Kapal Global Sumud Flotilla Dicegat di Laut Mediterania, Zaitun Rasmin Minta Pemimpin Dunia Bertindak

Nasional47 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA–— Sebanyak 22 kapal yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla dilaporkan dicegat oleh pasukan Israel di perairan internasional Laut Mediterania, dekat Pulau Kreta, Yunani, pada Rabu malam, 29 April 2026.

Berdasarkan laporan darurat yang beredar, aparat Israel disebut mendekati kapal-kapal sipil dengan kapal cepat militer, menodongkan senjata, serta mengganggu sinyal komunikasi. Para aktivis di dalam kapal dilaporkan diminta menyerah dalam situasi tegang.

Pihak misi Global Sumud Flotilla menyatakan, kapal mereka dihadang oleh aparat yang mengidentifikasi diri sebagai Israel.

“Kapal-kapal kami didekati kapal cepat militer, diarahkan laser dan senjata serbu, serta peserta diminta maju ke depan kapal dan berlutut,” demikian pernyataan misi tersebut pada Kamis, 30 April 2026.

Menanggapi peristiwa itu, Pemimpin Umum Wahdah Islamiyah, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk segera menghentikan tindakan tersebut. Ia menilai tindakan Israel sebagai bentuk pelanggaran kemanusiaan yang harus dihentikan.

“Penting bagi para pemimpin dunia, terutama negara-negara besar, untuk menghentikan tindakan yang mencederai nilai kemanusiaan,” ujar Zaitun pada Jumat (1/5/2026).

Global Sumud Flotilla merupakan misi pelayaran kemanusiaan yang bertujuan mengirimkan bantuan sekaligus menyuarakan penolakan terhadap blokade yang membatasi akses kebutuhan dasar warga sipil di Gaza.

Zaitun juga mengajak masyarakat internasional untuk bersatu menyuarakan penolakan terhadap kekerasan dan mendorong penyelesaian konflik secara damai.

Sebelumnya, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengecam tindakan pencegatan tersebut. Ia menyebut langkah itu sebagai pelanggaran terhadap hukum maritim internasional dan prinsip kemanusiaan.

“Saya mengutuk tindakan terhadap misi kemanusiaan di perairan internasional. Ini mencerminkan pelanggaran terhadap prinsip hukum dan kemanusiaan global,” kata Anwar pada Kamis malam, 30 April 2026.

Hingga Jumat, 1 Mei 2026, dilaporkan sebanyak 186 aktivis ditahan, termasuk 10 relawan asal Malaysia yang tergabung dalam Sumud Nusantara.

Kementerian Luar Negeri Turki turut mengecam tindakan tersebut dan menyerukan kepada komunitas internasional untuk bersikap tegas terhadap pelanggaran kebebasan navigasi di perairan internasional.[]

Comment