RADARINDONESIANEWS.COM, YOGYAKATA – Beberapa hari yang lalu, Daerah Istimewa Yogyakarta dikejutkan dengan adanya fenomena alam berupa siklon tropis “Cempaka”, yang mengakibatkan hujan dengan intensitas lebat di wilayahYogyakarta dan sekitarnya yang mengakibatkan banjir dahsyat
Berdasarkan hasil analisis BMKG, curah hujan di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada 28 November 2017 yakni 286 mm/hari. Curah hujan di atas 150 mm/hari tersebut merupakan curah hujan kategori ekstrem..
Curah hujan yang tinggi disertai angin kencang tersebut kemudian mengakibatkan kerusakan parah baik karena disebabkan banjir, longsor hingga pohon yang tumbang akibat diterpa angin kencang.
Tercatat ribuan rumah, ribuan hektar lahan pertanian, dan fasilitas publik terendam banjir. Selain itu, puluhan orang meninggal dunia dan aktifitas masyarakat lumpuh total di sebagian daerah di Yogyakarta dan sekitarnya. Kerugian dan kerusakan ekonomi akibat siklon tropis.
“Cempaka” ini pun diperkirakan mencapai triliunan rupiah. Hujan deras selama tiga hari berturut-turut ini juga mengakibatkan sungai Oyo meluap. Akibatnya jembatan jalur utama di desa Bunder, Kecamatan Patuk, kabupaten Gunungkidul yang menghubungkan Yogyakarta dan kota Wonosari lumpuh. Jembatan- jembatan kecil lainnya pun banyak yang putus diterjang derasnya banjir.
Selain itu bibir sungai banyak yang mengalami abrasi, pohon-pohon banyak yang tumbang, dan tebing-tebing banyak yang mengalami longsor. Tak terkecuali di sepanjang daerah aliran sungai Oyo di dusun Banyu Urip, desa Jatimulyo, kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul.
Kondisi lingkungan paska meluapnya sungai Oyo di desa Jatimulyo terhitung cukup parah. Padahal di kawasan ini terdapat banyak mata air yang selalu mengalir, walaupun pada musim kemarau panjang. Sumber air inilah yang pada kesehariannya digunakan oleh masyarakat desa Jatimulyo untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Salah satu sumber air yang terdampak oleh luapan sungai Oyo ada Sendang Banyu Urip, yang selain merupakan mata air juga merupakan cagar budaya yang harus dilestarikan. Di tempat inilah Sunan Kalijaga memandikan Sunan Geseng, yang kemudian bisa memberikan kehidupan kepada Sunan Geseng setelah mati suri. Inilah asal-usul nama Banyu Urip, yang berarti air (yang memberikan) kehidupan.
Kerusakan ekosistem di sepanjang sungai Oyo yang mengalir melewati desa Jatimulyo inilah yang mendorong Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) The Green Palm (TGP) Universitas Tehnologi Yogyakarta (UTY) bergandengan tangan dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Setya Tirta Watu Lumpang menyelenggarakan kegiatan “Konservasi Daerah Aliran Sungai Oyo dan Cagar Budaya Sendang Banyu Urip”, pada hari minggu di dusun Banyu Urip, desa Jatimulyo, kecamatan Dlingo, kabupaten Bantul, DIY. Ragam
acara dalam kegiatan ini antara lain, syukuran, kirab budaya, Kesenian, penanaman Pohon di sepanjang bantaran Sungai Oyo, bersih Sungai Oyo.
Tujuan utama dari kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan Cagar Budaya Sendang Banyu Urip dan mengembalikan fungsi lahan di sepanjang pinggiran sungai Oyo, desa Jatimulyo. Sehingga pada saat musim hujan, dapat mencegah abrasi dan tanah longsor. Dan pada saat musim kemarau bisa menjaga mata air dan ketersediaan air tanah di sekitar kawasan Banyu Urip.
Selain Mapala The Green Palm UTY dan Pokdarwis Setya Tirta Watu Lumpang, kegiatan ini juga melibatkan warga desa Jatimulyo dan dihadiri oleh Wakil Bupati Bantul, H. Abdul Halim Muslih.
Dalam sambutan nya, Ketua Mapala The Green Palm, Muhammad Abdullah Patola, menyampaikan bahwasanya “kegiatan ini diselenggarakan untuk mengembalikan fungsi bantaran Sungai Oyo di desa Jatimulyo yang mengalami kerusakan akibat di terjang banjir badai Cempaka, dan berharap kegiatan ini bisa bermanfaat bagi kelestarian alam di sekitar sungai Oyo dan kelangsungan hidup masyarakat sekitar”.
Sementara itu ketua Pokdarwis Setya Tirta mengungkapkan bahwa “Sendang Banyu Urip adalah cagar budaya yang mempunyai nilai historis dan ekologis yang tinggi, sehingga harus benar-benar terjaga dan terpelihara dengan baik. Untuk itu Pokdarwis Setya Tirta berkeinginan untuk mengembangkan Sendang Banyu Urip sebagai wisata religi dan Sungai Oyo sebagai wisata air, agar pemeliharaan di kawasan ini bisa lebih tertata dan bermanfaat bagi masyarakat desa Jatimulyo”.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Bantul menyatakan, sangat mendukung kegiatan yang diprakarsai oleh Mapala The Green Palm dan Pokdarwis Setya Tirta ini, dan berpesan agar alam dan seisinya harus dijaga keseimbangan dan kelestarian nya agar bisa bermanfaat bagi masyarakat dan generasi yang akan datang.
Setalah memberikan sambutan, Wakil Bupati Bantul melakukan penanaman pohon secara simbolis yang kemudian di ikuti penanaman pohon oleh seluruh peserta kegiatan Konservasi Daerah Aliran Sungai Oyo dan Cagar Budaya Sendang Banyu Urip di sepanjang bantaran Sungai Oyo, desa Jatimulyo.
Semoga dengan adanya penanaman pohon dan bersih sungai ini dapat menginspirasi dan memotivasi masyarakat di kawasan lain di sepanjang sungai Oyo, baik di kabupaten Bantul maupun di Kabupaten Gunungkidul, untuk melakukan kegiatan yang sama, maupun yang jauh lebih baik daripada yang kami lakukan.
Dan tak lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah mewujudkan terselenggaranya kegiatan ini, termasuk media massa yang turut berperan serta dalam menyebarkan semangat untuk menjaga kelestarian alam dan membangun kembali Daerah Istimewa Yogyakarta yang kita cintai semua.(HD/ARIS)












Comment