Oleh: Sri Haryati, Aktivis Muslimah
__________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Problematik kehidupan umat kian hari bertambah pelik saja. Kekacauan dan kemunduran tak hanya menimpa perekonomian semata, tetapi dalam hal taraf berpikir juga. Banyak dijumpai orang-orang yang berpikiran pragmatis, tanpa memikirkan konsekuensi dari setiap tindakannya. Bisa kita lihat dari banyaknya kasus bunuh diri yang terjadi selama ini.
Dikutip dari viva.co.id, (19/09/2022), warga Pinrang, Sulawesi Selatan digegerkan dengan adanya kasus bunuh diri yang dilakukan seorang ibu rumah tangga. Seorang ibu berinisial BR (37), ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa dengan posisi menggantung di rumahnya. Kedua anaknya yang berinisial MD (8) dan MN (5) juga ditemukan meninggal di sebelahnya.
Kapolres Pinrang AKBP Moh Roni Mustofa menuturkan, penemuan mayat perempuan BR bersama dua anaknya terjadi di Kelurahan Fakkie, Kecamatan Tiroang, Kabupaten Pinrang diduga akibat terlilit utang. Dengan temuan barang bukti berupa catatan utang piutang dan pesan suara yang dikirimkan ke whatsapp suaminya.
Dalam pesan suara tersebut, korban merasa malu dan tidak bisa lagi menanggung beban atas permasalahan utang piutang dan berpesan agar suaminya segera membayarnya. Anak-anaknya yang masih kecil dibawanya agar tidak lagi menjadi beban untuk suaminya. Ia beranggapan anak-anak tidak berdosa sehingga kelak akan menyambut Bapaknya di surga. Sungguh memilukan.
Nampak jelas begitu rapuh dan merananya jiwa korban akibat himpitan ekonomi juga lilitan utang yang dialami keluarganya. Bunuh diri menjadi jalan keluar yang ditempuhnya.
Padahal, jika saja ia mau bersabar dan bertawakal kepada Allah Swt. Niscaya Allah Swt akan memberikan jalan keluarnya. Namun, akibat taraf berpikir yang mundur sehingga perbuatan yang dilarang Allah Swt. justru dilakukan.
Semua ini akibat diterapkannya kapitalisme sekular di tengah kehidupan umat saat ini. Di mana peran negara sebagai pengurus umat/rakyat tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Dengan kekayaan alam yang dimiliki negeri ini, seharusnya kehidupan rakyat jauh lebih makmur dan sejahtera. Jika saja negara mengelola seluruh SDA dengan benar dan mengembalikannya untuk kesejahteraan rakyat, niscaya tidak akan dijumpai rakyat miskin, apalagi yang depresi akibat himpitan ekonomi.
Negara justru menyerahkan pengelolaan SDA kepada pihak swasta baik lokal maupun asing. Sehingga SDA yang ada bukan lagi untuk menyejahterakan rakyat, tetapi menjadi ladang bisnis bagi para kapitalis dan korporatokrasi. Lapangan pekerjaan yang seharusnya negara berikan kepada rakyat justru diberikan kepada asing. Selain itu lapangan pekerjaan yang seharusnya diberikan kepada laki-laki, malah banyak diberikan kepada perempuan. Alhasil, perekonomian keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Negara yang seharusnya menjamin rakyatnya agar hidup sejahtera, justru membebani rakyat dengan berbagai pungutan pajak, iuran BPJS, biaya pendidikan yang mahal, kenaikan BBM, TDL, dan kenaikan berbagai kebutuhan pokok lainnya.
Tentu saja semua itu menjadi beban yang sangat berat bagi rakyat. Negara justru menganggap subsidi yang seharusnya rakyat nikmati sebagai beban bagi negara. Sehingga berbagai subsidi yang selama ini diberikan malah dihapuskan, dengan begitu rakyat harus berjuang lebih keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Penerapan sekularisme di tengah kehidupan menjadikan masyarakat jauh dari pemahaman akidah yang benar. Agama hanya diterapkan dalam ritual ibadah semata, tidak dijadikan pedoman untuk menyelesaikan semua problematik yang terjadi selama ini. Baik oleh negara, masyarakat, maupun individu. Padahal, Islam bukanlah sekedar agama melainkan ideologi yang mampu menyelesaikan seluruh problematik kehidupan.
Islam merupakan agama sempurna dan paripurna yang Allah Swt. turunkan sebagai ideologi yang dapat diterapkan oleh negara untuk mengatur kehidupan. Islam satu-satunya sistem yang mampu menjamin kebutuhan rakyatnya. Islam mampu memenuhi berbagai kebutuhan rakyat, baik kebutuhan primer seperti sandang, pangan, papan, bahkan kebutuhan sekunder dan tersier. Selain itu kebutuhan akan pendidikan, kesehatan, dan keamanan, semua dijamin oleh negara.
Dalam Islam, seorang pemimpin negara disebut khalifah, ia bertugas sebagai periayah umat. Khalifah memastikan setiap laki-laki dewasa sebagai pemimpin keluarga mampu mencari nafkah, baik untuk dirinya sendiri maupun keluarganya.
Negara menyediakan lapangan pekerjaan, dan memastikan semua laki-laki dewasa mendapatkan pekerjaan tersebut. Jika mereka mampu bertani tapi tidak memiliki lahan, maka khalifah akan memberikan lahan dan bibit dengan gratis. Begitu pun jika mereka tidak memiliki keahlian dalam bertani, maka khalifah akan memberikan pelatihan hingga mereka benar-benar mampu mengelola lahan pertaniannya.
Namun, jika mereka tidak bekerja karena lalai tidak menjalankan kewajibannya, maka negara akan memberikan sanksi kepada mereka. Islam satu-satunya sistem yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan rakyat. Sebagaimana pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, rakyat pada masa itu hidup makmur dan sejahtera. Hingga tidak dapat dijumpai orang miskin yang akan menerima zakat. Bahkan banyak rakyat yang mampu menunaikan ibadah haji sampai berkali-kali.
Sungguh kehidupan di bawah naungan Islam seperti ini yang rakyat harapkan. Hidup dalam kesejahteraan tanpa terbebani dengan mahalnya BBM, TDL, biaya pendidikan dan kesehatan. Semua kebutuhan ini akan dijamin khalifah, diberikan dengan harga murah bahkan bisa gratis. Sehingga tidak akan dijumpai jiwa-jiwa merana akibat himpitan ekonomi apalagi utang.Wallahu’alam bishawwab.[]









Comment