Kapitalisme dan Krisis Kesehatan Mental

Opini26 Views

 

Penulis: Eki Afrilia Adjanti | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Rasulullah Saw. bersabda: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari No. 6412).

Hadits tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan dan waktu luang merupakan dua nikmat besar yang kerap baru disadari nilainya ketika seseorang kehilangan salah satunya.

Dalam konteks kehidupan saat ini, persoalan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga kondisi mental yang semakin menjadi perhatian.

Gambaran mengenai tingginya kebutuhan terhadap layanan kesehatan mental antara lain terlihat dari informasi mengenai layanan healing 119 yang dibentuk Kementerian Kesehatan.

Berdasarkan informasi yang diberitakan life.indozone.id pada 22 September 2026, dalam satu shift selama tiga jam dengan sekitar lima psikolog yang bertugas, jumlah pengakses layanan tersebut disebut dapat mencapai 500 hingga 600 orang.

Informasi tersebut setidaknya menunjukkan dua persoalan yang perlu mendapat perhatian. Pertama, tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan mental.

Kedua, keterbatasan tenaga psikolog yang tersedia untuk memberikan layanan. Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan kesehatan mental membutuhkan perhatian dan kesiapan sistem kesehatan yang lebih kuat.

Dalam pandangan penulis, persoalan tersebut tidak dapat dilepaskan dari sistem kehidupan yang berkembang saat ini.

Kapitalisme yang menempatkan kepemilikan modal dan kekuatan ekonomi sebagai salah satu fondasi utama kehidupan dinilai telah melahirkan berbagai ketimpangan sosial.

Masyarakat seolah didorong untuk terus mengejar materi demi memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya.

Ketika seseorang tidak mampu mengikuti persaingan ekonomi, tekanan kehidupan dapat semakin berat. Sebaliknya, mereka yang berhasil mengakumulasi kekayaan memperoleh akses lebih besar terhadap kenyamanan dan berbagai fasilitas kehidupan.

Dalam praktiknya, terdapat pula cara-cara memperoleh kekayaan yang bertentangan dengan nilai agama, seperti korupsi, riba, penipuan, dan bentuk pelanggaran lainnya.

Tekanan untuk terus bekerja, memenuhi kebutuhan hidup, mempertahankan penghasilan, serta mengejar standar kehidupan tertentu pada akhirnya dapat menjadi beban psikologis apabila tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola kehidupan secara seimbang.

Dalam kondisi seperti ini, seseorang dapat lebih mudah mengalami kecemasan, kelelahan, kesedihan, maupun keputusasaan.

Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak melupakan berbagai nikmat Allah Swt. Dalam QS An-Nahl ayat 18 disebutkan:

وَاِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَةَ اللّٰهِ لَا تُحۡصُوۡهَاؕ اِنَّ اللّٰهَ لَـغَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Dalam perspektif Islam, ujian kehidupan juga memiliki dimensi spiritual. Rasulullah Saw. bersabda bahwa seorang Muslim yang mengalami penyakit, keletihan, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan tertusuk duri sekalipun, dapat menjadi sebab dihapuskannya sebagian kesalahan.

Hadits tersebut diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hurairah dan juga terdapat dalam riwayat dari Abu Sa’id Al-Khudri.

Pesan tersebut memberikan penguatan bahwa seorang Muslim tidak semestinya memandang setiap kesulitan hanya dari sisi material. Ada dimensi keimanan yang mengajarkan manusia untuk menghadapi ujian dengan kesabaran, ikhtiar, dan tawakal.

Namun, penguatan spiritual tersebut tidak berarti mengabaikan upaya nyata untuk menangani persoalan kesehatan mental. Pengobatan, pendampingan psikologis, dukungan keluarga, serta akses terhadap layanan kesehatan tetap merupakan bagian dari ikhtiar.

Karena itu, manusia membutuhkan ilmu agar mampu menentukan sikap ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Ilmu tidak hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan duniawi, tetapi juga untuk memahami petunjuk Allah Swt. dan menerapkannya dalam kehidupan.

Rasulullah Saw. juga dikenal dengan sabdanya:

طلب العلم فريضة على كل مسلم

“Menuntut ilmu itu fardhu atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah).

Imam Malik memberikan nasihat yang masyhur:

العلم يُؤْتَى ولا يأتِي

“Ilmu itu hendaknya didatangi, bukan ilmu yang mendatangi kita.”

Nasihat tersebut mengingatkan pentingnya kesungguhan dalam mencari ilmu. Dengan ilmu, seseorang diharapkan memiliki bekal untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan berdasarkan petunjuk agama, bukan semata-mata mengikuti dorongan hawa nafsu atau tekanan lingkungan.

Termasuk dalam menghadapi persoalan kesehatan mental. Penguatan keimanan, pembelajaran agama secara menyeluruh, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk membangun ketahanan diri.

Pada saat yang sama, persoalan kesehatan mental tetap perlu dipahami sebagai persoalan yang kompleks dan dapat membutuhkan bantuan profesional.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penting untuk mengevaluasi sistem kehidupan yang selama ini berkembang. Kapitalisme dinilai terlalu menempatkan orientasi material sebagai bagian dominan dalam kehidupan manusia sehingga berpotensi memperbesar tekanan sosial dan ekonomi.

Sementara itu, Islam dipandang sebagai way of life atau jalan kehidupan yang memberikan pedoman tidak hanya dalam persoalan ibadah, tetapi juga dalam mengatur berbagai aspek kehidupan manusia.

Pada akhirnya, kesehatan merupakan nikmat yang harus dijaga, sedangkan kehidupan adalah amanah yang perlu dijalani dengan ilmu, ikhtiar, dan keimanan. Persoalan kesehatan mental tidak cukup hanya dilihat dari satu sisi.

Selain membutuhkan layanan kesehatan yang memadai, manusia juga membutuhkan lingkungan sosial yang sehat serta pegangan nilai yang dapat membantunya menghadapi berbagai ujian kehidupan. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Comment