Kejam! Karena Utang, Nyawa Melayang

Opini237 Views

 

Penulis : Nikmatul Choeriyah | Aktivis Muslimah

__________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Entah yang keberapa kali kasus pembunuhan karena masalah hutang piutang ini kembali terjadi, seolah nyawa manusia tak lagi berharga.

Dilansir dari kumparan.com, seorang pria berinisial IW (43 tahun), warga Desa Sumaja Makmur, Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim, Ditangkap polisi karena menusuk tetangganya hingga tewas.

Kasus penganiayaan ini sendiri karena masalah utang. Di mana korban yang berinisial Malias E memiliki utang kepada I dan tak mau membayarnya.

Kapolres Muara Enim, AKBP Andi Supriadi, mengatakan kasus tersebut terjadi di rumah korban di Kecamatan Gunung Megang, Senin 10 Juli 2023.

“Berawal saat pelaku datang ke rumah korban untuk menagih utang hasil penjualan kayu yang sekitar satu bulan belum dibayar,” katanya, Minggu 16 Juli 2023.

Saat itu, korban M sedang bersama istri dan anaknya. Namun, bukannya membayar, korban justru marah dan hendak menampar I.

“Pelaku yang emosi langsung menusukan pisau yang dibawanya ke perut korban,” katanya.

Akibatnya, M terkapar bersimbah darah, dan I langsung melarikan diri menggunakan sepeda motor. Selanjutnya, korban dibawa ke RS Muara Enim dan meninggal dunia pada Selasa, 11 Juli 2023, sekitar pukul 16.00 WIB.

Kasus di atas adalah salah satu contoh dari gambaran masyarakat yang semakin sekuler (memisahkan agama dari kehidupan). Bahkan tak heran di zaman sekarang, orang yang dipinjami uang lebih galak dari yang meminjami.

Ini adalah bukti nyata bahwa sistem saat ini adalah sistem rusak yang melahirkan sekulerisme yang menjauhkn manusia  dari aturan Allah swt dalam upaya atasi semua problematika kehidupan yang membelenggunya. Akibatnya kejahatan, penganiayaan, kemiskinan, pembunuhan dan semua kemaksiatan saat ini sangat mudah sekali kita jumpai di dalam masyarakat. Ketaqwaan dan  individu bak jauh panggang dari api.

Peran negara sangat diperlukan agar masyarakat mampu menjadi manusia yang kuat dan ta’bah terhadap ujian yang datang di kehidupan mereka.

Dalam Islam, masalah utang piutang sudah sangat jelas diatur. Apabila seseorang berhutang, maka baginya wajib mengembalikan dengan waktu yang telah ditentukan. Sebagaimana sabda Nabi saw. :

“Siapa yang berhutang, sedang ia berniat tidak melunasi hutangnya, maka ia akan bertemu Allah sebagai seorang pencuri.” (HR. Ibnu Majah).

Manurut ajaran Islam di dalam utang piutang itu ada ta’awun atau perbuatan tolong menolong. Orang yang mempunyai harta, menolong saudaranya dengan memberikan pinjaman, tanpa meminta imbalan apa- apa atau riba. Sedangkan yang meminta pinjaman juga wajib melunasi utangnya sesuai waktu yang telah disepakati. Jika ada keterlambatan dalam membayar utang, maka dalam Islam ada yang namanya musyawarah, membicarakan secara baik- baik antara kedua belah pihak.

Kondisi tersebut tentu hanya akan terjadi ketika negara menjadikan Islam sebagai satu- satunya aturan kehidupan bermasyarakat. Karena negara dengan sistem Islam akan menerapkan sistem pendidikan Islam yang akan mewujudkan individu- individu masyarakat yang bersyaksiyah (berkepribadian) Islam. Sehingga masyarakat paham tentang kewajiban-  dan menerapkannya Salam praktik kehidupan.

Jika terjadi penganiayaan, negara wajib menghukum orang- orang yang telah terbukti bersalah. Hukumannya dapat berupa Diyat atau harta yang wajib dikeluarkan si pelaku atau keluarga pelaku akibat tindak pidana yang dilakukannya kepada korban. Sebab hukum Islam itu bersifat jawabir (Penebus dosa) dan zawajir (Pencegahan).

Melihat kondisi sosial yang sesak dengan kriminalitas, maka sudah seharusnya kita kembali kepada  Islam yang memberikan naungan kepada kaum muslimin dan rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam bhi ash-shawab.[]

Comment