Jalan Mampang Prapatan dan Buncit Akan Diganti, Komunitas Betawi Menolak

Berita1654 Views
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Nama Jalan Mampang Prapatan dan Buncit Raya rencananya akan diganti menjadi Jalan Jenderal Besar A.H. Nasution.

Namun, komunitas sebagian kalangan masyarakat Betawi menolak rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut.

Anggota Komunitas Betawi Kita Yahya Andi Saputra mengatakan telah membuat petisi penolakan upaya penggantian nama jalan tersebut.

“Sejumlah komunitas Betawi telah menandatangani petisi penolakan penggantian nama jalan itu. Kami harap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bisa menghentikan upaya penggantian nama jalan,” kata Yahya, Rabu, 31 Januari 2018.

Menurut dia, nama Jalan Mampang dan Warung Buncit merupakan manifestasi dari nama-nama kampung Betawi di Jakarta.

Untuk itu, jangan sampai nama jalan tersebut berganti nama. Apalagi, lebih seperempat abad terakhir ini sudah begitu banyak nama-nama kampung dan jalan-jalan yang mengacu kepada memori kolektif masyarakat Betawi yang lenyap.

Misalnya, kata dia, di Pondok Gede, ada nama Kampung Dua Ratus karena luasnya 200 ha, tapi sekarang sudah hilang dan masuk Kelurahan Halim. Selain itu, ada Kampung Pecandran dan Kampung Petunduan yang bukan hanya namanya, tetapi kampungnya pun sudah hilang.

“Kami menolak rencana itu,” ujarnya.

Ia menuturkan salah satu janji politik Anies Baswedan adalah merayakan kebudayaan Betawi dan mengangkat harkat martabat orang Betawi.

Untuk itu, perkumpulan Betawi Kita menilai salah satu langkah yang penting dari hal itu adalah menyelamatkan sejarah orang Betawi yang hidup di dalam nama-nama kampung.

“Bukan malah menggantinya atau membiarkan diganti,” ujarnya.

Menurut Yahya, pembangunan yang tanpa wawasan sejarah dan bernafsu itu, bukan hanya menguasai wilayah secara fisik, tetapi juga ingin menghapus ingatan dan semua memori budaya yang pernah hidup di wilayah masyarakat pendukung kebudayaannya.

Gilas roda pembangunan, kata Yahya, bukan saja telah membuat orang Betawi tergusur dari kampung kelahirannya. Bahkan yang paling mengenaskan, memori sejarah mereka yang hidup di dalam nama-nama jalan juga kampung pun dihilangkan.

Toponimi di belahan dunia mana pun selalu berkait dengan asal-usul dan sejarah tempat tersebut. Banyak nama situs, kawasan, monumen, dalam kajian arkeologi yang sebenarnya menyimpan informasi lebih dari sekedar kandungan benda arkeologis yang berada di tempat tersebut.

Ada alasan dan latar belakang tertentu kenapa suatu nama dijadikan nama kampung atau lokasi tertentu. Maka, nama-nama kampung yang berbau lokal ini sangat penting sebagai bagian dari sejarah penduduk Jakarta.

“Kami sangat menyesalkan kebijakan aparat Pemprov DKI Jakarta,” katanya.

Semestinya, DKI seharusnya ikut mendukung kebudayaan Betawi, bukan menjadi bagian dari upaya mengganti nama jalan yang merupakan identifikasi dari nama kampung. Yahya minta nama Jalan Mampang Prapatan dan Warung Buncit Raya tetap dipertahankan.[Bintang]

Comment