by

Ketika Negara Tak Lagi Menjaga, Generasi Kembali Menjadi Korban

-Opini-61 views

 

 

 

Oleh: Puput Hariyani, S.Si, Pendidik Generasi

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Detik-detik akhir tahun 2021 masih menyisakan pilu dari dunia pendidikan. Adalah HW (36), guru pesantren di kota Bandung, Jawa Barat. Membuat keluarga korban geram lantaran aksi bejatnya memperkosa sejumlah 12 santriwati.

Salah seorang anggota keluarga bernama Roni, mengungkap bahwa ada tiga anggota keluarganya yang menjadi korban pemerkosaan, masing-masing berumur 16, 17 dan 18 tahun. Bahkan di antara mereka ada yang hamil hingga melahirkan.

Modus pelaku dengan mengiming-imingi keluarga korban dengan memberikan pendidikan gratis. Karena hal tersebut, keluarga korban tergiur dengan bujuk rayu pelaku agar anaknya menjadi murid di pesantren.

Berdasarkan salinan dakwaan yang diterima detikcom, aksi jahat pelaku memperkosa belasan santriwati itu berlangsung pada rentang waktu 2016 hingga 2021. Rentang waktu yang cukup pajang.

Kejadian yang memalukan ini sangat disesalkan, mengingat HW ini merupakan sosok terpandang di mata orang-orang. Semestinya ia mengajarkan keteladanan dan memberikan contoh terbaik sebagai seorang pendidik. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ia sudah merusak marwah seorang ustadz, menghancurkan masa depan generasi yang mestinya dijaga.

Belajar dari kasus ini ada banyak faktor yang penting untuk disorot. Pertama, kita lihat dari sisi pelaku dan korban. Pelaku jelas orang yang tidak kuat keimanannya. Dia memiliki cacat kepribadian. Guru yang baik adalah mereka yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang terpadu. Menjadikan Islam sebagai landasan berpikir dan bersikap.

Selanjutnya dari sisi pelaku, jika dilihat dari rentang waktu kejadian maka bisa kita saksikan cukup lama sekitar 5 tahun. Mengapa sepanjang waktu kejadian baru terungkap sekarang?

Ini benar-benar korban pemerkosaan atau memang dilakukan yang awalnya keterpaksaan kemudian menjadi suka sama suka? Nah hal ini juga perlu dicermati, agar jelas hukum yang hendak diambil.

Kedua, dari sisi kontrol sosial dan lingkungan. Dari lamanya rentang kejadian ini disebabkan karena pelaku yang cerdas menutup rapat aksinya atau ketidakpedulian lingkungan di sekitar tempat kejadian?

Berdasarkan penuturan Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Dodi Gazali Emil seperti dikutip kompas.com (8/12/2022)  menyebutkan bahwa lokasi pemerkosaan itu tak hanya di pesantren, tetapi juga di beberapa lokasi lainnya seperti apartemen hingga hotel.

Ketiga, di mana peran negara? Mengapa hal ini penting dibahas? Jelas penting karena negara adalah pihak yang semestinya menjadi penyelenggara pendidikan sebagaimana dimandatkan UUD 1945.

Konstitusi Republik Indonesia UUD 1945 amandemen ke-empat, secara tegas telah mengatur tentang hak warga negara untuk mendapatkan pelayanan pendidikan. Pemerintah diwajibkan untuk menyelenggarakan sistem pendidikan nasional yang dapat menjangkau kebutuhan warga masyarakat. Hal itu sebagaimana tercantum dalam Pasal 31 ayat (3) dan (4) UUD 1945, yang berbunyi ;

Ayat (3) : “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dalam undang-undang”.

Selanjutnya ayat (4) menyebutkan : “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”.

Dengan adanya jaminan pendidikan dari negara maka wali murid tidak akan dengan mudah mendapatkan iming-iming berkedok sekolah gratis.

Selain memberikan pendidikan yang mampu dijangkau dan merupakan hak seluruh warga, negara juga wajib memberikan penjagaan dengan menetapkan rambu-rambu interaksi laki-laki dan perempuan yang terkerangka dalam satu sistem pergaulan.

Penjagaan negara juga harus tampak pada aktifitas edukasi di tengah masyarakat, sinergis dengan media yang akan menutup tayangan yang mampu merangsang lahirnya guru yang mengumbar syahwat. Juga sanksi yang tegas bagi pelaku agar jera.

Semoga dengan banyaknya kejadian yang terus berulang ini, menyadarkan kita semua untuk tergerak menyelamatkan generasi. Segera mengadopsi satu sistem aturan yang terintegrasi dengan seluruh sistem kehidupan secara komprehensif, itulah sistem kehidupan Islam. Wallahu’alam bi ash-showab.[]

Comment

Rekomendasi Berita