Kisah Pilu Palestina: Kita Pejuang yang Mereka Nantikan

Opini2177 Views

 

 

Penulis: Nikmah Ridha Batubara, M.Si | Aktivis Dakwah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Lebih dari setahun sudah waktu berlalu dan suara tangisan saudara kita di Palestina belum juga berhenti. Darah masih terus mengalir. Air mata tak terbendung saat satu persatu keluarga mereka harus kehilangan nyawa dalam keadaan tragis. Tak sedikit yang ditemukan hanya potongan-potongan tubuh saja. Atau bahkan hilang di bawah reruntuhan gedung-gedung yang hancur di bombardier zionis. Mereka tertimbun reruntuhan selamanya.

Fakta kebengisan yang melukai anak –  anak. Sangat menyayat hati, karena sampai detik ini Gaza masih dalam gempuran dahsyat zionis dan sekutunya Amerika. Wilayah yang sangat kecil apabila dibandingkan dengan luasnya seluruh wilayah negeri muslim yang lain.

Tapi miris, tak satu pun di antara negeri-negeri muslim yang besar dan kuat ini yang benar-benar serius membantu rakyat Palestina berperang menghadapi penjajah zionis..

Bila dianalogikan, penjajahan zionis terhadap Palestina ibarat seorang adik yang sedang disiksa oleh segerombolan preman bertubuh besar, dipukuli, ditendang, dilempari terus menerus hingga luka luka, berdarah-darah dan tak berdaya. Namun saudara-saudara itu hanya menonton dan malah sibuk menawarkan obat – obatan dan makanan kepada si adik. Ngobrol, berunding sambil melihat luka – luka dan memar tersebut.

Dalam kondisi ini seharusnya mereka membela adiknya dengan jalan membalas dan memukul orang yang memukul adiknya itu. Menghantam dan mengusir para preman itu dengan kekuatan yang mereka punya? Begitulah  analogi sederhana apa yang dihadapi saudara kita di Palestina.

Tentunya kita melihat bagaimana sengsaranya nasib rakyat Palestina, terutama kaum wanita dan anak-anak. PBB melaporkan 100 anak Palestina meninggal dunia atau terluka di Gaza setiap hari sejak perang Israel dimulai kembali. 1.100 anak ditangkap tanpa alasan yang jelas dan 39.000 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya seperti ditulis terkini.id (5/4/2025).

Sungguh tidak terbayangkan, bagaimana mereka menjalani kehidupan selanjutnya. Hal utama yang harus kita pertanyakan dalam diri kita adalah apa yang akan disampaikan mereka kepada Allah SWT di Yaumil akhir kelak tentang lemahnya kita saat mereka dihabisi oleh Israel? Adakah di antara kita yang masih tak peduli dengan kondisi mereka? Adakah yang masih merasa ini bukanlah urusan kita karena berbeda negara ?

Bukalah mata hati. Sadarlah segera, karena nasib kita di yaumil akhir tengah dipertaruhkan. Semoga Allah SWT mengampuni kita.

Perjalanan perang ini sepertinya tidak ada kemajuan dan penyelesaian. Negeri- negeri islam hanya mengecam dan mengecam tanpa aksi nyata yang benar-benar serius untuk membantu Palestina. Pengiriman obat-obatan dan makanan memanglah diperlukan namun yang terpenting adalah menjadikan Palestina merdeka dari penjajahan dan genosida zionis  Israel.

Pertanyaannya adalah mengapa penjajah Israel dan para sekutunya masih bercokol di tanah Palestina sampai detik ini? Mengapa para penguasa muslim masih saja tak mau mengambil langkah berani menghadapi Israel? Masihkah umat Islam dunia termasuk Indonesia hanya diam menunggu datangnya masa kebangkitan Islam?

Israel berambisi merealisasikan Israel Raya di tanah Syam yang meliputi wilayah Palestina, Yordania, Lebanon dan Suriah. Dari satu langkah ini mereka akan bisa menapaki langkah selanjutnya untuk menguasai seluruh wilayah Islam, atau bahkan menguasai seluruh dunia.

Sudah pasti mereka tidak mau hengkang dari tanah Palestina. Ini adalah agenda besar Amerika. Maka tak heran Amerika menjadi pemasok terbesar berbagai kebutuhan perang Israel untuk menghabisi Palestina.

Ideologi kapitalis yang mereka agungkan menempuh berbagai macam cara untuk mendapatkan keuntungan. Tak ada istilah halal-haram, benar atau salah. Prinsip mereka adalah mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya untuk memuaskan hawa nafsu. Maka tak heran, kebrutalan yang mereka tunjukkan di hadapan dunia tak membuat mereka malu.

Lalu, kenapa para pemimpin negeri muslim tidak membantu Palestina menghadapi Israel? Di sinilah pentingnya kita memahami sejarah.

Sejak runtuhnya pemerintahan Utsmani, wilayah kekuasan Islam dibagi-bagi oleh Inggris, Perancis, Yunani dan Rusia. Maka, umat Islam mulai dipisahkan oleh batas-batas negara yang dibuat oleh negara-negara tersebut. Selanjutnya ditanamkanlah faham sekulerisme dan nasionalisme di tengah kaum muslimin. Sehingga ikatan aqidah yang kokoh perlahan mulai putus digantikan dengan ikatan kebangsaan.

Para pemimpin muslim juga dipilih berdasarkan kriteria yang sesuai dengan maunya sang penguasa. Maka tak heran kalau kenyataan yang kita lihat hingga hari ini para pemimpin di negeri- negeri muslim seperti boneka yang hanya patuh dan tunduk atas perintah pemilik kekuasan tertinggi. Mereka sudah tidak perduli dengan ikatan aqidah yang diajarkan Rasulullah SAW.

Lantas, siapakah yang bisa diharapkan selain kita, umat Islam yang masih merasakan sakitnya saudara kita di Palestina? Kitalah yang seharusnya bergerak dan terus berjuang untuk menegakkan kembali persatuan umat Islam di seluruh dunia.

Umat Islam di Palestina tengah menanti Salahuddin berikutnya yang akan membersihkan dunia Islam dari para penguasa yang berkhianat, seperti yang pernah mereka lakukan di masa lalu, yaitu berpihak kepada musuh-musuh Islam.

Umat Islam di Palestina tengah menantikan Salahuddin selanjutnya yang mampu menyatukan seluruh umat Islam di dunia untuk mendukungnya menghadapi para pemimpin pengkhianat dan mengalahkan musuh-musuh Islam, merebut kembali tanah suci Palestina.

Sampai kapan kita mau dikotak-kotakkan dalam garis batas negara? Seharusnya kita bersatu dalam satu kepemimpinan Islam dunia yang dipimpin oleh seorang khalifah. Karena hanya dengan adanya khalifah maka umat Islam berada dalam satu komando untuk berjihad melawan para musuh Islam di Palestina. Wallahu a’lam bisshawab.[]

Comment