by

Jangan Pilih Pilih Penyaluran Dana BOS

-Opini-14 views

 

 

 

Oleh:  Widya Amidyas Fillah,  Pendidik Generasi

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– “Tujuan hukum secara normatif adalah keadilan. Inti dari demokrasi itu sendiri adalah perlindungan terhadap minoritas yang termarjinalkan. Tidak ada diskriminasi di depan hukum. Minoritas dan mayoritas adalah entitas yang sama.” – Ilham Gunawan

Kesesuaian dan kelayakannya perlu dipertanyakan tatkala tujuan dan pelaksanaannya tidak lagi sejalan. Makna dari kalimat tinggallah sebuah selogan usang yang bahkan disimpan di museum pun akan terasa memalukan. Pendidikan negeri ini kembali terlukai dengan adanya kesan diskriminatif terhadap sekolah dengan jumlah sedikit.

Aturan penyaluran dana BOS di canangkan akan disalurkan kepada sekolah yang jumlah siswanya minimal 60 orang. Aturan yang dimaksud ialah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) RI Nomor 6 Tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana BOS Reguler.

Ketentuan soal minimal 60 peserta didik dalam tiga tahun terakhir, termaktub dalam Pasal 3 ayat (2) huruf d.

Kepala Biro Kerjasama dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemendikbudristek, Anang Ristanto menerangkan bahwa “aturan tersebut belum berdampak tahun ini. Termasuk di sekolah yang memiliki peserta didik kurang dari 60 orang. Sekolah-sekolah itu dipastikan akan tetap menerima dana BOS. Semua sekolah sedang diberikan waktu penataan selama tiga tahun.

Adapun, aturan ini sebenarnya sudah ada sejak 2019 sebagaimana termaktub dalam Permendikbud Nomor 3 Tahun 2019 tentang Petunjuk Teknis BOS Reguler. Kemendikbudristek sedang mengkaji kesiapan penerapan kebijakan di atas untuk tahun 2022 dan senantiasa selalu menerima masukan dari berbagai pihak,” republika Ahad (5/9/2021).

Penerapan aturan ini mendapat banyak respon, salah satunya dari Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Kasiyarno, saat membacakan pernyataan sikap aliansi secara daring, “Bertolak belakang dengan amanat pembukaan UUD 1945, bersifat diskriminatif dan tidak memenuhi rasa keadilan sosial,”.

Betapa tidak, rakyat menolak karena mensyaratkan jumlah minimal siswa masing-masing sekolah. Dengan aturan tersebut, akan banyak sekolah yang terancam gagal mendapatkan bantuan. Akibatnya, fasilitas Gedung sekolah akan semakin tidak layak untuk belajar bagi anak negeri ini.

Di sisi lain, Gedung dan fasilitas sekolah merupakan daya tarik minat siswa untuk sekolah di sekolah tersebut. Ini yang menjadi masalah besar dan sekolah terancam tutup jika pada akhirnya sekolah tidak lagi mendapat siswa.

Sungguh, ternyata demokrasi sendiri telah mengkhianati tujuan keadilan masyarakatnya, termasuk di dunia pendidikan. Begitu banyak addendum yang dilakukan demi kepentingan beberepa pihak saja dan rakyatlah yang menjadi korban dan menelan kesengsaraan pada akhirnya.

Berbeda dengan negara Islam di masa kekhalifahan Abbasiyah, Fatimiyyah, Ottoman dan Umayah. Berbagai Lembaga pendidikan didirikan dan terus berkembang hingga saat ni. Tidak ada syarat yang bersifat kapitalistik apapun dalam penyelenggaraannya. Karena bertujuan satu, yaitu mencerdaskan kehidupan dan kemaslahatan rakyatnya di bidang pendidikan.

Tercatat beberapa Lembaga pendidikan Islam yang terus berkembang dari dulu hingga sekarang yang menjadi simbol kegemilangan peradaban Islam.

Berdasarkan hal tersebut, tidak ada solusi lain selain sistem pendidikan Islam yang diatur oleh negara dengan sistem ideologi Islam pula yang mensyaratkan kemauan politik negara untuk memberlakukan Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian akan terwujud kembali sistem pendidikan Islam sebagai sistem pendidikan terbaik untuk generasi umat terbaik.

Jaminan sistem Islam terhadap penyediaan fasilitas pendidikan untuk setiap individu rakyat yang tanpa diskriminasi, tanpa prasyarat yang menghalangi akses terhadap layanan. Tidak ada kepentingan yang bersifat menzalimi rakyatnya dalam upaya mencerdaskan rakyat. Karena berpegang teguh pada aturan Allah SWT yang tercantum dalam QS. Ali Imran : 110 yang artinya :

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (TQS Ali Imran: 110). Wallaahu a’lam Bishshawaab…[]

Comment

Rekomendasi Berita