnakan kehidupan. Dengan cara menerapkan hukum-hukum Allah secara total dan menyeluruh dalam semua sendi kehidupan.[]

Comment

Rekomendasi Berita