Ketika Bencana Tak Lagi Sekadar Takdir

Opini141 Views

Penulis: Eva Herlina, ST, MT | Dosen Teknik

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Bencana kerap disebut sebagai takdir. Namun ketika satu kampung lenyap dari peta, ketika jenazah belum dapat tertangani karena lumpur mengeras setinggi atap rumah, dan ketika alat berat tak kunjung hadir sementara waktu terus menggerus harapan, pertanyaan tak bisa berhenti pada kata “alam”.

Bencana memang dapat dipicu oleh peristiwa alam. Namun skala kehancurannya kerap merupakan akumulasi dari keputusan manusia. Cara ruang dikelola, sungai diperlakukan, dan risiko diabaikan, semuanya berkontribusi membentuk tragedi yang seharusnya bisa diminimalkan.

Dalam kajian kebencanaan, perubahan tata guna lahan, kerusakan daerah aliran sungai, serta lemahnya mitigasi bukanlah isu baru. Risiko telah lama dipetakan, diperingatkan, bahkan diteliti. Ketika risiko diketahui tetapi tidak direspons secara serius, korban yang berjatuhan bukan semata akibat hujan atau longsor, melainkan buah dari kelalaian struktural.

Hal yang paling menyayat bukan hanya jumlah korban jiwa, melainkan bagaimana kematian itu berlangsung dalam sunyi. Prosedur yang menahan bantuan, status darurat yang tak kunjung ditetapkan, serta lambannya mobilisasi sumber daya memperlihatkan kenyataan pahit: nyawa manusia sering kali kalah prioritas dibanding administrasi dan citra.

Padahal, skala bencana ini telah menunjukkan dampak yang sangat serius. Berdasarkan pembaruan data kebencanaan per 14 Desember 2025, tercatat 1.016 jiwa meninggal dunia, 212 orang masih dinyatakan hilang, dan sekitar 7.600 jiwa mengalami luka-luka. Bencana ini berdampak pada 52 kabupaten/kota, dengan sekitar 158.000 rumah mengalami kerusakan.

Kerusakan juga meluas pada infrastruktur dan fasilitas publik. Sedikitnya 1.200 fasilitas umum dilaporkan rusak, termasuk 434 rumah ibadah, 219 fasilitas kesehatan, 581 fasilitas pendidikan, 290 gedung atau kantor pemerintahan, serta 145 jembatan.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya ada keluarga yang kehilangan tempat berpulang, kampung yang lenyap, dan waktu emas penyelamatan yang tidak selalu hadir tepat waktu.

Dalam kondisi darurat ekstrem seperti ini, gotong royong manual tidak lagi memadai. Penanganan bencana berskala besar menuntut keputusan cepat, ketersediaan alat berat, serta komando yang jelas dan tegas.

Ketika semua itu tidak hadir secara proporsional, masyarakat kecil tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga kehilangan rasa aman dan keyakinan bahwa negara benar-benar hadir melindungi.

Bencana seharusnya menjadi momen koreksi bersama. Bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk berani berkata jujur – ada sistem yang perlu ditinjau ulang, ada kebijakan yang harus diaudit, dan ada cara pandang pembangunan yang telah menjauh dari prinsip kehati-hatian serta kemanusiaan.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan manusia, agar manusia mau kembali.

Maka pertanyaan hari ini bukan semata siapa yang salah, melainkan apakah kita bersedia kembali—kepada keadilan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap kehidupan.

Jika tidak, maka bencana berikutnya bukan lagi soal kemungkinan, melainkan soal waktu.[]

Comment