Kapitalisme Lahirkan Generasi Rusak

Opini1001 Views

 

Penulis: Puput Hariyani, S.Si | Womanpreuneur

 

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA — Ragam persoalan generasi di era kapitalisme seolah tak ada ujungnya. Berbagai kemaksiatan seperti tawuran, pembegalan, bullying, pergaulan bebas, hingga narkoba telah merusak kehidupan anak muda.

Baru-baru ini, detik.com memberitakan peristiwa tragis di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Seorang siswa kelas empat SD berinisial JN (9) menusuk pelajar MTs kelas dua, RI (13), dengan gunting di bagian leher hingga korban meninggal dunia.

Disusul kejadian serupa di Kota Bandung, Jawa Barat. Beritasatu.com melaporkan, seorang pelajar SMK tewas ditusuk temannya sendiri karena diduga cemburu. Sebelum penusukan, korban dan pelaku sempat terlibat cekcok.

Lemahnya kondisi generasi—termasuk minimnya pengendalian diri dalam menghadapi persoalan, kecemasan, dan ketakutan—tidak lepas dari lingkungan yang tidak mendukung.

Selain keimanan yang rapuh akibat kurangnya pembinaan dalam keluarga, peran masyarakat sebagai kontrol sosial yang makin longgar, serta lemahnya pengaturan negara dalam menjaga generasi, semuanya bermuara pada rusaknya tatanan kehidupan.

Ironisnya, media massa yang seharusnya menjadi wadah edukasi justru sering berperan sebagai perusak dengan menayangkan konten bebas kontrol.

Sistem sekuler-kapitalis terbukti gagal menyediakan pendidikan yang membentuk kepribadian Islam. Kapitalisme menjadikan generasi tidak memahami jati dirinya sebagai hamba Allah. Pemikiran mereka jauh dari nilai-nilai Islam, tidak tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan. Akibatnya, output pendidikan tidak sesuai dengan visi misi penciptaan manusia dalam kerangka takwa.

Berbagai persoalan ini tentu tidak bisa dibiarkan. Diperlukan solusi komprehensif yang berbasis sistem. Islam adalah jawabannya. Penerapan Islam akan menjadikan negara sebagai penanggung jawab segala urusan umat, termasuk membentuk generasi berkepribadian mulia.

Sistem pendidikan Islam tidak hanya fokus pada capaian akademis, tetapi juga menanamkan kepribadian Islami—membentuk generasi dengan pola pikir dan pola sikap yang sesuai syariat. Dengan begitu, lahirlah generasi muslim yang tangguh, dibina oleh keluarga, dikawal oleh masyarakat, dan dilindungi negara.

Media berperan sebagai sarana edukasi yang produktif, menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin di bawah kepemimpinan Islam dunia. Wallahu a‘lam bi ash-shawab.[]

Comment