Kasus Bullying Semakin Tinggi, Ada Apa dengan Generasi?

Opini2300 Views

 

 

Oleh: Rizka Adiatmadja, Praktisi Homeschooling

__________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Informasi di kanal-kanal berita tentang perundungan atau bullying yang semakin merajalela. Terasa miris karena semakin hari perilaku tersebut kian bengis dan sadis. Bukan hanya dilakukan oleh orang dewasa, anak kecil pun tak segan untuk turut serta. Mem-bully kawannya dengan sedemikian rupa, tega menganiaya, bahkan tidak takut dengan bayang-bayang hukuman yang akan mendera.

Dikutip dari Kompas.com – Betapa nahasnya tragedi yang terjadi kepada MHD (9 tahun) seorang siswa SDN di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Ia dikeroyok oleh kakak kelasnya. MHD mengalami kritis selama tiga hari di rumah sakit, hingga akhirnya meninggal dunia. (20 Mei 2023)

Rapor merah kondisi generasi hari ini. Terlatih berani dengan tidak manusiawi. Kasus bullying sesama anak terus berulang terjadi, berbagai upaya dilakukan, tetapi tak kunjung melahirkan solusi. Catatan demi catatan buruk semakin memperlihatkan kondisi generasi kita yang terpuruk. Kasus yang rentan terjadi bukan hanya kepada siswa setingkat SMA dan SMP. Akan tetapi, bullying di tingkat SD semakin menjamur.

Dikutip dari Jurnal Soreang – KPAI merilis data, dari tanggal 13 Februari 2023 tercatat sebanyak 1.138 kasus bullying terhadap anak, tentu ini menandakan kenaikan yang signifikan. Kasus bullying yang terjadi itu secara fisik dan psikis. Di tahun 2018 Komnas Anak memberikan laporan jika Indonesia menjadi negara peringkat ke-5 dari 78 negara yang memiliki kasus bullying terbanyak. (28 Februari 2023)

Indonesia mengalami darurat bullying, tentu ini menjadi problematika yang teramat genting. Padahal perangkat aturan sudah dikeluarkan dengan berbagai pandangan kebijakan, tetapi tidak mampu menyelesaikan perilaku buruk para pelaku bullying yang semakin meresahkan. Ada apa di balik semua, mengapa terus terjadi dan tak berkurang kasusnya?

Maraknya bullying hanya salah satu dari saratnya kerusakan yang dilahirkan sekularisme. Membawa generasi semakin terjerembap ke dalam ruang liberalisme. Menjauhkan pemahaman mereka dari hakikat penciptaan manusia dan aturan Sang Pencipta. Banyak generasi yang tidak tahu jika sejatinya hidup adalah terikat pada syariat. Mengukuhkan taat untuk menghalau maksiat.

Faktor-faktor yang memberikan pengaruh besar terhadap bullying beberapa di antaranya adalah kurikulum pendidikan yang bersandar pada pilar-pilar sekuler. Perundungan bisa terjadi di sekolah mana pun, termasuk yang berbasis Islam.

Karakter khairu ummah semakin sulit ditemukan karena pijakan pengasuhan dalam keluarga pun berkiblat pada kondisi memisahkan agama dari kehidupan, belum lagi cengkeraman sistem ekonomi kapitalisme yang membuat orang tua semakin melihat nilai-nilai kewajiban diukur dengan pendapatan yang besar. Semua sibuk untuk mengejar finansial, anak yang menjadi korban.

Tak ada lagi perlindungan yang bisa membuat mereka terjaga dari liarnya media sosial–yang memberikan contoh perundungan dengan berbagai versi. Berbagai konten bisa diakses dengan mudah tanpa arah. Dari perilaku seks bebas ataupun menyimpang, kriminal, perundungan, hingga kejahatan demi kejahatan yang dipertontonkan dengan bebas dan luas

Begitu pun masyarakat yang sudah kental dengan ketidakpedulian atau individualistis, bahkan ada yang berprinsip kalau sekadar mencela dan mengejek itu hal wajar dan jangan dijadikan masalah besar. Padahal butuh orang sekampung untuk mendidik satu anak. “It takes a village to raise a child”.

Jadi, butuh negara, masyarakat, keluarga, bahkan individu untuk aware terhadap permasalahan bullying ini. Butuh perasaan, pemikiran, dan aturan yang sama dalam memulihkan kondisi kerusakan yang merajalela di kalangan remaja, termasuk perundungan atau bullying.

Butuh Islam untuk menuntaskan perilaku rusak dan sewenang-wenang. Mirisnya lagi, kerusakan ini seperti mendarah daging. Bullying adalah penyakit sosial yang terlahir dari pola pikir dan sikap yang dangkal. Landasan awal pendidikan seharusnya dikembalikan pada tatanan akidah Islam. Menjadikan keimanan di urutan pertama sebagai pijakan kehidupan yang utama.

Akidah Islam ini memiliki kurikulum berbasis takwa, tentu akan melahirkan generasi yang berkepribadian islami dan taat terhadap syariat. Negara akan selektif dan tegas memilah konten yang bisa diakses generasi.

Atmosfer pengasuhan dalam bingkai pengasuhan pun tentu akan jernih seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Cinta ayah karena takwa akan menguatkan, begitu pun kasih sayang ibu karena iman akan menghangatkan. Sehingga tangki cinta anak akan dilandasi kekuatan dan kehangatan yang bersandar pada nilai-nilai ketakwaan.

Akidah Islam akan membentuk masyarakat sadar sepenuhnya tentang beramar makruf nahi mungkar, sehingga tidak akan ada yang diam dan menoleransi kekerasan. Sejatinya kerusakan yang terjadi dalam lingkup generasi bukan semata kesalahan individu, tetapi sekularisme yang merusak secara sistemis.

Solusi integral dan komprehensif untuk menangani berbagai kasus kerusakan generasi adalah kembalinya sistem kehidupan kepada Islam kafah. Wallahualam bissawab.[]

Comment