Sanksi Islam dan Pemberantasan Kriminalitas

Berita, Opini152 Views

 

 

Penulis: Ummu Balqis | Ibu Pembelajar

__________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Saat ini kita selalu disuguhkan dengan berbagai macam berita kriminal yang kian menjadi-jadi. Mulai dari kasus pembunuhan hingga mutilasi yang cukup membuat kita merinding. Belum lagi sederet kasus kriminal lain seperti penganiayaan, pemerkosaan, pencurian, pembegalan, penipuan  tak pernah habis diberitakan baik di media elektronik maupun cetak.

Pembunuhan sadis berujung mutilasi telah terjadi berulang kali. Kasus terbaru, pembunuhan dan mutilasi terhadap seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, asal Pangkal Pinang, Bangka Belitung telah menggegerkan masyarakat.

Seperti ditulis cnnindonesia.com (16/07/2023),  potongan tubuh korban disebar di beberapa titik. Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan potongan tubuh mahasiswa inisial R, korban mutilasi di Sleman ditemukan di lima titik sejak penemuan pertama hari Rabu (12/7/23).

Potongan tubuh yang telah ditemukan sejauh ini berupa tangan kiri, dua potong bagian mata kaki, dan dua bagian tubuh lain yang sudah tak berbentuk. Kemudian, ada pula bagian potongan tubuh lainnya seperti kepala yang ditemukan usai polisi menginterogasi kedua pelaku berinisial RD dan W.

Berbagai macam tindak kriminal lain telah terjadi di berbagai pelosok negeri. Masyarakat sangat resah akan hal ini. Banyak upaya telah dilakukan untuk menghentikan kasus kriminal nmun belum membuahkan hasil. Jangankan menghentikan, menguranginya pun tak bisa, bahkan semakin hari kasus kriminal semakin meningkat.

Banyak faktor mengapa hal ini bisa terjadi. Tindakan kriminal bisa dipicu oleh berbagai macam alasan, di antaranya karena faktor individu. Lemahnya pemahaman agama dapat mengakibatkan seseorng melakukan perbuatan jahat. Dendam dan amarah telah menghilangkan akal sehat seseorang untuk menghilangkan nyawa orang lain.

Selain itu, kesulitan ekonomi juga dapat memicu seseorang berbuat kriminal. Kesulitan memenuhi kebutuhan ekonomi yang serba mahal bisa pula menggiring mereka melakukan aktivitas pencurian, perampokan bahkan pembegalan.

Selain faktor internal individu, faktor lemahnya sanksi yang diberikan juga sangat mempengaruhi mengpa seseorang tak berhenti bertindak kriminal. Sanksi yang diberikan pada pelaku kriminal tak membuat mereka jera. Bahkan banyak kasus yang terjadi, setelah mereka bebas dari kurungan penjara, mereka akan melakukan lagi kejahatan yang sama.

Banyak pelaku pembunuhan dijatuhi sanksi penjara. Begitu juga dengan tindakan kriminal lainnya, kebanyakan berakhir di jeruji besi. Semua jenis sanksi yang diberikan berdasarkan keputusan manusia. Alhasil, sanksi yang ada tidak mampu menjadi solusi untuk mengurangi tindakan kriminal apatah lagi menghapusnya.

Selain itu, hukum yang diterapkan di negeri ini cenderung tebang pilih. Jika yang melakukan tindakan kriminal adalah seorang pejabat dan konglomerat terlihat lebih spesial dibanding rakyat biasa. Acap kita dengar “Hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah”. Dengan uang, hukum bisa dibeli.

Walhasil, penerapan hukum di negeri ini telah menunjukkan ketidakadilannya. Hukum buatan manusia cenderung memihak pada sesuatu yang dapat memberikan manfaat. Sehingga tak heran, kita menyaksikan hukum bisa berubah kapan saja sesuai hawa nafsu manusia.

Untuk itu, agar kita mendapatkan keadilan hukum dan mampu memberikan kebaikan untuk manusia, maka sudah seharusnya mencampakkan hukum buatan manusia. Kita wajib menerapkan hukum Islam yang berasal dari Allah Swt.

Hukum Islam mampu mengatasi kasus kriminal. Karena sanksi yang diberikan kepada pelaku kriminal tegas, tidak berubah-ubah, tidak dapat dibeli, berlaku bagi siapa saja tanpa pandang bulu. Sanksi Islam benar-benar akan membuat jera para pelakunya.

Sanksi dalam Islam dapat berupa jinayat, hudud, takzir, mukhalafat. jinayat yaitu untuk penganiyaan atau penyerangan terhadap badan yang mewajibkan kisas (balasan setimpal) atau diyat (denda).

Dalam jinayat terdapat hak manusia untuk memberikan ampunan atau tidak kepada pelaku. Diyat yang harus diberikan tentu tidak ringan, yaitu 100 ekor unta, 40 diantaranya unta yang sedang bunting.

Adapun hudud, yaitu sanksi untuk kemaksiatan yang merupakan hak Allah Swt. untuk memberikan hukumannya. Tidak ada hak manusia untuk memaafkan.

Adapun tindakan kriminal yang dijatuhi sanksi hudud diantaranya pencurian dengan sanksi potong tangan jika sudah mencapai nishab seperempat dinar. Pemerkosaan yang belum menikah mendapat sanksi cambuk dan rajam bagi yang sudah menikah.

Bgi pelaku zinah, kedua belah pihak mendapat sanksi dicambuk bagi yang belum menikah dan dirajam bagi yang sudah menikah. Liwath (homo seksual), sanksinya dilempar batu hingga mati. Banyak bentuk-bentuk tindakan kriminal lainnya seperti minum khamar, murtad, bughot dan sebagainya yang termasuk dalam hudud.

Takzir adalah kemaksiatan yang di dalamnya tidak ada had dan kafarat, melainkan diserahkan kepada penguasa untuk menetapkan sanksi yang layak bagi pelaku kemaksiatan. Perbuatan yang dijatuhi takzir diantaranya perbuatan yang merusak akal seperti pengedar ganja dan narkotika, penjual khamar.

Selain itu, setiap pelanggaran terhadap kemuliaan, kehormatan (harga diri), mengganggu keamanan, dan lainnya juga termasuk pada sanksi takzir.

Adapun mukhalafat adalah tidak sejalan dengan perintah dan larangan yang ditetapkan oleh negara Islam. Contohnya seorang pemimpin Islam telah menetapkan aturan dalam pembangunan rumah, hotel, cafe sesuai aturan tertentu. Jika tidak ditaati maka pemimpin Islam akan menjatuhi sanksi.

Sanksi ini pernah diterapkan selama belasan abad lamanya di masa kekayaan islam dan saat itu tindakan kriminal haris tidak terdengar.

Menurut catatan ahli sejarah dari Universitas Malaya Malaysia, sepanjang kurun waktu itu hanya ada sekitar 200 kasus yang diajukan ke pengadilan. Jumlah ini sangat jauh lebih kecil dibandingkan dengan tindak kriminalitas yang terjadi saat ini.

Demikianlah bentuk sanksi dalam Islam. Sudah saatnya sistem sanksi ini mengganti sistem sanksi kufur. Allah Swt. Berfirman:

فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

“Maka, putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan (al-Quran) dan janganlah kamu mengikuti hawa hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran (hukum Allah) yang telah datang kepadamu” (QS al-Maidah : 48). Wallahu’alam.[]

Comment